Tambang Freeport di Papua

Jilbab biru tua terakhir yang penulis bawa untuk ekspedisi Baduy itu sudah berdebu dengan cipratan lumpur, jalan menanjak dengan sungai sungai yang selalu jernih tampak masih butuh untuk diadaptasi bagi penulis dan teman – teman satu kelas SMA. Pegal, tulang seperti copot – copot, makin tidak bertenaga kala dilewati anak – anak Baduy yang berlari – lari lincah menanjaki jalan sambil membawa dua bakul durian.

Kakak senior universitas yang entah bagaimana pihak sekolah hadirkan terus memberi semangat. Katanya, sebentar lagi akan memasuki wilayah desa Baduy Dalam, desa yang keramat, juga terhormat. Hingga penulis tiba di satu kawasan rumah rumah panggung. Indera penglihatan penulis tertarik dengan kendi – kendi air yang tersedia di tiap rumah bagian depan, seperti menyediakan tiap orang yang kebetulan lewat. Kakak senior yang terus mengawal perjalanan berkata, mereka memang menyediakan untuk pengunjung, begitulah kebiasaannya.

15 tahun berlalu, entah apa dialog lengkap antara penulis dengan sang kakak senior, namun yang jelas, pembicaraan terhenti ketika dia mempertanyakan, sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan peradaban modern?. Penulis hanya diam sambil mengutuk diri, salah apa penulis sehingga ditanyakan sebuah pertanyaan yang harusnya  muncul di kertas ulangan harian mapel Antropologi. Lalu kakak senior itu menjawab sendiri, definisi peradaban modern bagi masyarakat Baduy berbeda jauh dengan apa yang selama ini kita nikmati di kota. Disitu penulis hanya bisa diam, dan menggaruk pipi sebagai perwakilan dari seluruh badan yang gatal sebab tidak mandi secara layak menurut standar sendiri, karena di Baduy tidak boleh mandi menggunakan sabun kimia.

Siapa sangka, jika dialog tersebut akan terus muncul dan mendobrak pikiran hingga hari ini dengan bahagia dia terbebas dari hanya sekedar sebuah ingatan. Yang akan menjadi ruh dari tulisan di tengah pembaca sekalian.

Memang, judul panjang ini penulis dedikasikan untuk warga masyarakat yang lingkungannya terdampak perusahaan penyedia energi, seperti yang diceritakan utuh oleh Film Sexy Killer dengan durasi 1 jam 28 menit di channel Youtube Watchdoc. Sebuah film yang oleh kawan pekerja pabrik kebun sawit namakan sebagai film propaganda jahat karena tidak fair dan memainkan emosi penonton. Sampai tega bicara, “ya yang bersaksi di film itu ga dibayar?”.
Dengan tegas saya katakan, “Meskipun dibayar, mereka tetap korban,”. Meskipun pada akhirnya penulis tidak bisa lama berdialog, karena minimnya pengetahuan soal tata kelola migas di negeri ini. Jadi, dengannya, penulis hanya menerima keluhan saja soal Film Sexy Killer tersebut.

Teman ini terus menghujani penulis dengan argumentasi, apa jadinya negara jika tidak ada listrik, tidak ada listrik berarti pembangunan tidak jalan. Maka apa yang dilakukan Greenpeace dengan propagandanya tersebut hanyalah untuk sebuah hal sexy lainnya, uang. Penulis tertawa, sekaligus berkata, memang negara malas sekali ya atau tidak mau membayar mahal sebuah penelitian pembangkit listrik dengan tenaga yang ramah, misal dengan panas bumi atau mungkin mikro hidrolik. Meski pada akhirnya untuk tawaran terakhir, si teman berkata, apa yang bisa dilakukan dari mikro hidrolik, menerangi satu kampung saja tidak bisa.

Entahlah, penulis tak lanjutkan dialog, karena memang tidak paham.

Hanya saja, okelah kalau alasan pemerintah untuk sebuah penghematan pengeluaran, dengan menuhankan teori pengeluaran sekecil – kecilnya dengan keuntungan sebesar – besarnya. Teori busuk yang sangat tidak masuk akal.

Ya, negara dan koorporasi “gembira” dengan pengeluaran yang dihemat tapi mendapatkan keuntungan yang besar. Tapi rakyatlah yang mati, rakyatlah yang tenggelam, rakyatlah yang kehilangan tanah, rakyatlah yang kelaparan, rakyatlah yang membayar mahal. Karena secara alami, apa diterima sebanding dengan apa yang dibayar.

Maka, kembali dengan teman yang mengatakan semua ini untuk pembangunan, untuk sebuah peradaban modern. Pertanyaan dengan contoh sederhana, bisakah kita melihat bahwa ada orang – orang yang juga warga Indonesia tidak mau menggantikan peradaban spiritualnya seperti yang ada di suku Baduy tersebut dengan peradaban materi yang hari ini orang – orang kota nikmati.

Bisakah kita menghormati kearifan tersebut? Dan bisakah para penguasa yang sebentar lagi akan ditetapkan oleh KPU ini bisa menjembatani seluruh kepentingan yang ada. Tanpa ada yang tertindas, dari pihak manapun, dengan aturan yang sehat dan penegakan hukum. Karena percuma Indonesia menjadi negara 5 besar dunia, jika dilakukan dengan cara berbuat ketidak adilan terhadap sebagian rakyat demi membuncitkan perut sebagian rakyat lainnya.

Tinggalkan Komentar