Dalam hegemoni geopolitik hari ini, mungkin kita hanyalah seonggok kerikil yang sedang berpadu dalam kerangka batu bata. Namun dari batu bata kecil inilah bangunan besar bernama state itu akan kita bangun. Kontribusi kita terhadap pilihan politik mungkin akan segera hilang sesaat setelah kontestasi politik praktis ini pergi, tapi catatan amal kita tidak akan pernah hilang karena dia sudah terukir indah diatas sana untuk kita banggakan karena kita sedang bersama mereka yang sedang susah.

Kita saat akan berkontribusi kepada mereka yang sedang susah mungkin bukanlah orang kaya. Tapi kecukupan yang Allah berikan kepada kita sudah cukup untuk menjadikan diri ini tidak tenang saat kita masih diam di tengah saudara kita yang tengah berjuang membela kemerdekaan hidupnya. Kita hanya perlu bergerak untuk bisa membuat orang lain juga bergerak kearah yang benar. Dimulai dengan segala sesuatu yang menyenangkan, untuk selanjutnya membangkitkan momentum yang positif walau tidak akan selalu mudah untuk memulainya. Bahkan untuk seseorang dengan masa lalu yang terpuruk dan kelam sekalipun, jika dia mau bergerak maju kedepan dan menghargai kebersamaan dalam gerak langkah sebuah persahabatan yang baru, maka dia akan menang dalam segala aspek kehidupannya.

Kadang kita sudah terlelap saat mereka para pahlawan devisa ini masih harus berjalan ditengah panjangnya malam. Tidakkah kita sadar bahwa Allah akan mempertanyakan nikmat yang kita terima setiap saat, untuk apa dan kemana kita bawa nikmat itu di hari-hari kita yang pada hakikatnya tidak panjang ini. Ya saudaraku, waktu kita tidaklah panjang. Saat kita paham bahwa kita mampu memberikan lebih, maka manfaatkanlah waktu-waktu terbaik ini untuk buktikan bahwa kita ada untuk mereka. Memang benar bahwa kita tidak kuasa untuk bisa menyelesaikan semua permasalahan saudara kita ini, tapi sahabat kerjaku semua ingatlah satu hal. Bahwa Allah tidak akan pernah mengubah keadaan kita, kecuali kita sendiri yang melakukannya, sekecil apapun kontribusi yang kita miliki.

Sebagaimana yang paling kita inginkan dalam hidup adalah seseorang akan mendorong kita melakukan apa yang dapat kita lakukan, maka mulailah untuk menginventarisir apa yang sebenarnya bisa kita lakukan. Sebuah aktifitas yang bisa memberi manfaat terhadap diri, keluarga, masyarakat dan bangsa ini. Wajah demokrasi kita memang terlihat gila, namun jangan biarkan kondisi gila diluar sana membuat anda menjadi gila apalagi patah semangat tanpa harapan. Bersama Sahabat Kerja Indonesia kita rubah kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. Kita tidak perlu bersusah payah menyesuaikan diri dengan tantangan globalisasi yang terlihat mengerikan. Kita hanya perlu berdiri kokoh dengan iman, nilai, sikap dan kepribadian yang kita yakini benar untuk terus kita perjuangkan. Sebagaimana artificial intelligence itu akan belajar sendiri dengan revolusi 4.0 nya, maka kita akan tetap menjadi seorang pembelajar yang hebat atas pertolongan Tuhannya.

Kontestasi pemilu presiden kita baru saja digelar dengan wajah fraud antara identitas dan otentisitas. Saat semua orang mulai mendeklarasikan klaim kebenaran tanpa harus dibekali dengan fakta dan data. Ditengah bangsa yang kian abai dengan tanggung jawabnya terhadap iron stock penghasil devisa negara yang kita kenal dengan pekerja indonesia. Saatnya jujur untuk mengembalikan kedaulatan negeri ke tangan anak bangsa yang berpeluh tangis dan air mata demi negara ini terus berjalan.

Keberpihakan negara atas backbone bangsa ini adalah amanat undang-undang dasar 1945 dimana negara mau atau tidak mau wajib melindungi warganya yang tidak mampu. Bukan seperti satpam yang mengamankan pasar dengan segala transaksinya atas dasar kepentingan modal dan cengkraman kapitalisme global. Kapitalisme yang tidak saja mengakuisisi kepentingan eksistensi namun terhadap kebutuhan yang paling dasar seperti kebutuhan akan air bersih dan kaplingan tanah untuk hidup. Bagaimanakah kondisi kita saat bank dunia sudah dengan berani menggunakan terminologi publik “hak atas air” kepada bangsa besar ini. Dan seperti apakah negara ini akan meningkatkan pelayanan publiknya sembari melihat air sebagai bisnis.

Maka paska kontestasi politik ini selesai dengan segala narasi temaramnya, kita atas nama anak bangsa yang bekerja untuk Indonesia mesti berbicara atas tuntutan nurani. Saatnya bersuara untuk ingatkan bahwa setelah momentum politik ini selesai, untuk menagih janji kontrak sosial rakyat atas negara. Saat pekerja dipotong gaji untuk jaminan atas nama BPJS, warga membayar pajak untuk membiayai layanan publik air, pendidikan bahkan infrastruktur. Dimana kami atas nama pekerja dan warga bisa meminta pertanggungjawaban negara dan mengingatkan negara atas visi besarnya untuk terus menjaga kedaulatannya. Mari bersama untuk menjawab pertanyaan ini secara tuntas, dan ikut serta berkontribusi menyelesaikan permasalahan bangsa ini.

Siapapun presiden yang akan menerima mandat rakyat setelah ini, harus menegaskan starting point kita untuk berani menatap pembangunan Indonesia dengan memperkuatkan kapasitas dan peran negara untuk melindungi hajat hidup warganya. Tidak ada yang salah dengan selera pasar global, apalagi dengan sanjungan dunia Asian Factory atas Indonesia. Namun camkan selalu bahwa sanjungan ini hanyalah alibi untuk menutupi pengerukan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup Indonesia.

Hari ini adalah adalah waktu di mana tamu istimewa bernama Ramadhan datang berkunjung. Hari ini adalah momentum saat kita harus memilih untuk berada pada pemimpin mana kita harus berpihak, dan hari ini adalah titik dimana seseorang harus menyelesaikan amanat yang telah ia janjikan kepada orang yang telah berjuang untuknya (terlepas amanat itu akan menjadi legitimasi publik atau tidak). Jelas kita tidak akan mungkin kembali karena kata dan langkah ini telah menjadi titik tanpa pengembalian. Ibarat pesawat yang telah terlepas dari landasan pacunya untuk terus terbang atau mati, The Point of No Return.

Azhari Ardinal
Presiden Sahabat Kerja Indonesia

Tinggalkan Komentar