Pengunjuk rasa aksi 21 - 22 Mei 2019

Jakarta, Jurnalpublik.com – Kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada tragedi 21 – 22 Mei dimana masyarakat yang melakukan aksi demonstrasi dianiaya hingga tewas oleh oknum pihak kepolisian menuai protes dari berbagai kalangan termasuk Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI).

Dalam rilis yang diterima oleh redaksi, koordinator Tim Advokasi Korban Tragedi Pemilu 21-22 Mei 2019 KA KAMMI, Slamet, mengatakan bahwa pihak KA KAMMI mengapresiasi kerja kepolisian agar kerusuhan tidak meluas, tapi tetap harus mempertanggungjawabkan kejadian yang menyebabkan aksi tersebut memakan korban jiwa, luka berat dan ringan, hingga ratusan orang ditangkap karena tuduhan makar dengan pasal karet.

“Kami mendesak pihak kepolisian untuk memberikan penjelasan secara terbuka dan transparan terkait hasil pemeriksaan terhadap jenazah (otopsi) dan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada keluarga korban dan/atau kuasanya untuk mendapatkan salinan hasil pemeriksaan (otopsi) terhadap korban meninggal,” ujar Slamet, (31/05/2019).

Slamet juga mengatakan pihak kepolisian untuk segera dan serius memproses secara hukum terhadap pelaku yang terlibat dalam peristiwa meninggalnya korban, juga mendesak pihak-pihak yang terkait dengan peradilan untuk membawa kasus kematian korban ke proses hukum selanjutnya dalam sebuah peradilan yang terbuka dan adil.

“Apabila ada bukti-bukti yang cukup terjadinya pelanggaran HAM berat, maka KA KAMMI mendesak untuk dilakukan proses peradilan HAM secara terbuka, imparsial dan adil,” pungkas Slamet.

 

Tinggalkan Komentar