Nisa dari Grup Sabyan dalam kampanye akbar Prabowo - Sandi

Hari ini dunia politik kita di ramaikan dg perbincangan dua AKP.

Pertama , AKP di Indonesia, semalam di grup Whatsapp saya di bredeli berita yang menghebohkan dari Garut. Garut ini memang fenomenal, beberapa peristiwa lokal kemudian menjadi sebuah berita nasional, wajar saja ada sebuah media lokal Garut dengan memakai tagline “dari Garut Untuk Dunia”.

Dalam kurun satu tahun ini ada 3 peristiwa yang menghebohkan di Garut dan menjadi Trending Topic berita Nasional, sebut saja pengusiran UBN (Ustadz Bachtiar Nasir, Red), saat itu tiba-tiba dikabarkan sebuah ormas menolak kedatangan UBN yang saat itu dijadwalkan menjadi mubaligh acara tabligh akbar yang digagas oleh gabungan beberapa elemen di Kabupaten Garut, dari sana akhirnya menjadi perbincangan dan menggelinding menjadi sebuah gelombang aksi nasional dan solidaritas, apa yang terjadi setelah penolakan tersebut? sebaliknya bukannya gagal acaranya, justru membuat sebuah gelombang besar, yang tadinya tabligh akbar hanya untuk masyarakat Garut, namun akhirnya tumpah ruah berbagai masyarakat di luar kabupaten Garut pun membanjiri kota dodol ini, bahkan di luar pulau jawa juga dikabarkan turut menghadiri acara yang digagas oleh kumpulan elemen ormas di Garut itu dengan tajuk “Garut Bumi Islam”.

Kehebohan yang kedua saat terjadi di ibukota Garut yaitu Limbangan, terjadinya sebuah pembakaran bendera berlambangkan tauhid yang menyulut aksi solidaritas, dan lagi-lagi Garut menjadi Trending Topic pembakaran bendera dan gelombang aksinya menjadi perbincangan nasional, dan yang terbaru yaitu sebuah keberanian seorang “AKP” yang membongkar sebuah sikap ambigu dari sebuah Institusi yg seharusnya netral tersebut.

Kejadian ini tepatnya berawal dari suksesnya acara yang digagas oleh sekelompok salah satu relawan paslon, sebut saja Relawan Juang Brigade 02 yang saat itu merencanakan sebuah event dengan mendatangkan sosok milenial religius yang saat ini menjadi public figure kaum milenial, kolonial fenomenal dan bahkan kaum emak-emak, ya dialah Nisa Sabyan yang hadir menyapa wagra Garut di lapangan Kecamatan Pasirwangi, tempat seorang AKP tadi bertugas.

Dialah AKP Sulman Aziz yang ketika Sabyan menyapa warga Garut, posisi beliau menjabat sebagai Kapolsek Pasirwangi.

Saya sendiri sudah lebih dulu mendapat kabar bahwa mutasi AKP Sulman Aziz terjadi setelah suksesnya acara di Pasirwangi tersebut,  bahkan mencoba mencari sebuah jawaban atas sebuah peristiwa pemutasian tersebut, namun semalam ibarat sebuah halilintar yang menyambar jagat raya tiba-tiba AKP Sulman Aziz melakukan jumpa pers di kantor Lokataru yang menyampaikan bahwa beliau ditugasi oleh atasannya untuk “mengkondisikan” salah satu paslon tertentu. ya, ibarat sebuah halilintar yang menggelegar karena beberapa minggu kebelakang institusi tersebut menyampaikan sebuah telegram yang isinya tentang seruan netralitas bagi seluruh anggotanya, jika benar maka ini sebuah hipokrit bagi institusi tersebut, meskipun atasan AKP Sulman Aziz telah mengklarifikasi perihal pengkondisian tersebut, yang benar tentu hanya Tuhan dan merekalah yang tahu, selanjutnya silahkan masyarakat yang menilai. Saya sendiri sepakat dengan kata Aa gym yang menyebutkan bahwa institusi tersebut adalah pahlawan jika mereka menjadikan sikap netral pada pesta demokrasi ini untuk menjaga keberlangsungannya.

Selanjutnya, AKP kedua tadi pagi dikabarkan atas perolehan kontestasi yang terjadi di Turki.

Di kabarkan AKP sebuah singkatan dari Adalet ve Kalkinma Partisi atau dalam bahasa inggris, Justice and Development Party kira-kira jika dalam bahasa Indonesianya partai keadilan dan Pembangunan.

Sebuah partai penguasa yang didirikan oleh sang Presiden Turki saat ini, dialah Recep Tayyib Erdogan pada tgl 14 Agustus 2001, yang awalnya sebuah pecahan dari Refah Partisi atau partai kesejahteraan yang dipimpin oleh Erbakan dan kemudian di berangus oleh rezim Turki.
setelahnya, terbelahlah menjadi dua kelompok Sa’det Partisi ( SP ) dan AKP. SP berhaluan partai aliran, namun Erdogan berbeda pandangan dengan para seniornya yang akhirnya membuat sebuah partai ( AKP ) yang berhaluan moderat kanan. Awal-awal pendirian AKP banyak ditentang oleh para seniornya, Erdogan disebut “kader yang gagal” namun kegigihan erdogan membuahkan hasil, ternyata publik lebih merespon AKP daripada SP.

Yang menarik waktu pemilihan presiden kemarin, justru SP meskipun berhaluan partai aliran ( Islam ) justru berkoalisi dengan CHP sebuah partai yg berhakuan liberal yang berfatsun kepada Attaturk, terkesan hipokrit memang, tapi itulah politik.

Lantas beritanya apa ? Dikabarkan AKP mengalami penurunan pemilu serentak dipemilihan kepala daerah. Beberapa basis AKP dinyatakan hilang, angkara salah satunya, bahkan Istanbul pun hampir dinyatakan kalah, beberapa survei menjelang pilkada dikabarkan bahwa AKP kalah di Istanbul.

Salah satu sebab kekalahan AKP pemboikotan ekonomi yg di lakukan oleh US, UAE, Saudi Arabia, Bahrain dan Israel yang menyebabkan kekuatan ekonomi Turki mengalami kemunduran dari tahun -tahun sebelumnya.

Namun yang menarik saat ini justru SP yang mendapatkan nol kursi perolehan pilkada serentak bahkan dapat dikalahkan oleh AKP yang berhaluan komunis dan non partai ( independen ), masing-masing mendapatkan 1 kursi, AKP memang kehilangan 10 kursi di pemilihan kepala daerah, tapi saat ini masih mengungguli di atas CHP.

Menarik jika dikaji lebih lanjut, kenapa keberadaan SP justru bertolak belakang dengan kondisi global yang saat ini dikatakan dunia cenderung back to nature , religius, back to basic bahkan adanya shifting dari arah post modern cenderung mengulangi kembali ke arah primitive dalam hal tertentu.

Saya berharap ada berbagai lembaga untuk mengkaji antara kemandegan SP dan menguatnya iklim religi secara global?

Beberapa tahun kebelakang kita sering mendengar sebuah adagium yang digaungkan oleh partau Gerindra dan Demokrat, saya fikir mereka sudah on the track dari partai terbuka segera “shifting” ke arah kanan tengah meresepon kecenderungan global back to Religi

Lantas bagaimana nasib partai yg berhaluan kanan ekstrim ? Tentu menarik di kaji dalam kajian sosiologi politik.

Penulis: Hendro sugiarto, SE.,M.MKMT ( Penggiat GARBI dan Dosen STIE ” Yasa anggana garut “)
Editor: Zahra 

Tinggalkan Komentar