“Didasari oleh keprihatinan mendalam terhadap krisis nasional yang melanda negeri ini dan didorong tanggung jawab moral terhadap penderitaan rakyat yang masih terus berlangsung, serta itikad baik untuk berperan aktif dalam proses perubahan dan perbaikan, maka kami segenap Mahasiswa Muslim Indonesia mendeklarasikan lahirnya: Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Selanjutnya, KAMMI menempatkan diri sebagai bagian tak terpisahkan dari rakyat dan akan senantiasa berbuat untuk kebaikan bangsa dan rakyat Indonesia.”

Demikian, dokumen “Deklarasi Malang” yang menandai berdirinya KAMMI pada 29 Maret 1998 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Fahri Hamzah dan Sekretaris Umum Haryo Setyoko.

Menjelang mundurnya Jenderal Besar Soeharto, sang penguasa Orde Baru pada 21 Mei 1998, KAMMI terlibat aktif dalam gerakan jalanan untuk mendesak reformasi total. Bersama Amien Rais, seorang intelektual Muhammadiyah, KAMMI menjalin aliansi strategis untuk mendesak Pak Harto. Aliansi strategis itu terjadi dengan pertimbangan bahwa aksi mahasiswa akan lebih lengkap jika ada legitimasi dari kalangan intelektual.

Sejak lama, Amien Rais sudah bersuara lantang kepada Pak Harto. Intuisi politiknya begitu tajam. Dia mencium, bahwa rezim ini sudah berusia tua, dan tak lama lagi akan jatuh. Maka, suara keras Amien–sebagai intelektual publik–pun bertemu dengan kekuatan massa jalanan dari KAMMI.

Kedekatan ini sesungguhnya terjadi karena banyak faktor. Salah satunya, karena Amien memiliki mengenal dekat kelompok Ikhwanul Muslimin, Mesir. Disertasinya di Universitas Chicago (1981), berjudul “The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise, and Resurgence”. Di situ, dia membahas detail soal Ikhwanul Muslimin sejak kelahiran, keruntuhan, dan kebangkitan kembali.

Organisasi KAMMI yang dekat pada kelompok Tarbiyah, sebuah jemaah Islam Indonesia yang mengadopsi pemikiran dan gerakan Ikhwan menemukan titik-temu dengan Amien Rais. Kedekatan ini, yang juga dipengaruh oleh “kesamaan ideologis dan issu” (Rahmat & Najib, 2001) sangat penting dan menentukan dalam chemistry antara dua unsur tersebut. Seorang tokoh vokal dengan latar belakang kuat Muhammadiyah, bertemu dengan para anak muda yang awalnya hanya bergerak dalam masjid-masjid kampus (terutama kampus negeri) di Indonesia.

Pasca Suharto jatuh, arena politik Indonesia berjalan tidak stabil, setidaknya jika dibandingkan dengan perkembangan 10 tahun terakhir. B.J. Habibie, presiden pasca reformasi, hanya berkuasa 512 hari (21 Mei 1998-20 Oktober 1999); Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (20 Oktober 1999-23 Juli 2001); dan Megawati Soekarnoputri (23 Juli 2001-20 Oktober 2004). Semuanya tidak ada yang pas 5 tahun.

Pasca Mega, kepemimpinan nasional Indonesia berjalan lebih stabil dalam 5 tahunan. Susilo Bambang Yudhoyono, jadi presiden selama dua periode (20 Oktober 2004-20 Oktober 2009 dan 20 Oktober 2009-20 Oktober 2014) dan Joko Widodo juga terpilih selama dua periode (20 Oktober 2014-20 Oktober 2019 dan 20 Oktober 2019-sekarang).

Data ini menunjukkan bahwa gejolak politik nasional kita telah mulai stabil setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Selain karena adanya kesadaran tentang suksesi kepemimpinan yang periodik, juga karena semakin membaiknya struktur sosial-politik Indonesia yang dibarengi dengan akomodasi politik yang baik di antara partai politik.

Dari periode 1998 sampai 2020, gerakan KAMMI lebih banyak bersifat reaktif ketimbang konseptual. KAMMI terlihat lebih banyak bereaksi terhadap kebijakan pemerintah tanpa menawarkan opsi kebijakan yang patut diterima oleh pemerintah. Artinya, sejauh ini gerakan KAMMI masih berkutat pada “aksi jalanan” atau “parlemen jalanan” ketimbang menjadi “agen konseptual” atau “gerakan intelektual” dalam arti sesungguhnya.

Memang, tidak mudah untuk menawarkan konsep, apalagi umumnya status mahasiswa dibatasi oleh waktu tertentu, dan apalagi telah jadi alumni seseorang juga dituntut untuk melangkah pada jenjang kehidupan profesional demi mobilitas vertikal. Maka, berharap tawaran konsep yang utuh, menyeluruh, dalam,terang, dan integratif rasanya sangat sulit.

Menyadari kesulitan itu, maka gerakan KAMMI sejauh ini lebih banyak bergelut pada tiga hal. Pertama, pertumbuhan jumlah kader; kedua, kajian rutin; dan ketiga, menjaga ritme aksi jalanan. Pertumbuhan kader dicapai dengan cara perekrutan anggota yang disusul dengan berbagai unsur kaderisasi, termasuk Daurah Marhalah I, 2, dan 3. Kajian rutin digalakkan untuk mengasah potensi intelektual-spiritual kader. Sedangkan aksi jalanan dilakukan secara kontekstual, terutama issu nasional (umumnya sosial-politik) dan internasional (umumnya advokasi dunia Islam).

Motto KAMMI “Aksi Kuat, Ibadah Taat, Prestasi Hebat” menjelaskan itu semua. Motto ini secara umum sangat baik karena memadukan tiga potensi dalam diri manusia, yaitu fisik (aksi kuat), spiritual (ibadah taat), dan intelektual (prestasi hebat). Tiga potensi ini selaras dengan perkembangan kecerdasan yang tidak lagi berfokus pada intelektual, tapi mencakup pada ketiga ranah tersebut.

Kata “kesatuan” dalam nama KAMMI dapat diartikan sebagai integrasi yang utuh, tidak terpecah-pecah, terpadu dalam keanekaragaman. Pada awalnya, gerakan KAMMI terlihat lebih utuh karena memiliki “musuh bersama”, yaitu reformasi total dengan salah satu tuntunan turunnya Soeharto. Tapi ketika negeri ini telah mulai stabil, gerakan ini–yang juga hampir sama dengan gerakan lainnya–mengalami masa stagnasi. Roda gerakan berjalan apa adanya, dan pemimpin terpilih tidak menunjukkan prestasi nasional yang melampaui kapasitasnya sebagai calon pemimpin nasional.

Artinya, ada semacam perlambatan kaderisasi intelektual di tubuh KAMMI yang membawa organisasi ini sekedar dikenal sebagai aksi jalanan, tapi minim tawaran yang yang utuh untuk rezim berkuasa. “Tawaran utuh” ini sepertinya hanya akan bisa hadir jika KAMMI tidak lagi tergantung seutuhnya pada “landlord”-nya, yaitu jemaah Tarbiyah. Ketergantungan yang sangat dengan konsep “sami’na wa atha’na” di satu sisi sangat efektif dalam solidaritas kelompok, tapi di sisi lain–jika tidak diatur sedemikian rupa–dapat menumpulkan intelektualitas dan hanya menjadikan kader–yang kelak menjadi alumni–sebagai warga negara di kelas orang biasa-biasa saja. Dan, jika itu terjadi, narasi muslim negarawan selanjutnya hanya tinggal nama, bahkan mungkin sebaiknya dilupakan.

Dalam kondisi dunia yang berubah sangat cepat ini, KAMMI perlu melakukan akselerasi kapasitas kader untuk berkreasi dalam bidang-bidang yang mereka minati. Semua kader harus harus secara mandiri mengoptimalkan potensi dirinya kemudian menjalin kolaborasi lintas-batas seluas-luasnya. Apa yang mereka pahami sebagai “Islam rahmatan li’alamin” perlu diwujudkan dalam bentuk kontribusi positif dan progresif dalam lingkup yang luas. Mereka tidak lagi harus khawatir akan “terwarnai” oleh orang lain; sebaliknya harus “mewarnai” lingkungan dan struktur dengan bekal kaderisasi berbasis 3 kapasitas dalam motto tadi.

Maka, KAMMI harus bangun dan bertransformasi diri menjadi organisasi dengan penguatan kader dalam kapasitas vertikal dibarengi dengan perluasan jaringan tidak hanya di lokal dan nasional, tapi juga regional dan internasional.

Selain itu, tampak ada disparitas antara KAMMI dan alumni KAMMI. Alumni KAMMI terlihat cukup elitis, dan tidak punya kontribusi signifikan terhadap organisasi yang telah membesarkan mereka. Secara umum, alumni terlihat tidak efektif memadukan segenap resources untuk menjadi kekuatan yang mendorong KAMMI agar tampil lebih progresif.

Di sisi lain, KAMMI ingin “sepenuhnya Indonesia” terlihat sekedar puas dengan satu dua kali audiensi, diskusi, dan foto bareng yang diunggah di media sosial. “Kepuasan pasca mengunggah foto” secara umum menjadi penyakit manusia modern. Puasnya hanya di situ, tapi ketika ditanya apa makna penting dan kontribusi terukur foto tersebut untuk organisasi dan bangsa, umumnya hanya ada jawaban standar, jauh dari kedalaman.

Langkah KAMMI yang beberapa tahun terakhir terlihat “biasa-biasa saja” harus direformasi dengan langkah-langkah stratejik dengan cara akselerasi gerakan dari sekedar gerakan aksi menjadi gerakan aksi plus intelektul yang kuat. Sejalan dengan itu, penting sekali bagi KAMMI untuk memperkuat narasinya dengan perspektif mendalam yang dapat diperoleh dari berbagai sumber. Makin intelektual KAMMI makin progresif juga kontribusinya untuk bangsa.

Depok, 29 Maret 2020
Oleh: Yanuardi Syukur

* Mantan Ketua Umum KAMMI Komisariat Unhas, Koordinator Departemen Kajian Strategis KAMMI Daerah Sulsel, dan Ketua Departemen Perguruan Tinggi Keluarga Alumni-KAMMI; Founder Rumah Produktif Indonesia.

* Selamat milad ke-22 untuk KAMMI, terus maju untuk Indonesia!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.