Peta Indonesia

Jakarta, Jurnalpublik.com – Peringatan Hari Kemerdekaan yang ke 74 tahun belum lama berlalu, saya mencoba menulis tentang nasionalisme sambil kembali membuka catatan lama saya, lalu saya menemukan sepenggal tulisan yang belum saya selesaikan.

 

***

 

Suatu pagi di awal Februari 2017 saya bercakap-cakap dengan seorang teman,

Saya: Donald Trump keren ya!

Teman: Kenapa?

Saya: Karena bisa menghidupkan lagi gereja di Amerika, bahkan anak sekolah sekarang membaca doa bapak setiap pagi. Andai itu adalah presiden Indonesia dan ia muslim pasti akan keren kan kalau masjid dihidupkan dan setiap pagi semua murid mengucap salam atau bahkan doa belajar.

Teman: nggak keren, kita harus menghargai yang bukan Islamlah, kecuali kalau di madrasah ya harus ucap salam dan baca doa belajar.

 

Lalu saya mencoba berfikir kembali, apakah asumsi saya selama ini bahwa nasionalisme haruslah berbanding lurus dengan agama tertentu, apapun agama kita, merupakah hal yang sudah sepatutnya?

 

Bukankah pimpinan negara seharusnya menaungi semua pihak tanpa condong kepada agama tertentu..

 

Bukankah dalam hal umum kebangsaan harusnya kita tidak menyakiti siapapun, agama apapun, etnik apapun, bukankah harusnya kita memenangkan semuanya?

 

***

 

Hari ini, awal September 2019, saya mencoba kembali membaca diri, saya berfikir, bila pertanyaan serupa jika saya tanyakan kembali pada hari ini dengan membanggakan salah satu pemimpin di negeri kita Indonesia hari ini, mungkinkah jawaban saya dan teman saya akan tetap belum terjawab seperti 2 tahun lalu.

 

***

 

Nasionalisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: — makin menjiwai bangsa Indonesia; yang berikutnya, nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; nasionalisme adalah semangat kebangsaan.

 

Kerancuan pandangan dalam pemahaman nasionalisme yang umum terjadi adalah, mencintai bangsa dan negaranya sendiri secara berlebihan dengan berlomba-lomba untuk mengakui yang paling murni atau menjadi yang paling Indonesia berdasarkan pandangan kelompoknya sendiri dengan cara membuat sebuah identitas bagi bangsa dan negaranya secara seragam, bukan identitas yang beragam.

 

Dengan definisi yang sempit ini, kita justru lebih sering membuat polarisasi kita dan mereka, ‘kita’ adalah orang-orang yang memiliki keseragaman dan ‘mereka’ adalah orang-orang yang berbeda, secara identitas dan fisik.

 

Dan yang lebih berlebihan adalah mengaitkan kenasionalisan dengan menarik garis lurus tidak hanya pada satu budaya tertentu tapi juga menarik garis lurus hanya pada satu agama tertentu saja.

 

Kita terbiasa memetakan suatu agama tertentu pada suatu daerah tertentu. Lalu menganggap hal yang tak sama dengan peta tersebut merupakan ketidakbiasaan, ketidaklumrahan, berbeda, tidak sesuai, tidak seharusnya, bukan yang asli, tidak otentik, tidak sesuai sejarah.

 

Nasionalisme seharusnya adalah sesuatu yang terus menerus perlu diperbarui dari masa ke masa. Seperti yang dikatakan oleh Benedict Anderson, nasionalisme adalah sebuah proyek bersama, bukan warisan masa lampau dari para pendahulu yang dapat digunakan di semua zaman. Nasionalisme adalah untuk masa kini dan masa depan, bukan masa lalu.

 

Masih menurut Ben Anderson, jika nasionalisme merupakan sebuah warisan masa lampau, orang-orang masa kini akan berebut menjadi pewaris yang sah atau pewaris yang tunggal. Dapat dilihat pada keseharian kita, orang-orang tertentu dapat mengklaim bahwa dirinya nasionalis melalui upaya penyeragaman identitas atau dengan mengagungkan budayanya sendiri tanpa memandang budaya orang lain–padahal Indonesia memiliki keragaman budaya–dan merasa budayanya adalah yang paling hebat.

 

Dan terlebih lagi jika nasionalisme dikaitkan dengan agama tertentu, tentunya pengagungan agama tertentu dan penyeragaman agama pada suatu negara lebih merupakan nasionalisme yang sangat sempit dan berlebihan. Kita bisa membaca gejala ini pada banyak Negara. Dan kita pun mau tidak mau harus mengakui bahwa kita juga merupakan pelaku penyeragaman agama pada suatu negara tertentu, berpandangan seperti itu paling tidak.

 

Saya tidak bicara bagaimana berperilaku di tempat ibadah di suatu negara tertentu, saya berbicara tentang berperilaku disuatu tempat umum, lingkungan atau bahkan dimanapun negara tertentu.

 

Kembali kepada nasionalisme, nasionalisme harusnya adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu, seperti yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

 

Dengan definisi tersebut, nasionalisme tidak terbatas pada satu identitas. Semua pihak dapat membangun semangat nasionalisme, semua pihak dapat makmur bersama-sama, dan berkomitmen bersama, terlepas dari identitas yang melekat.

 

Apakah pertanyaan saya terkait nasionalisme sudah terjawab hari ini, entahlah..

 

Lenny Hamdi (Alumnus Universitas Nasional)

 

Sumber:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia
  2. Geotimes

Tinggalkan Komentar