Ilustrasi/ Istimewa

Jakarta, Jurnalpublik.com – Tak bisa dipungkiri bahwa di negeri ini terdapat dua Madzhab atau Aliran Pemikiran Ekonomi yang memiliki peran besar dalam konstelasi pengendali kekuatan kebijakan ekonomi di negeri ini.

Antara kedua aliran pemikiran tersebut saling bersaing adu kekuatan satu sama lain untuk meraih dukungan suara rakyat agar dapat mengambil peran posisi strategis dengan cara ber-fusi melebur kedalam tubuh partai-partai peserta pemilu.

Kedua Madzhab atau aliran pemikiran tersebut adalah Madzhab aliran Kapitalisme (Neolib) dan yang satu lagi Madzhab aliran Sosial Demokrat (Sosdem).

Dalam berbagai forum diskusi strategis dan kajian akademis, antara kedua Madzhab tersebut secara teori akademis sangat berbeda pandangan bahkan bertolak belakang satu sama lain dalam memandang tata cara mengelola Negara.

Kedua aliran ini sama-sama terlahir dari Eropa yang mulai berkembang di abad ke 18 Masehi. Pemikiran Madzhab Kapitalisme memandang bahwa Kapital adalah modal utama penggerak ekonomi. Oleh karenanya kekuatan Kapital menjadi syarat mutlak untuk mengelola Negara.

Madzhab Kapitalisme ini terus berkembang seiring perkembangan zaman sejak abad ke 18 yang terus berkembang menjadi kapitalisme modern, liberalisme dan hari ini telah bertransformasi menjadi Madzhab neo-liberal (Neolib).

Sedangkan aliran Sosial Demokrat (Sosdem) yang juga terlahir dari Eropa pada abad ke 18 karena ekses menolak faham Kapitalisme yang melahirkan Kolonialisme masyarakat Eropa.

Ekses dari kondisi Kolonialisme tersebut masyarakat Eropa terbagi dalam kelas raja atau para pemilik Kapital dan “hamba” yakni kaum buruh (Proletar). Dari kondisi inilah Sosdem sebagai penganut pemikiran Marxisme hadir dalam rangka membela rakyat kecil dan kaum buruh.

Alih-alih menentang kapitalisme dan imperialisme dengan mengedepankan program yang pro wong cilik. Tetapi dalam prakteknya, aliran Sosialisme (Sosdem) ini tidak memiliki pengaruh besar dalam perjuangannya bagi kaum buruh. Sampai hari inipun jurang perbedaan antara pemilik Kapital dan kaum buruh justru semakin tinggi.

Yang uniknya diantara kedua Madzhab ini yang notabene secara teorinya seharusnya diantara keduanya saling bertolak belakang, namun anehnya dalam dunia politik praktis justru kedua aliran ini seringkali saling berkolaborasi satu sama lain karena tuntutan perolehan suara rakyat dalam pemilu.

Bahkan tak jarang diantara keduanya terkadang justru saling memanfaatkan satu sama lain selagi ada “kepentingan” yang sama untuk memenangkan suara mayoritas.

Bila di ibaratkan sebuah kapal yang sedang berlayar, kapal tersebut dapat berjalan sempurna bila menggunakan mesin kapal.

Idealnya ketika kapal menggunakan Mesin berjenis “Sosdem” maka seharusnya mesin berjenis “Neolib” masuk gudang dan tidak diaktifkan.

Namun anehnya pada kenyataannya justru ketika Mesin berjenis Sosdem dipasang, tetapi mesin berjenis Kapitalisme tetap saja berjalan.

Ironinya lagi, mesin berjenis Sosdem ini justru hadir memposisikan diri sebagai montir mesin yang selalu sigap membenahi bila mesin kapal “Neolib” sedang mengalami kerusakan mesin.

Hal ini bisa terjadi karena pada realitas nya antara Sosdem dan Neolib keduanya tak ada perbedaan menyolok. Perbedaan hanya terjadi di tataran teori semata, namun pada prakteknya, wacana tersebut telah bias, hanya tinggal slogan untuk mencari dukungan suara rakyat..

Maka tak heran bila pada akhirnya janji hanya tinggal janji. Sosdem yang pada tataran teorinya hadir untuk membela wong cilik tetapi justru menjadi montir yang siap membenahi mesin Kapitalisme sang Neolib.

Kesimpulannya, diantara kedua paham ini dalam parktisnya tidak mengandung perbedaan satu sama lain, walhasil keduanya bagaikan mesin kapal beserta montirnya yang selalu sigap membenahi mesin bernama Kapitalisme ini.

Pertanyaan menggelitik-pun muncul, lalu kira-kira siapakah pemilik kapal itu?

Pemiliknya adalah kaum feodal, karena memang sejak awalnya mesin Kapitalisme ini di design untuk memakmurkan kaum feodal asing sang pemilik kapal yaitu tangan-tangan Korporasi asing yang bermain cantik mengendalikan kapal dan montirnya.

Negeri ini terlalu besar, bila dipaksakan menggunakan mesin berjenis Kapitalisme untuk para pemilik modal semata. Karena Mesin Kapitalisme ini di design bukan untuk memakmurkan rakyat sebagai penghuni Kapal. Tetapi Kapitalisme di design untuk memakmurkan pemilik Kapital.

Sedangkan Sosialisme tak ubahnya bagaikan montir yang siap menutup kekurangan dan kerusakan sistem pada Sistem Kapitalisme.

Walhasil, jangan pernah berharap kemakmuran ataupun kesejahteraan Rakyat, karena baik itu sistem Kapitalisme ataupun Sosialisme ala Sosdem bukan di design untuk hal itu..

Judul asli: SOSDEM VS NEOLIB? Ah yang Benar, Pura Pura Aja Kali
Hendrajit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.