Jakarta, Jurnalpublik.com – Sejarah mencatat, 30 September 1965 adalah hari kelam bagi bangsa Indonesia.

Sebuah ideologi, yang tak mau bekerjasama dengan kedaulatan bangsa yang telah kita sepakati bersama.

Sebuah ideologi yang main hakim sendiri ketika pimpinan, penguasa, pejabat, dan sebagian rakyat tidak mau mengikuti skenario mereka.

Sebuah ideologi yang melatarbelakangi makar di negara ini Indonesia, saat itu.

Ideologinya mungkin tidak makar, orang-orang yang mengusungnya yang menjadikan ideologi tersebut menjadi terlarang di negeri ini, Komunisme.

Menurut KBBI, makar adalah akal busuk; tipu muslihat: segala — nya itu sudah diketahui lawannya; makar juga adalah perbuatan (usaha) dengan maksud hendak menyerang (membunuh) orang, dan sebagainya: karena — menghilangkan nyawa seseorang, ia dihukum; makar juga merupakan perbuatan (usaha) menjatuhkan pemerintah yang sah: ia dituduh melakukan.

Sepatutnyalah kita tak menjadi pengusung makar di negara ini.

Negara kita adalah negara demokrasi. Segala pertarungan politik berlangsung di pemilu. Bukan di jalan, bukan di medsos.

Jika pemilu sudah kita lakukan, segala upaya telah kita kerahkan, maka kuasa Tuhan sudah ditetapkan.

Kapan kita akan berhenti? Dimana letak kata selesai jika hukum yang kita lawan?

Gus Dur legowo kita turunkan, tidak ada banser yang dikerahkan ketika Gus Dur dilengserkan. Lantas setelah Gus Dur lengser apa kita sejahtera?

SBY yang memimpin bukan yang terbaik juga, tapi karena kita koalisi, tak ada yang bantah, padahal rakyat tetap sengsara!

Kini berganti rezim yang bukan dari golongan kita lantas harus kita turunkan lagi?!

Kekuasaan itu digilir, sudah sunatullah.

Bahkan Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan suatu tempat yang tidak berhukum, tidak berpenguasa. Karena kuasa bukan kepunyaan yang memegangnya, kuasa punya Tuhan, siapa yang ingin dititipkan oleh-Nya. Sungguh ngeri tempat tak berpenguasa, tak berhukum, hukum rimba.

Bahkan Nabi Yusuf menjadi pejabat di pemerintah yang dzalim. Hukum yang katanya dzalim. Tetap dijalaninya. Toh akan tiba masa kita membalikkan keadaan, akan datang pertolongan Allah. 40 tahun baru Nabi Yusuf menuai kemenangan. Kita usaha belum seberapa, maunya menang terus. Menang yang buat rakyat sejahtera pastilah bagus, ini cara instan, euforia kemenangan, rakyat tetap sengsara.

Berbesar hatilah, berlapang dadalah. Nabi Musa tidak meminta kemenangan saat melawan Firaun. Yang ia minta adalah Syarah (kelapangan dada). Begitu juga para ashabul Kahfi, mereka meminta kelapangan dada kepada Allah.

Mari berhenti menyakiti diri sendiri, saudara sendiri, agama sendiri!

Mari kita jaga bangsa ini, mari kita jaga kesatuan bangsa ini. Mari kita jaga ideologi bangsa kita, Pancasila.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2019.

Lenny Hamdi (Alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Nasional)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.