Jakarta, Jurnalpublik.com – Melalui laman Facebooknya yang kemudian disebarkan melalui akun twiternya, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, mengemukakan pendapatnya terkait pengumuman KPU dalam hasil rekapitulasi Pemilu 2019, dini hari tadi (21/5/2019).

Menurut Fahri, kita merespon apa yang terjadi di KPU kemarin dengan satu kebijaksanaan.

“Nah oleh sebab itu mari kita merespon apa yang terjadi di KPU kemarin dengan satu kebijaksanaan, dengan satu kewaspadaan, dan menyadari kelemahan-kelemahan yang ada, baik pada diri kita sebagai bangsa dan juga kepada demokrasi itu sendiri sebagai sistem yang lemah,” kata Fahri Hamzah.

Fahri menerangkan lemahnya sistem demokrasi yang mengandalkan angka.

“Yang tadi saya katakan dia (demokrasi-red) terlalu mengandalkan angka-angka yang mengagregasi pilihan masyarakat yang berbeda-beda tingkat latar belakang dan tingkat ilmu pengetahuannya, sekolahnya, tapi semua dihitung dengan angka ya, suara profesor dan suara petani biasa itu tetap, satu orang dapat satu, one man one vote ya. Itu diantara kelemahan yang kita terima sebagai bagian dari situasi ini,” terang Fahri Hamzah.

Menurut Fahri lagi, dalam demokrasi kebenaran bukan segala-galanya, tapi pada akhirnya ditentukan oleh angka.

“Itu sebabnya didalam demokrasi itu kebenaran bukan segala-segalanya, tetapi dalam the law of, yang saya bilang tadi itu, pada akhirnya ditentukan oleh angka,” ucap Fahri Hamzah.

Untuk mengantisipasi kelemahannya tersebut demokrasi mengantisipasinya dengan memberikan pembatasan jelas Fahri Hamzah.

“Karena kebenaran kemudian ditentukan oleh angka tapi demokrasi mengantisipasinya dengan memberikan pembatasan. Anda boleh benar tapi anda dibatasi, selama 5 tahun kalau di Indonesia. Karena kan memang pada akhirnya kan situasi kebenaran itu dikendalikan oleh penguasa,” jelas Fahri Hamzah.

Fahri menambahkan, kelemahan yang terjadi pada pemilu kemarin adalah masih adanya kekuasaan pihak salah satu calon yang harusnya ditanggalkan ketika proses pemilu berlangsung.

“Tetapi ada jeda seharusnya. Ketika orang itu memberi election seharusnya kebenaran yang mereka anut itu dilucuti dari proses pemilu, dan itu yang kemarin tidak terjadi secara baik. Sehingga kemudian ada kecenderungan nampak kelemahan-kelemahan yang ada dalam pemilu ini merupakan bagian dari adanya perasaan intervensi dari pemerintah ke dalam proses pemilu,” kata Fahri Hamzah.

Tinggalkan Komentar