Jakarta, Jurnalpublik.com – Akhir-akhir ini hampir seluruh “resources” (waktu, tenaga dan dana) rakyat Indonesia dihabiskan pada hasil perhitungan suara di PEMILU 2019.

Saking tidak percaya bahwa kandidatnya kalah, pada akhirnya yang menjadi sasaran tembak adalah lembaga survei dan bahkan penyelenggara PEMILU yaitu KPU.

Klaim kemenangan pun dilakukan antar kedua kubu dan tim pendukung, mulai dari mosi tidak percaya dan seruan untuk mengajak kepada aksi “people power” juga dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak merasa puas.

Sistem PEMILU kita dirancang oleh pemerintah (presiden dan DPR) dengan sebaik mungkin agar tidak terjadi kekeliruan (fallacy). Menurut Fauzi (2019), fallacy terjadi karena ketidakvalidan (invalid) dan langkah yang salah (wrong move). Sebagian fallacy dirancang untuk memanipulasi (manipulation) dan penipuan (deception). Sebagian lagi tidak disengaja karena ketidaktahuan (ignoran) dan ceroboh (careless).

Di negara-negara maju, PEMILU memiliki peranan yang sangat penting bagi politisi dan rakyat.

Bagi para politisi, PEMILU adalah suatu torehan sejarah yang sangat penting dalam kehidupan mereka. PEMILU merupakan ajang untuk mencari legitimasi dukungan dan kepercayaan rakyat agar mereka dipilih sebagai pemimpin.

Namun sebaliknya bagi rakyat, PEMILU adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi dan bahkan menghukum pemimpin yang mereka pilih sebelumnya. Jika pemimpin sebelumnya tidak amanah, maka rakyat tidak akan memilihnya kembali. Selanjutnya rakyat akan mencari alternatif pemimpin yang mampu memenuhi keinginan mereka.

Di Negara bagian California, ada sebuah kota bernama Sunol. Rakyat Kota Sunol ingin menyerukan aspirasinya, mereka menginginkan Kota Sunol menjadi kota yang keamanannya terjamin. Namun aspirasi rakyat Kota Sunol tidak pernah sampai ke telinga para pengambil kebijakan di kota tersebut. Pada tahun 1981, tibalah masa pemilihan Walikota Sunol. Seluruh rakyat Kota Sunol lebih memilih hewan peliharaan menjadi Walikota mereka dari pada memilih politisi. Namanya Bosco Ramos, merupakan jenis anjing Labrador hitam.

Bosco telah mencatat sejarah dengan menjadi Walikota selama 13 tahun di Sunol. Saat PEMILU, Bosco berhasil menyingkirkan dua kandidat calon walikota yang berasal dari kalangan politisi. Bosco juga melakukan berbagai kegiatan seperti pemimpin pada umumnya yaitu peresmian acara, menghadiri talk show ditelevisi, bahkan mengikuti parade. Kecintaan rakyat terhadap Bosco membuat mereka mengabadikan patung Bosco di bawah tugu jam Kota Sunol, lengkap dengan syal klasik yang biasa dipakai si anjing.

Selain itu dunia juga pernah mencatat sejarahnya. Namanya Saparmurat Niyazov, nama ini mungkin cukup asing ditelinga. Jika pun tahu, kita mungkin hanya menganggapnya sebagai salah satu presiden yang pernah memerintah Turkmenistan.

Sekilas memang seperti seorang presiden biasa, namun tidak banyak orang yang kenal jika Niyazov adalah pemimpin diktator dengan kelakuan sangat buruk. Bahkan Kim Jong Un sang diktator Korea Utara, masih lebih baik daripada Niyazov. Dimasa kepemimpinannya, Niyazov banyak melakukan hal-hal diluar akal sehat manusia. Di Turkmenistan ada hari libur bernama Melon yang diperingati dengan pesta hura-hura. Alasan dibalik perayaan ini sangat konyol yaitu Niyazov adalah pecinta buah melon kemudian diciptakanlah hari libur untuk buah kesayangannya. Padahal hari libur tersebut jatuh setiap hari minggu. Selain itu, Niyazov menciptakan buku wajib bernama Ruhnama. Buku ini sendiri berisi filsafat serta sejarah-sejarah yang ditulis oleh Niyazov. Hal yang gila dari buku ini adalah kewajiban semua orang Turkmenistan untuk menghafalkannya. Ruhnama juga masuk dalam kurikulum di sekolah dan perguruan tinggi. Bahkan untuk tes melamar pekerjaan, buku ini juga jadi syarat lulusnya. Niyazov mengatakan bahwa jika buku ini sangat suci, barang siapa yang membacanya tiga kali maka jaminannya adalah surga. Dan seluruh rakyat Turkmenistan pun ikut melaksanakan kenarsisan dan kegilaan Niyazov selama 15 tahun kepemimpinannya.

Indonesia baru saja menggelar PEMILU serentak terbesar di Dunia, jangan sampai 25 Triliun dana PEMILU yang kita habiskan hanya untuk menciptakan rakyat kita menjadi seperti rakyat Sunol dan rakyat Turkmenistan, serta pemimpin kita yang terpilih nanti menjadi pemimpin seperti Bosco dan Niyazov. Jika melihat kedua kisah pemimpin dan rakyat tersebut sungguh sangat menggelikan sekaligus memilukan.

Kedua kisah tersebut begitu kontras, pemimpin tidak mau mendengarkan apa keinginan rakyat dan rakyat yang tidak bisa menyuarakan keinginan mereka kepada pemimpin. Apabila hal ini benar-benar terjadi, maka PEMILU adalah sebuah Fallacy.

Ahmad Fadhli
(Mahasiswa Doktor Ekonomi Sumberdaya IPB/ Peneliti Voxpol Center)

Tinggalkan Komentar