Jakarta, Jurnalpublik.com – Jika kita membayangkan perdebatan pemilu yang berlangsung berbulan-bulan, kita yang tidak punya data, akan disuguhkan keributan dan dipertontonkan oleh dua kubu yang selalu bertabrakan. Sikap bully antar pendukung jadi tontonan sehari-hari di televisi, media sosial dan mungkin obrolan antar tetangga. Sexy Killers adalah film yang akan menutup masa kampanye dengan cukup waras. Seruan kaum golputer, ini dibayar dengan tuntas dan meyakinkan publik bukan dengan omong kosong yang tidak bertanggungjawab.

Sebelum ada kelompok yang menilai negatif dengan film dokumenter ini. Anda harus mengenal Watchdoc Documentary lebih dalam. Sebuah Rumah Produksi Film dokumenter yang kritis, investigatif dan memberikan banyak perspektif dalam mengungkap persoalan dari berbagai sudut pandang. Saya kira hal ini dulu, yang harus kita pahami dalam berdemokrasi di tengah lalu lintas informasi yang setiap hari lalu-lalang.

Watchdoc sepanjang tahun 2015 telah melakukan perjalanan 1 tahun keliling Indonesia, mendokumentasikan hal-hal menarik. Perjalanan tersebut diberi nama Ekspedisi Indonesia Biru yang terinspirasi dari gagasan Gunter Pauli terkait ekonomi biru. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2010 “The Blue Economy: 10 Years – 100 Innovations – 100 Million Jobs. ”Ekonomi biru menerapkan logika ekosistem, yaitu ekosistem selalu bekerja menuju tingkat efisiensi lebih tinggi untuk mengalirkan nutrien dan energi tanpa limbah untuk memenuhi kebutuhan dasar bagi semua kontributor dalam suatu sistem. Ekonomi biru menitikberatkan pada inovasi dan kreativitas yang meliputi variasi produk, efisiensi sistem produksi, dan penataan sistem manajemen sumber daya.

Hasil garapan Ekspedisi Indonesia Biru ini tidak main-main. Ada  sekitar 50 Seri Film Dokumenter dan saya sangat menikmati film karya Dandhy Dwi Laksono dan Suparta AZ ini bersama mahasiswa di kelas dan bermacam komunitas. Era digital sekarang ini kita bukan hanya dituntut memiliki data, tapi bagaimana gerakan perlawanan itu muncul di barisan masyarakat paling bawah. Persoalan yang paling serius diungkap dalam film ini pada dasarnya bukan  saja kritik terhadap elite, tapi bagaimana bangsa ini bisa membangun energi alternatif yang tidak merusak lingkungan hidup. Film-film Watchdoc dalam ekspedisi Indonesia Biru sangat serius menyuguhkan bagaimana suku adat di pelosok negeri sudah memulai meskipun negara mengabaikan. Misal Dokumenter Kasepuhan Ciptagelar potret energi Panel Surya dan Micro Hidro. Sebuah komunitas adat Sunda Wiwitan yang membuktikan kemampuan mereka membangun energi alternatif. Mereka memiliki Pemancar Televisi Ciga TV, Lumbung Padi menampung suplus panen dan potret masyarakat yang survive memegang adat sebagai perjuangan menjaga alam.

Korban Batu Bara?

Sexy Killers mengungkap ada 3500 lubang Bekas Tambang di Kalimantan. Dalam undangan Komisi VII DPR RI, ada 290 pemilik Tambang yang tidak memberi jaminan lingkungannya dengan baik. Dari Komposisi tanah diambil 5, asumsi kandungan tambang batu baranya 1. Tambang Batu Bara ini kemudian menyisakan kubangan air di tengah hutan dan menelan banyak korban. Sepanjang 2018, sudah 30 orang meninggal dan mayoritas anak-anak. Kubangan raksasa ini bahkan ada pada posisi tepat di belakang sekolah dasar dengan hanya sebagaian ditutup pagar seng. Di Indonesia sendiri ada Ada 8 juta lubang bekas tambang yang belum direklamasi.

