Jakarta, Jurnalpublik.com – Ada yang bertanya hubungan UAS (Ustaz Abdul Somad) dan UAM (Ustaz Anis Matta). Saya jawab, “beliau (UAM) juga sudah plong, mirip kayak UAS.” Mungkin yang bertanya iseng saja karena saya sering menulis tentang UAM. Dan menulis tentang UAS, baru-baru ini saja. Tapi itu serius. UAM memang sudah plong kayak UAS, bahkan sudah sejak awal. Plongnya dalam hal yang berbeda, tapi sebetulnya sama saja.

UAS baru difitnah sesudah ia menyatakan dukungan langsung kepada Prabowo. UAM difitnah sesudah, bahkan saat ia masih menjabat posisi di PKS. Sesudah tak menjabat lagi, ia masih saja difitnah macam-macam. UAS masih untung hanya difitnah soal harta dan perempuan. UAM difitnah tak hanya soal harta dan perempuan, juga soal agen susupan, orang lain di tengah kita, ambisius, memenjarakan teman, dan lain-lain. Lebih hebat ‘kan? Maka plongnya juga lebih hebat.

Karena sudah plong, menang-kalah sudah tak penting bagi UAS. Tapi bagi Prabowo, dan umat, menang tentu masih jauh lebih penting. Tapi, tanggung jawab atau beban moralnya secara pribadi, sudah lepas. Ia juga mensyaratkan jangan mengundangnya ke istana, jangan memberi jabatan apa pun, kalau nanti menang. Karena itu bukan tujuannya, bukan visi-misinya, bukan bidangnya, tepatnya itu bukan lagi urusannya. Urusannya sudah selesai sebagai pembawa pesan. Itu sudah cukup.

UAM juga sudah tak ada urusan dengan PKS, menang atau kalah, lolos PT atau tak lolos PT, sesuai target atau tak sesuai target, dua digit atau tetap satu digit. Ia sudah bergerak saat namanya dicalonkan sebagai capres-cawapres. Tak dicalonkan, bahkan memang tak ada calon, itu bukan urusannya lagi. Ia sudah plong karena sudah menjalankan tanggung jawab. Ia dianggap lepas tangan setelah tak menjabat lagi. Ia turun tangan, tapi dihalang-halangi, dicegal, itu bukan urusannya lagi.

Bahkan, ia tak menolak saat namanya tak ditunjuk lagi sebagai Presiden PKS. Ia masih diinginkan banyak orang, tapi ia tetap turun dan berpidato dengan sangat baik sebagai negarawan yang berdiri di atas perbedaan pendapat. Ia masih juga difitnah macam-macam, itu bukan urusannya lagi. Persis seperti UAS yang sudah bisa tidur nyenyak, tapi pemfitnahnya masih susah tidur karena mencari kekurangannya. Standar moral UAS dan UAM terlanjur diletakkan terlalu tinggi, sehingga apa pun yang dilakukan orang untuk menjatuhkannya sudah tak bisa. Walau dilakukan temannya sendiri sekalipun.

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar