Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Judul tersebut tersebut barangkali multitafsir. Tetapi ingin saya tegaskan, bahwa judul di atas ingin mengajak kita semua untuk peduli dengan sampah.

Sampah menjadi persoalan pelik hampir di semua daerah kota kota besar. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Meski begitu, beberapa negara maju di dunia sudah menerapkan sistem pengolahan sampah yang tidak hanya jelas, tapi juga tegas. Indonesia sudah mulai bergerak ke arah sana, tapi belum tegas. Contohnya Jogja, dalam penanganan sampah masih setengah setengah.

Di tahun 2019, Jogja sendiri mengalami kejadian Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan ditutup. Akibatnya sampah di Jogja menumpuk. Alasan penutupan, selain protes dari masyarakat setempat, TPST Piyungan yang memiliki luas 14,5 hektare dan mulai beroperasi pada 1995 itu sudah mulai kelebihan kapasitas.

Melihat fakta tersebut, harusnya masyarakat Jogja bisa mengurangi bahkan mendaur ulang sampah terutama sampah plastik. Mulai dari mana? Ya bisa kita mulai dari rumah kita sendiri.

Belajar dari Jerman

Jerman adalah negara dengan tingkat daur ulang sampah terbaik di dunia berdasar data dari Eunomia, yang dikutip oleh World Economic Forum. Di Jerman, persentase sampah yang diolah kembali sudah di atas 50 persen.

Sistem pengolahan dan pemilahan yang dilakukan Jerman sebenarnya sederhana namun mendetail. Kotak pembuangan sampah ‘warna-warni’ yang ada di sekitar daerah tempat tinggal, mendorong pemilahan dilakukan oleh tiap-tiap individu atau setidaknya dari rumah masing-masing. Kotak pembuangan ini punya pengkhususannya sendiri untuk tiap warnanya.

Sementara khusus, untuk sampah botol plastik, di Jerman dikenal istilah ‘Pfandflaschen’. Secara harfiah istilah ini dapat diartikan sebagai pengembalian botol. Minuman dalam botol plastik diperlakukan dengan sistem jaminan. Jadi setelah minumannya habis, botol dikembalikan sebuah mesin deposit yang umum ditemukan di pasar swalayan dan nantinya konsumen akan mendapat kembali uang jaminannya.

Bali dan Surabaya Sudah Memulai

Waktu ada acara pertemuan relawan se-Indonesia yang diadakan BNPB, dalam berbagai kesempatan belanja di swalayan/toko di Bali, Saya melihat Bali sudah tidak menggunakan kertas plastik lagi. Pilihannya membeli tas yang bisa dipakai berkali-kali atau membawa dengan tangan kosong.

Surabaya juga bisa menjadi salah satu contoh kota yang terdepan soal inovasi membudidayakan sampah.

Pemerintah Kota Surabaya sudah membangun 28 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) dengan fasilitas pengolahan sampah dalam rangka memangkas ongkos pembuangan sampah ke TPA. Dalam operasionalnya, Pemkot Surabaya melibatkan kontraktor yang diikat selama 20 tahun.

Di sisi lain, sampah yang pada akhirnya terkumpul di TPA juga dimanfaatkan. Sebab Surabaya punya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang ada di Benowo. Fasilitas ini bisa menghasilkan energi 1-2 MW tahun 2016 lalu.

Namun senjata utama Pemerintah Kota Surabaya justru ada di keterlibatan masyarakat dalam mengelola kebersihan. Dibangunnya sejumlah bank sampah di kelurahan, RT, dan RW diimbangi dengan edukasi ke masyarakat untuk memilah berdasar kategori, organik, dan anorganik.

Dampaknya sendiri terbilang positif. Jumlah penduduk Kota Surabaya yang mencapai 3,07 juta jiwa hanya memproduksi 1.600 ton sampah sehari.

Budaya partisipatif dalam pengolahan sampah di Surabaya tidak lepas dari ekosistem yang dibuat di sana. Salah satu yang menarik adalah Suroboyo Bus, yaitu transportasi ramah lingkungan yang mensyaratkan pembayaran ongkos bus dengan sampah plastik.

Tidak aneh kalau Kota Surabaya berhasil meraih Adipura Kencana, penghargaan tertinggi bagi kota yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan perkotaan selama minimal tiga tahun berturut-turut. Belum ada kota lain yang pernah mendapat penghargaan ini.

Kota kota lain bisa mencontoh Bali dan Surabaya dalam pengelolaan sampah, jangan sampai masalah sampah ini menjadi bom waktu. Dimulai dari rumah kita, lingkungan, dan seterusnya.[]

Nb. Beberapa data di tulisan diambil dari media online Katadata

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.