Perhitungan suara Pilpres sebentar lagi rampung. Menurut data masuk di KPU RI yang dihitung secara berjenjang, sudah 20 Provinsi yang masuk dan disahkan oleh KPU RI sampai hari ini. Seluruh rakyat Indonesia pun turut H2C (harap-harap cemas) baik pendukung Capres 01 maupun pendukung Capres 02. Klaim kemenangan beserta segala macam justifikasinya juga telah dipersiapkan oleh TKN 01 maupun BKN 02. Isu ketidakpercayaan terhadap Quick Count pun mulai bergeser menjadi isu delegitimasi Pemilu dan People Power.

Pada tahun 2016 Bangsa Amerika pernah mengalami hal yang serupa dengan Bangsa Indonesia hari ini. Sebagian rakyat yang notabene adalah pendukung fanatik pasangan Calon Presiden Amerika terkena penyakit yang bernama “Post-Election Stress Disorder”. Pendukung yang kalah merasa ketakutan dan negative-thinking tentang masa depan mereka nanti akan seperti apa, pasca terpilihnya Donald Trump. Bahkan terjadi kerusuhan dan chaos di beberapa negara bagian. Namun ternyata sebagian rakyat Amerika memiliki anti-body yang cukup baik, sehingga kerusuhan tersebut tidak menjalar sampai keseluruh penjuru Amerika.

Melihat kondisi rakyat Indonesia saat ini, sebagai manusia yang memiliki common sense (akal sehat), sudah semestinya kita tidak perlu “galau” tingkat dewa (secara berlebihan) apalagi sampai “baper” dan mewek-mewek (terbawa perasaan dan bersedih). Padahal Pemilu seperti ini adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang sakral karena ritual 5 tahunan ini sudah sering kita lakukan pasca reformasi. Jangan sampai kita menghancurkan peradaban negeri ini yang sudah kita re-develop (bangun kembali) sejak 21 tahun silam pasca runtuhnya orde baru. Sesungguhnya Cost Recovery nya sangat mahal 1000 kali lipat ketimbang Cost Operational Pemilu yang hanya 25 Triliun.

Sudah saatnya di Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, kita perbaiki niat dan azzam kita dalam bernegara. Hapus semua memori pemikiran-pemikiran negatif dan hilangkan prasangka buruk terhadap siapa pun yang akan menjadi calon pemimpin kita kelak. Karena sesungguhnya tindakan yang buruk itu tercipta dari pemikiran yang buruk pula. Kita memang memiliki pilihan yang berbeda (ada yang memilih 01 dan ada juga yang memilih 02), tapi kita ditakdirkan untuk selalu bersama yaitu sama-sama hidup disepenggal tanah Syurga yang bernama Indonesia. Jangan sampai perbedaan pilihan ini melawan takdir yang sudah Allah berikan, sehingga meruntuhkan peradaban yang sudah kita bangun. Karena sesungguhnya Negeri ini bukan hanya milik kita tapi juga adalah warisan nenek moyang kita dan titipan anak cucu kita.

AF
(Pendukung salah satu Capres yang masih berakal sehat)

Tinggalkan Komentar