Saat debat-debat Pilpres di televise, kedua calon presiden hampir tidak memiliki pendapat yang berbeda soal kubangan bekas tambang batu bara. Kubu O1 menyampaikan,”kami akan melakukan penghutanan kembali, reklamasi kembali, akan dibuat pantai wisata, kolam ikan besar, perlunya pengawasan pemerintah daerah dan kementerian lingkungan hidup, dan saya yakin bisa diselesaikan”, ujar Jokowi di debat Pilpres. Sedangkan Kubu 02 berpendapat, ”Kita akan kejar terus para perusak lingkungan hidup.” Menanggapi hal tersebut kedua capres se-iya se-kata, seolah persoalan tambang ini bisa diselesaikan di pangggung debat, sedangkan di lapangan bekas tambang terus menelan korban. Prabowo juga menambahkan dengan manafikan data lapangan, “Kalau kita tidak ada perbedaan, kenapa kita diadu adu untuk ribut terus. Saya kira kita setuju (statement jokowi) dengan hal itu .” Ujar Prabowo.

Beberapa data menunjukkan, contoh penambangan Batu Bara di Sanga-Sanga Kalimantan, 5 rumah ambles dan 11 rumah rusak. Peraturan jarak tambang dengan pemukiman setidaknya 500 meter, faktanya di Kutai Kartanegara tidak demikian. Rumah-rumah warga retak, pintu dan jendela tidak bisa ditutup karena tanah bergeser. Desa yang dibangun dari transmigran Jawa berjumlah 3000 jiwa, sekarang banyak yang pergi setelah ada penambangan batu bara. Keinginan warga berakhir tanpa pilihan, semua lahan ingin dibebaskan, padahal Tahun 1991 desa ini diputuskan sebagai desa lumbung padi.

Pada tingkatan lokal daerah, perusahaan tambang juga menunggangi pilkada. Mereka membiayai calon-calon kepala daerah yang pro Tambang Batu Bara. Protes-protes warga tentang “Tambang Tunggangi Pilkada Serentak” dilakukan oleh aktivis yang peduli. Korban lingkungan dan nyawa adalah harga yang harus dibayar oleh warga. Di lain tempat, Tongkang Batubara hilir mudik melewati Karimun Jawa dan merusak terumbu karang akibat jangkarnya. Kapal Tongkang ini mamasok batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Bahkan PLTU juga sedang dibangun di Batang, Jawa Tengah, dan dinyatakan sebagai PLTU terbesar se-Asia Tenggara. Gubernur Jawa Tengah diminta Jokowi mengurusi pembebasan lahan. Belum selesai soal Semen di Kendeng Jawa Tengah, kini Ganjar Pranowo harus menghadapi protes warga, khususnya petani Batang. Sawah-sawah warga belum dijual tapi sudah dipagar rapat oleh Pemerintah. PLTU ini dibangun dengan kapasitas 2000 watt dengan konsumsi batu bara 600 ribu ton atau 2 sampai 3 tongkang per hari. Bahkan 2 warga yang menolak menjual tanahnya mengalami kriminalisas di delik telah melakukan kekerasan.

Di Palu, PLTU Panau dampaknya sangat serius. Warga menderita alergi debu dan sakit paru-paru. Ada lebih 20 korban yang sebagian sudah meninggal. Salah satu warga bernama Novi berobat ke Jakarta sudah 8 bulan di Rumah Sakit Kanker Darmais. Novi sudah menjalani 9 kali kemoterapi. Harvard University dan Greenpeace menyatakan batu bara di Indonesia menelan korban 6500 jiwa setiap tahun atau 17 kematian setiap hari. Di Panau tercatat sudah 7 orang yang meninggal, dan masih banyak catatan-catatan Watchdoc dalam Sexi Killers, sehingga membuka mata kita untuk bertanya lebih jauh siapa pemilik saham Batu Bara di negeri ini?

Oligarki

Siapakah pemilik saham tambang batu bara di negeri ini dan telah merenggut banyak korban? Di kubu Jokowi-Amin, ada nama terkait langsung dengan bisnis tambang dan energi yakni Luhut Binsar Pandjaitan, Fachrul Razi, dan Suadi Marasambessy. Mereka tergabung dalam tim Bravo 5. Selain mereka ada nama lain seperti Hary Tanoesoedibjo, Surya Paloh, Sakti Wahyu Trenggono, Jusuf Kalla, Andi Syamsuddin Arsyad, dan Oesman Sapta Oedang. Di kubu Prabowo-Uno, lebih gamblang lagi. Prabowo dan Sandiaga Uno sendiri merupakan pemain lama sektor tambang dan energi. Ada juga Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, Maher Al Gadrie, Hashim Djojohadikusumo, Sudirman Said, Ferry Mursydan Baldan dan Zulkifli Hasan.

