Jakarta, Jurnalpublik.com – Disalah satu grup whatsApp saya masuklah satu pesan tulisan yang isinya seputar kekecewaan penulis terhadap presiden Joko Widodo yang bacaannya hanya seputar komik, komik yang hanya fiksi lalu difilmkan.

Tapi saya berfikir lain, menulis cerita komik itu tidak mudah menurut saya, urutan kejadian, penyebab utama, akibat yang ditimbulkan, pemain utama, sampai pemain yang hanya lewat, pesan utama sampai pesan selipan, itu perlu berfikir keras dan bekerja keras.

Saya menghargai para pencipta, pencipta apapun, karena pencipta punya narasi yang indah, biasanya.

Kembali membaca pesan whatsApp sampailah saya pada artikel tentang Virus Corona, saya lalu teringat film Indonesia 2 tahun lalu, Aruna dan Lidahnya.

Aruna dan Lidahnya adalah film tentang percintaan pada umumnya, lucu dan menarik, tapi selipan pesan dalam pekerjaan yang dilakukan Aruna menurut saya lebih menarik lagi. Ada pesan dalam film tersebut bahwa bisnis medis itu kejam, bahkan dikatakan dengan jelas bahwa pekerjaannya dibidang medis yang menyebarkan ketakutan demi uang.

Dalam film Aruna dan Lidahnya virus yang menjadi pesan selipannya adalah H5N1. Saya cukup tercengang dengan gambaran-gambaran yang ditampilkan dalam film tersebut bahwa semua ketakutan yang disebarkan media terkait virus H5N1 adalah rekayasa demi uang.

Selesai menonton saat itu, saya tidak bisa mengambil kesimpulan apakah film itu fiksi atau tidak.

Dan kini, entah direkayasa atau tidak, kita takut dengan virus Corona.

Saya mencoba mencari tahu, membaca beberapa artikel dan jurnal, lalu sampailah saya pada sebuah screenshoot jurnal tahun 2007 yang dikeluarkan The University of Hongkong terkait Virus Corona, sudah lama sekali ternyata virus Corona ini.

Kalau memang sudah selama itu mungkin obatnya sudah disiapkan. Tapi begitulah kalau tidak salah proses lisensi obat, 25 tahun. Perlima tahun ada proses-proses yang dilalui, beberapa tahun lagi mungkin sudah release obatnya, setelah tes pangsa pasar 5 tahun terakhirnya, sekali lagi, kalau tidak salah. Jadi tunggu saja.

Saya lalu juga teringat jurnal ganja yang dikeluarkan Harvard University, dan juga terbayang kembali di televisi 2017 lalu seorang suami ditangkap karena menanam ganja dibelakang rumahnya untuk mengobati kanker istrinya. Istrinya kalau tidak salah tidak tertolong karena kebun ganjanya sudah dibakar dan sang suami yang harusnya mengurusi istrinya yang sakit kanker dipenjara karena kepemilikan ganja tersebut.

Yah, sepertinya memang bisnis yang kejam.

Oleh: Lenny Hamdi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.