Jakarta, Jurnalpublik.com – Dalam diskusi yang bertajuk “Dinamika Seputar Revisi UU KPK: Studi Kedalaman Politik Legislasi” di Kampus UNJ Rawamangun, Jakarta Timur, hari ini (27/9/2019), pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Ade Reza Haryadi mengatakan, jika Perppu UU KPK nantinya dikeluarkan hal tersebut merupakan preseden buruk dalam konteks ketatanegaraan.

“Masa sedikit-sedikit di Perppu kan? Ini bisa jadi kewenangan presidensial berlebihan dikemudian hari,” sebut Ade Reza Haryadi, seperti yang dikutip RMOL.ID.

Menurut Ade Reza, pemerintah tidak cukup gentleman jika menerbitkan perppu UU KPK.

“Ketika masyarakat ada tuntutan dan masyarakat merasa resah baru kemudian ada wacana untuk Perppu. Ini saya kira pemerintah tidak cukup gentleman,” tutur Ade.

Seperti  disampaikan oleh beberapa pengamat, ada tiga opsi yang bisa Presiden Joko Widodo pilih untuk mensikapi polemik seputar UU KPK, yaitu legislatif review, judicial review, dan mengeluarkan perppu.

1 KOMENTAR

  1. Kalau legislatif review yg di tempuh sesuatu yg tdk logis dalam dalil hukum. Sebab dr sikap DPR hari ini nampak bahwa produk itu DPR yg keras dg kepentingannya. Karena itu mereka secara sikap politis mereka trus berkeras..inilah yg memantik masyarakat dan mahasiwa turun kejalan.
    Yudicial review saya pikir boleh saja tetapi eksistensi MK hari ini tdk mendapat kepercayaaan penuh dr rajyat utk memutus keadilan. Sebab beberaoa kasus MK terkesan tdk pro rakyat. Nilai ketidakpercayaan itu yg membuat surutnya kepercayaan publik pada keadilan judicail yg dilahirkan hakim hari ini apan lg banyak oknum hakim yg ditangkap hari ini. Juga jd satu alasan sifat peradilan netralitas dan imparcial peradilan itu sedang di tanda tanya besar masyarakat.
    Intinya kedudukan proses melalui jalur legitimasi hukum seperti sulit mendapat kepercayaan. Apa lagi ada kecurigaaan pada niat baik oknum di dlmnya yg merupakan hasil seleksi di pilihan politik yg sarat dg kepentingan. Hukum determin politik dan politi determinan hukum.
    Terina kasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.