Yang menarik PT Saratoga Investama milik Sandiaga Uno, telah melepas sebagian sahamnya sebesar 130 miliar ke Perusahaan PT Toba Bara milik Luhut Binsar Panjaitan. PT Toba Bara memiliki 50 lubang tambang sehingga total kepemilikan tambang batu bara  Luhut Binsar Panjaitan berjumlah 14 ribu hektar. PT Toba Bara pada akhirnya memiliki usaha dari hulu ke hilir dari tambang batu bara sampai pada pemilik Saham PLTU di beberapa daerah. Grup Toba Sejahtera terbagi ke dalam 6 anak usaha yang terdiri dari Toba Coal and Mining, Toba Oil and Gas, Toba Power, Toba Perkebunan dan Kehutanan, Toba Industri dan Toba Property and Infrastructure. Anak usaha tersebut terbagi lagi menjadi 16 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor.

Sandiaga Uno juga memiliki perusahaan PT Multi Harapan Utama, PT Saratoga Investama, dan PT Adaro Energy dimana sebagian saham Adaro Energy juga dimiliki oleh adik kandung Erick Tohir selaku ketua Tim Pemenangan Kubu 01. Hasyim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto, memiliki saham di PT Batu Hitam Perkasa dan sejumlah perusahaan lainnya, keluarga ini adalah pemain lama batu bara. Sexy Killers menyuguhkan alur bagan yang jelas, siapa berhubungan dengan siapa, bekerjasama dengan siapa meskipun di panggung politik mereka seolah menawarkan diferensiasi dan jargon-jargon kerakyatan. Film ini memberikan data yang jelas sebuah oligarki demokrasi. Oligarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok kecil elite dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer.

Direktur Pengembangan Kesetaraan dan Studi Globalisasi Northwestern University, Amerika Serikat, Jeffrey Winters mengatakan, dinamika politik pemerintah Indonesia hingga kini masih dikuasai para oligark (elite) dengan kepentingan kekuasaan. Winters menyatakan selepas era Orde Baru hingga memasuki masa reformasi, belum ada pola perubahan sistem pemerintahan yang fundamental dimana kekuasaan berbasis kepentingan masih membudaya dan terpelihara di kalangan figur politik. Kontestasi Pilpres 2019 adalah drama kaum oligarki yang memberikan kerusakan-kerusakan baru di tengah masyarakat. Selain perusahaan mereka telah banyak menelan korban nyawa dan kerusakan ekosistem lingkungan hidup, mereka juga sukses membelah masyarakat menjadi golongan yang menghamba pada perubahan semu. Partai-partai di negeri ini, saya kira, juga tidak lepas dari politik rente dan mengemis pada elite pemilik perusahaan tambang. Mereka menjalankan roda partai politik dengan bersembunyi di balik ketiak perusahaan.

Semua perdebatan kosong di media sosial disebabkan oleh lemahnya pengetahuan data yang dimiliki oleh warga. Aktivis lingkungan di sekitar tambang juga belum mampu melakukan konsolidasi nasional dan melakukan upaya terstruktur untuk membuka semua kekacauan tambang negeri ini. Di tengah panggung, seorang capres bisa dengan fasih bicara UUD 1945 Pasal 33 bahwa “bumi, air, tanah dan seluruh yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyat”, namun dia adalah bagian dari sedikit kaum oligarki yang menguasai berbagai tambang dan tanah-tanah HGU.

Tidak ada pilihan lain, kecuali kita harus memulai mengembangkan energi alternatif dan melawan bentuk oligarki dengan sistem yang kita yakini, meskipun pada tingkat struktur masyarakat yang paling kecil.***

Dharma Setyawan adalah dosen IAIN Metro/ Penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi

Sumber: indoprogress.com 

Sexy Killers, Batu Bara dan Oligarki

Tinggalkan Komentar