Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Ayat suci al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa berpuasa adalah aktivitas yang telah menjadi ciri hidup manusia dari berbagai zaman. Tujuannya adalah agar manusia meningkat ketakwaannya (QS al-Baqarah: 183). “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” Apabila kita bertakwa, maka sorga dijanjikan Allah azza wa jalla untuk kita. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah (QS Ali Imran, 3: 15): ‘Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.’

Umumnya puasa dikaitkan dengan usaha untuk memenuhi perintah Tuhan. Dalam perkembangannya, puasa menghadirkan manfaat yang beragam, di antaranya adalah untuk menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, meningkatkan kecantikan, menyembuhkan penyakit psikologis, dan seterusnya. Tujuan dan tata cara puasa yang berbeda-beda tentu saja akan menghasilkan efek yang berbeda.

Puasa yang akan kita bahas ini adalah puasa yang dituntunkan agama Islam. Bila kita melakukannya, maka akan hadir berbagai hal yang positif yang menyehatkan fisik kita, mental kita dan akan menghilang berbagai hal yang negatif yang dapat merusak atau mengganggu kesehatan mental kita. Beberapa di antaranya adalah (1) ketahanan fisik, (2) nilai dan pengalaman keagamaan, (3) nilai sosial, (4) kontrol diri, (5) kreativitas, (6) agresivitas, dan (7) perilaku seks.

Pertama: Puasa dan Ketahanan Fisik
Puasa adalah aktivitas jasadi, nafsani, dan ruhani. Tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan (fisik) manusia, ada sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Shuumuu tasihhuu.” Berpuasalah maka engkau sehat.
Sebagaimana kita ketahui dan alami, seseorang yang berpuasa akan memulainya dengan sahur sebelum fajar dan berbuka puasa ketika matahari terbenam (saat maghrib tiba). Total waktu yang digunakan untuk berpuasa (di Indonesia) adalah sekitar 14 jam. Selama waktu tersebut orang yang berpuasa tidak melakukan aktivitas makan dan minum. Bagaimana efeknya terhadap fisik kita?

Defrizal Siregar dan Juriana (2005) meneliti kondisi fisik –khususnya glukosa darah—orang berpuasa yang melakukan aktivitas fisik dan orang berpuasa yang tidak melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini melibatkan 30 (tiga puluh) orang mahasiswa sebagai sampel, dengan pembagian 15 orang yang berpuasa dengan kerja fisik dan 15 orang yang berpuasa tanpa kerja fisik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu (1) Data kadar glukosa darah yang berpuasa saja serta berpuasa ditambah kerja fisik dengan menggunakan alat bantu berupa alat pengecek glukosa darah (cobas mira) di laboratorium Somatokinetika Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ. Darah diambil dari pembuluh darah vena sejumlah 1 cc. (2) Waktu pengumpulan darah diambil sebanyak 3 kali, yaitu (a) pada jam 05.00 = pengambilan pertama, (b) pada jam 16.00 = pengambilan kedua, dan (c) pada jam 16.20 = pengambilan ketiga. Bagi responden yang berpuasa dan kerja fisik diberikan treatment yaitu jogging selama 20 menit.

Dari hasil analisis dan uji hipotesis, diperoleh rata-rata kadar glukosa darah orang berpuasa dengan kerja fisik pada pukul 05.00 adalah 94,6 mg/dl, pada pukul 16.00 adalah 86.67 mg/dl. Dengan uji t diperoleh t-hitung = 3,979 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 05.00 dengan pukul 16.00. Rata-rata kadar glukosa darah pada pukul 16.20 adalah 93,73 mg/dl. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 4,780 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 16.00 – 16.20.

Sementara itu, rata-rata kadar glukosa darah orang berpuasa tanpa kerja fisik pada pukul 05.00 adalah 89,73 mg/dl sedangkan pada pukul 16.00 adalah 81.13 mg/dl. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 5, 098 berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa dara pada saat pukul 05.00 dengan pukul 16.00. Rata-rata kadar glukosa darah berpuasa tanpa kerja fisik pada pukul 16.20 adalah 83,27 mg/dl dan diperoleh t-hitung = -1,964 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 16.00 – 16.20.

Rata- rata selisih kadar glukosa darah berpuasa dengan kerja fisik adalah -7,07, sedangkan berpuasa tanpa kerja fisik adalah -2,13. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 2,689 berarti terdapat perbedaan selisih kadar glukosa darah yang signifikan antara berpuasa dengan kerja fisik dengan berpuasa tanpa kerja fisik.

Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan analisis, yaitu (1). Terdapat pengaruh puasa terhadap kadar glukosa darah. Terjadi penurunan yang signifikan kadar glukosa darah pada pengukuran jam 05.00 ke pengukuran jam 16.00 dan (2). Terdapat perbedaan selisih kadar glukosa antara kelompok puasa dengan kerja fisik dan puasa tanpa kerja fisik.

Berdasarkan kesimpulan penelitian Defrizal Siregar dan Juriana (2005) ini, diketahui bahwa berpuasa dengan kerja fisik tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kadar glukosa darah. Sebaliknya, berpuasa dengan kerja fisik tetap memberikan kestabilan pada kadar glukosa darah normal. Kerja fisik pada saat berpuasa akan menjaga daya tahan tubuh sehingga komposisi tubuh ideal yang kita inginkan dapat tercapai.[]

Dr. H. Fuad Nashori/Psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Tinggalkan Komentar