Jakarta, Jurnalpublik.com – 5 tahun lalu, tagline “Jokowi adalah Kita”, digunakan Joko Widodo menuju Presiden 2014-2019, tapi tampaknya tagline itu tidak bergeser sampai hari ini (20/10/2019), dipelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’aruf Amin 2019-2024.

Bukan saya yang mengatakan hal itu, tapi para sejarawan dan ahli sosial. Ungkapan pemimpin adalah gambaran rakyatnya adalah sebuah kata hikmah yang sering diungkapkan oleh para sejarawan dan ahli sosial. Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi kaidah baku dalam masalah kepemimpinan dan didukung oleh penelitian terhadap sejarah.

Faktanya, hampir semua jama’ah atau kelompok masyarakat itu dipimpin oleh orang yang sesuai dengan kualitas kebaikan masyarakatnya. Jadi, setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya.

Salah satunya saya teringat ketika ramai-ramai kita menshare meme ” I don’t read what I sign“, pada kenyataannya kitapun demikian. Sekian banyak hal yang kita share ternyata bukanlah hal yang kita pahami, bahkan kita tidak membacanya, juga bahkan ketika membahas film yang tidak kita tonton sama sekali, yang penting share saja selama kita setuju.

Juga salah dua yang lain adalah ketika pejabat merendahkan dan tidak perduli dengan rakyatnya, begitupun kita rakyat yang satu tidak perduli dengan rakyat yang lain, ejekan ditebar dimana-mana bagaikan sebuah dakwah.

 

Dan salah tiga yang lain adalah saat kita mengatakan ada pejabat zalim yang tidak perduli dengan luka dan kematian yang dialami orang yang kita dukung, padahal kita pun sama saja, toh kita tidak perduli dengan luka pejabat itu, lantas apa bedanya kita dengan mereka?

Hal ini sama saja, sebagaimana ketika Allah menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya, karena mereka sama seperti Fir’aun. Allah berfirman :

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (Q.S. Az-Zukhruf/43:54).

 

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “al-khafîf (Majmû’al-Fatâwâ, 16/337) berarti orang dungu yang tidak beramal dengan ilmunya, dan ia selalu mengikuti hawa nafsunya.”(Kasyfu al-Khafâ 1/148).

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa kaum Fir’aun adalah orang-orang fasik, oleh karena itu, Allah menjadikan orang yang seperti mereka sebagai penguasa mereka.

Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala. (Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178).

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan,
“Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.”

 

‘Abidatu as-Salmaini berkata kepada Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah gerangan Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, kenapa semua rakyat tunduk dan patuh kepada keduanya? Wilayah kekuasaan yang semula lebih sempit dari satu jengkal lalu meluas dalam kekuasaan mereka? Lalu saat engkau dan Utsman menggantikannya posisi keduanya, rakyat tidak lagi tunduk dan patuh terhadap kalian berdua, sehingga kekuasaan yang luas ini menjadi sempit buat kalian?” Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu menjawab, “Karena rakyat mereka berdua adalah orang-orang yang seperti aku dan Utsman, sementara rakyatku sekarang adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu.”

Allah telah memberikan kekuasaan kepada al-Hajjaj bin Yusuf dengan segala kezhalimannya. Ketika imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah melihat masyarakat membenci dan marah terhadap terhadap kekuasaan al-Hajjaj, beliau rahimahullah berusaha menasihati mereka dengan berdalilkan kaidah ini, “Al-Hajjaj adalah hukuman dari Allah atas kalian yang belum pernah ada sebelumnya. Janganlah kalian merespon hukuman Allâh ini dengan pedang! Namun sambutlah hukuman ini dengan bertaubat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya! Bertaubatlah kalian, niscaya kalian akan terpelihara darinya!”(Dinukilkan dalam kitab Thabaqât Ibnu Sa’ad (7/164), dan dalam kita Jumal min Ansâbil Asyrâf karya Bilâdzri (7/394) dengan sanad yang shahih).

Dan seperti apa yang Allah sampaikan:

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan (Al-An’âm/6:129).

Oleh: Lenny Hamdi

Sumber:
https://almanhaj.or.id/4230-kalian-akan-dipimpin-oleh-orang-yang-seperti-kalian.html
https://rumaysho.com/1255-pemimpin-cerminan-dari-rakyatnya.html

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.