Jakarta, Jurnalpublik.com – Detik ini, saya belum menemukan sistem politik dan pemerintahan yang bisa diterima semua pihak. Memberikan kesempatan yang sama kepada semua pihak meraih kekuasaan.

Jika kita tinggal di China, Korea Utara atau Arab Saudi, jangan pernah bermimpi bisa memilih pemimpin yang kita kehendaki, apalagi duduk di parlemen. Lebih tak mungkin lagi. Peluang dan kesempatan tak terbuka secara konstitusi.

Pemilu 2019 penuh hingar bingar. Terjadi dugaan kecurangan. Kita harus bisa bedakan kecurangan dan bangunan demokrasi itu sendiri. Biar jelas kita bersikap. Jangan hanya karena ada sedikit kesalahan rumahnya pun kita rubuhkan.

Jika memang ada kecurangan, bekerjalah mempersiapkan barang bukti kecurangan itu. Buktikan dipengadilan. Bukan mengeluarkan fatwa diskualifikasi. Itu tidak ada kekuatan hukumnya. Akhirnya, fatwa tersebut sekadar opini. Ini bisa merusak kesakralan sebuah fatwa.

Selama Anda hanya berkoar-koar ada kecurangan, sementara tak menyiapkan bukti-bukti untuk dibawa ke pengadilan. Ini artinya, Anda sedang mengigau di alam demokrasi.

Kesempatan dan jalannya terbuka untuk buktikan jika ada kecurangan Pemilu. Buktikan di pengadilan. Karena ini cara paling elegan mendiskualifikasi kompetitor Anda. Maaf, bukan dengan mengeluarkan fatwa.

Didiklah diri  kita masing-masing bersikap konstitusional dan taat hukum. Cari keadilan lewat pranta hukum. Inilah jalan peradaban yang sedang kita pilih. Bukan jalan tanpa hukum dan aturan. Kita harus berjalan diatas koridor hukum itu. Inilah bukti jika kita beradab.

Marilah kita jaga demokrasi ini. Demokrasi ini memberikan peluang kepada siapa pun. Demokrasi menjadi pranata sosial dan politik dalam sirkulusi elit.

People Power, lupakan…! Ketika Anda melakukan itu, siap-siaplah dengan kemungkinan terburuk, negeri ini kembali pada sistem otoriter. Itu adalah bayaran yang lazim terjadi ketika people power gagal.

Thailand, kegagalan people power, militer kembali pada kekuasaan politik. Contoh paling dekat.

Untuk ini, Kita bisa  belajar dari kasus Mesir. Karena salah kelola oleh elit, Demokrasi hanya bisa bertahan satu tahun. Militer kembali berkuasa.

Contoh lain, Kita bisa lihat dan berkaca pada negara gagal. Semacam Venezuela, krisis politik berkepanjangan. Kalah jadi abu, menang jadi arang. Semua menderita. Apalagi rakyat.

Kita harus jaga demokrasi ini. Jangan biarkan dirusak. Soal demokrasi, tugas kita tinggal satu langkah lagi, membuktikan demokrasi juga bisa membawa rakyat jadi sejahtera.

Kampoeng Cerewet, 2 Mei 2019

Bung Adi Siregar
(bungadisiregar.wordpress.com)

Tinggalkan Komentar