Jakarta, Jurnalpublik.com – Sebagai pengingat diri, saya selalu tertegun setiap kali membaca ayat, “dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”..

Yang membuat saya tertegun adalah, saya menemukan betapa banyak sekali rezeki yang kita terima adalah halal namun tidak thayib.

Dan amat disayangkan, kita sama sekali tidak memperdulikan thayibkah rezeki dan makanan kita. Kita merasa rezeki yang sampai kepada kita sudah seharusnya menjadi rezeki kita, karena kita sudah bersimbah keringat mendapatkannya.

Saya tidak akan bicara terlalu jauh seperti seorang ustadz atau kyai yang demi menjaga thayibnya makanannya beliau menanam berasnya sendiri dengan hasil kerja tangannya sendiri, saya tidak akan membicarakan itu.

Saya teringat ketika kecil, ketika keluarga kami dulu memiliki konveksi. Saya melihat berseliwerannya barang kantau.

Sepemahaman saya, barang kantau adalah barang halal yang tidak baik. Kita cukup membayar dengan murah lalu dapatlah barang dengan kualitas bagus. Sebagian mungkin sisa ekspor yang tidak terjual lalu dijual seadanya, murah sangat, sebagian lagi barang tidak laku lalu dijual murah sangat.

Yang lucu, jika memang tidak laku kenapa ada yang membelinya lalu bisa menjual dengan harga yang lumayan. Bukankah seharusnya dibayar dengan harga pantas untuk pembuat barang tersebut kemudian dijual kembali dengan harga yang pantas juga.

Sebagian barang kantau tersebut, jika hanyalah bahan, adalah strategi tukang potong yang membuat gelaran menjadi lebih panjang dari pola seharusnya, dan ketika akan dipotong akan dipakai pola yang lebih pas sehingga akan banyak bahan lebih yang bisa dibawa pulang oleh tukang potong, yang tidak diketahui pemilik konveksi tentunya, untuk kemudian dijual oleh tukang potong tersebut. Kisah dalam menjualnya bisa macam-macam, sisa bahan, kelebihan, salah potong, atau apapun.

Dan saat itu saking banyaknya seliweran barang kantau, saya teringat mama saya berkata, “jangan pernah menerima uang dari orang yang terlibat dengan barang kantau.”

Sampai sebegitunya mama saya berpesan, karena usaha menjaga yang thayib memang seharusnya sama seperti usaha kita menjaga yang halal.

Untuk makanan yang tidak thayib, saya mendengar cerita perihal barang tidak thayib yang “tidak diperdulikan” QC pabrik, apapun produknya.

Dalam proses produksi di pabrik yang barang-barangnya dijalankan melalui mesin, selalu saja ada yang salah atau bahkan sekedar jatuh dari jalur mesin produksi. Dan barang-barang yang jatuh tersebut dikumpulkan oleh salah seorang oknum untuk kemudian dijual dengan harga sangat miring.

Mungkin nampak halal karena kita mengeluarkan uang untuk mendapat makanan tersebut, namun apakah uang tersebut sampai kepada orang yang seharusnya menerima?

Terlalu banyak sebenarnya contoh rezeki dan makanan yang tidak thayib dihadapan kita.

Hal yang thayib mungkin nampak sepele, tapi itu adalah hal yang wajib kita perhatikan setelah halal.

Rezeki dan makanan yang halal dan thayib tidak hanya rezeki yang didapat dari bersimbah keringat tapi juga didapat dengan cara yang baik.

Entah itu keuntungan usaha kita yang kita peroleh dari kerja keras karyawan kita, entah itu tips yang kita dapat dari klien perusahaan kita, entah itu sepotong makanan yang kita bawa pulang kerumah.

Terlalu jauh kita bicara menegakkan Islam, terlalu jauh kita bicara membentuk anak penghapal Quran, kalau ternyata kita tidak bisa menjaga thayibnya sekedar biskuit yang kita berikan kepada anak kita.

Tinggalkan Komentar