Kurang lebih beberapa hari lagi, tepatnya 20 Oktober 2019, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih akan dilaksanakan. Ini akan menjadi sejarah baru bagi bangsa Indonesia, karena seorang mantan kepala daerah yang notabene secara linear (mulai dari Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta) bisa menjabat menjadi presiden melalui pemilihan langsung selama dua periode. Apalagi di periode kedua ini, presiden terpilih tersebut didampingi oleh seorang kiyai kharismatik yang sudah sepuh dari klan Nahdiyin.

Masih teringat lima visi yang mereka paparkan dalam kampanye beberapa saat lalu. Salah satunya yang menjadi stressing point yaitu “Pembangunan Sumberdaya Manusia”. Visi ini pun bahkan diangkat dalam tema perayaan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 74, tepatnya di akhir periode pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo yaitu Menuju Indonesia Unggul.

Berbicara pembangunan sumberdaya manusia, teringat sebuah kisah klasik seorang atlet basket internasional yang berasal dari negeri China. Namanya Yao Ming, manusia Asia pertama yang bermain di kompetisi National Basketball Association atau lebih dikenal dengan singkatan NBA (yaitu liga bola basket pria di Amerika sekaligus merupakan liga basket paling bergengsi di dunia).

Yao Ming pertama kali masuk ke kompetisi NBA pada tahun 2002 dan langsung bergabung di klub papan atas Houston Rockets. Ayahnya adalah Dang Yao dan Ibunya adalah Dang Fang yang notabene adalah seorang atlet basket potensial di China. Pada saat kepemimpinan Mao Zedong sebagai Presiden China pertama (1954-1959), walau hanya memimpin selama 5 tahun namun Pembangunan Sumberdaya Manusia di China bukan hanya sekedar jargon. Pemerintah China pada saat itu “mengawinkan secara paksa” Dang Yao dan Dang Fang, kemudian memberikan segala fasilitas agar mereka dapat melahirkan “bibit unggul” yang mampu mewariskan genetika olahraga basket.

Pembangunan Sumberdaya Manusia oleh Pemerintah China bukanlah sesuatu yang instant, 30 tahun kemudian lahirlah Yao Ming. Segala kebutuhan mulai dari gizi (kesehatan) sampai sekolah (pendidikan) diawasi dan dijamin oleh Pemerintah China. Sehingga 20 tahun kemudian, Pemerintah China mulai menuai hasil (berupa prestasi maupun devisa) dari program Pembangunan Sumberdaya Manusia. Yao Ming (atlet dengan tinggi badan mencapai 2,5 meter) mampu menjadi bintang NBA di klubnya dengan banyak sponsor, bahkan ia memenangkan tiga medali emas dan tiga penghargaan pemain terbaik ketika membela China dalam kejuaraan basket Asia.

Belajar dari negeri China, visi Pembangunan Sumberdaya Manusia Indonesia belum terlambat untuk direalisasikan. Walau pada periode pertama kepemimpinannya, secara de yure Presiden Jokowi sudah membentuk Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Namun secara de facto anggaran Kemenko PMK setiap tahunnya berkurang, bahkan saat ini tidak sampai 1 persen dari total APBN Tahun 2020. Kebijakan Pemerintah inilah yang menjadi kontradiksi (dalam Bahasa latin disebut contadictio yang berarti pertentangan) di negeri ini.

Harapannya di periode kedua kepemimpinan Presiden Jokowi, anggaran Rp.1.162 Triliun untuk mencetak Sumberdaya Manusia unggul dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 dapat direalisasikan dengan baik. Jangan sampai program Pembangunan Sumberdaya Manusia di negeri ini menjadi Contradictio In Terminis yaitu hanya menjadi sebuah jargon (terdiri dari kata-kata) yang saling bertolak belakang dengan faktanya.

Ahmad Fadhli
(Direktur Riset Voxpol Center / Mahasiswa Doktor Ekonomi Sumberdaya IPB)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.