Jakarta, Jurnalpublik.com – Ramai media dengan berita meninggalnya petugas KPPS membuat orang terus bertanya-tanya penyebab kematian yang disebutkan jumlahnya sudah lebih dari 500 orang tersebut.

Kita turut berduka cita atas meninggalnya petugas KPPS tersebut.

Yang menjadi pertanyaan adalah tidak adanya pernyataan dari kepolisian bahwa petugas KPPS tersebut meninggal karena kelelahan selama Pemilu, namun media, dan terlebih pendukung pasangan calon 02, ramai menyebutkan petugas KPPS tersebut meninggal karena Pemilu atau kelelahan karena pemilu. Dan tidak sedikit yang menyebutkan kematian disebabkan oleh petahana dengan cara diracun atau klenik.

Fakta Tingkat Kematian Tinggi

Saya ingin menyampaikan beberapa fakta diluar negeri terkait kematian yang tinggi.

BBC.com melansir, para peneliti di India memperkirakan angka bunuh diri di India sekitar 187.000 pada tahun 2010.

Angka tertinggi orang yang bunuh diri terjadi pada mereka yang berusia 15-29 tahun, dan hal itu menunjukkan bahwa kemiskinan bukan faktor pemicu.

Dalam survei nasional pertama tentang angka kematian itu disebutkan sekitar 56% orang yang bunuh diri tahun 2010 adalah perempuan dan 40% pria.

Penelitian itu juga menyebutkan angka bunuh diri dua kali lipat dibandingkan kematian akibat HIV dan AIDS.

Cara bunuh diri yang paling sering digunakan adalah dengan menenggak racun pestisida, dan kemudian menggantung diri.

Di Wind River Wyoming, Amerika, rata-rata penduduk bisa berharap hidup sampai usia 49 tahun, saking tingginya tingkat kematian karena kejahatan. Dan kematian perempuan-perempuan Indian asli lebih tinggi dari kematian lainnya. Tingkat drop out sekolah sebesar 40 persen, dua kali lipat dari rata-rata drop out di Amerika. Pelecehan anak, kehamilan remaja, pelecehan seksual disebut endemik disana.

Penyebab Kematian
Namun, India tidak pernah mengeluarkan pernyataan kematian pemuda-pemudi tersebut seperti yang dikatakan Rancodas Syamaldas Chancad seperti dalam film 3 Idiots, pembunuhan oleh sistem sekolah, atau pembunuhan karena kelelahan belajar. Tidak ada pernyataan itu.

Begitupun dengan dokter-dokter di wilayah Pribumi Indian Wind River, mereka tidak semudah itu mengatakan sebegitu banyaknya kematian perempuan-perempuan asli Indian karena pembunuhan oleh pendatang, bukan tugas dokter menyebutkan itu, FBI atau kepolisianlah yang harus menyimpulkan satu persatu dan menyebutkan hal tersebut.

Itu hanya dua contoh kematian tinggi yang terus meningkat dari tahun ke tahun yang berjumlah ribuan bukan hanya ratusan.

Menyimpulkan penyebab kematian, terlebih kematian berjumlah besar yang bukan epidemi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Terlebih mengaitkannya dengan klenik, sangat tidak tepat.

Menyimpulkan kematian petugas KPPS tidak bisa dilakukan orang awam, terlebih yang tidak memiliki kapasitas untuk memutuskan apa penyebab kematiannnya.

Begitu juga dengan meninggalnya 500 orang lebih petugas KPPS tidak bisa dikaitkan langsung kepada pemilu atau terlebih dituduhkan langsung kepada petahana.

Jadi, mari kita tunggu pihak yang berkompeten menyebutkan apa penyebab kematian ratusan petugas KPPS tersebut.

Dan andai akhirnya penyidikan berkesimpulan bahwa meninggalnya ratusan petugas KPPS tersebut karena kelelahan bekerja selama Pemilu, apakah kesimpulan itu bisa memdelitimigasi hasil pemilu, kan tidak.

Lalu apa yang diharapkan orang-orang yang terus meramaikan media bahwa penyebab kematian petugas KPPS tersebut karena pemilu?

Lenny Hamdi

Tinggalkan Komentar