Jakarta, Jurnalpublik.com – Memahami sebuah pendidikan, sebuah pengalaman sebagai pembelajaran, terkadang ditangkap dengan kacamata yang berbeda.

Saya belajar tentang pengalaman, tentang perjuangan, tentang kesungguhan, tentang kebersamaan, tentang pertikaian, tentang kembali berangkulan, tentang kembali berdiri sendiri, tentang pertemanan yang tiada akhir, tentang kerasnya jalan, tentang kerasnya teman, tentang kerasnya musuh, tentang kerasnya politik, tentang dunia, disini, di KAMMI, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.

Sebuah perkumpulan mahasiswa dari berbagai kampus yang berjuang membina dan menata diri untuk siap terjun menata bangsa dan negara.

Ditambah dengan kata “Muslim” menunjukan bahwa ada ciri yang dibawa dalam gerakan ini.

Pembelajaran “Kekerasan” Dalam Konteksnya

Ketika saya masuk ke KAMMI saya bahkan bukanlah muslim yang pantas disebut sebagai simbol pembawa Islam, saya masih belajar.

Dan satu pembelajaran yang saya dapat di KAMMI bahwa “kekerasan” dalam konteksnya merupakan hal yang perlu dilakukan.

Memahami pembinaan fisik ternyata tidak semua orang sepakat dengan hal tersebut, belakangan ini bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa “kekerasan” dalam pembinaan fisik adalah sebuah penyiksaan.

Sebagian berpedapat itu adalah sebuah balas dendam senior kepada junior.

Saya berpendapat lain.

Pembinaan fisik, “Kekerasan” dalam konteksnya, menurut saya boleh dilakukan.

Konteks “kekerasan” dalam pembinaan adalah sebuah tempaan untuk mempersiapkan setiap anak didik ataupun juniornya agar ketika nanti menghadapi dunia yang lebih keras menjadi pribadi yang siap.

Saya ingin menyebutkan satu contoh konteks “kekerasan” yang dibolehkan dalam Islam.

“Kekerasan” dalam konteks Islam adalah perihal orangtua yang boleh memukul anaknya yang masih berusia 10 tahun, ketika sang anak tidak melaksanakan sholat.

Kita bisa membayangkan, anak yang masih berusia 10 tahun, masih sangat kecil, jatuhpun mungkin masih menangis, ini malah ada perintah dari Allah untuk memukul.

Allah memberitahukan kita, bahwa “kekerasan” dalam konteksnya boleh dilakukan.

Pembelajaran “Kekerasan” Dalam Konteks ke-KAMMI-an

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa “kekerasan” dalam konteksnya saya pelajari di KAMMI, dan “kekerasan” yang dipergunakan pada saat pembinaan tersebut menurut saya boleh dilakukan, bahkan harus dilakukan, karena kita butuh pembinaan, kita butuh pembiasaan, kita butuh persiapan, kita butuh pelatihan.

Salah satu bentuk pelatihan dan pembinaan fisik adalah dilakukan di alam, dengan cara turun ke alam.

Alam adalah bentuk paling dekat sebagai bentuk pembelajaran kehidupan, kepada siapapun, laki-laki ataupun perempuan, karena pembelajaran tidak akan sempurna kita dapat dengan hanya membaca buku ataupun diskusi.

Pembelajaran fisik perlu dipraktekan, perlu dilatih, perlu dibiasakan.

Dan pembelajaran fisik di alam adalah cara paling tepat dalam mempraktekan “kekerasan” dalm konteksnya.

Entah itu dengan menghardik, melepas setiap anak berjalan sendirian di alam, memerintahkan untuk memanjat pohon, bergelayut, merangkang, berguling, berlari, semua bisa dilakukan di alam, semua bisa dibina di alam.

Begitupun dengan anak-anak KAMMI sekarang ini.

Saya harap pembinaan fisik, “kekerasan” dalam konteksnya tidak hilang di KAMMI, karena di DM 2 itulah, pembinaan awal pembentukan KAMMI yang sebenarnya, di pembinaan fisik.

Pembinaan di DM 2 menurut saya adalah kunci pembentukan kader KAMMI yang sesungguhnya.

Di DM 2 tidak hanya terdapat pembentukan otak kita dengan logika, tapi juga pembentukan fisik. Pembinaan yang diisi dengan narasi- narasi yang pernah berkembang, narasi kekinian, narasi keislaman, juga pengaplikasian di alam merupakan pembentukan pembinaan yang tepat, pembentukan insan yang sempurna, sebagai pemuda bangsa.

Pembinaan fisik di dalam DM 2 merupakan penilaian paling penting dari keberhasilan pembinaan KAMMI.

Karena pembinaan fisik merupakan hasil paling jelas yang didapat dari sebuah pembinaan dan pembelajaran. Sebuah hasil yang paling konkret.

Saya berharap semoga pembelajaran “kekerasan” dalam konteksnya terus tumbuh didalam KAMMI, karena sekali lagi, kita perlu pembinaan, kita perlu pembiasaan, kita perlu pelatihan untuk mendapatkan pembelajaran.

Terakhir, saya juga berharap semoga juga pembelajaran “kekerasan” dalam konteksnya yang mulai dicibirkan orang bisa digaungkan kembali oleh anak-anak KAMMI.

Selamat Milad KAMMI yang ke-22, semoga setiap insan KAMMI menjadi pemuda yang bisa diandalkan di dalam kelas, di meja diskusi dan di lapangan.

Oleh: Lenny Hamdi (kader KAMMI 2001, Pengurus Nasional KAKAMMI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.