Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan gelar serangkaian kegiatan untuk memperingati hari TB se dunia (HTBS) yang jatuh pada tanggal 24 maret. Menurut Kepala Sudinkes Jaksel, Muhammad Helmi, Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi pertama yang menyebabkan kematian tertinggi di Indonesia. Diperkirakan pada tahun 2017, ada 1,02 juta penderita TBC di Indonesia dengan jumlah kematian 110.000 orang. Hal itu menempatkan Indonesia pada posisi ketiga di dunia seteah India dan China. Beban TBC di Indonesia semakin meningkat dengan adanya HIV dan TBC yang Resisten Obat.

“DKI Jakarta merupakan provinsi tertinggi di Indonesia dalam beban kasus TBC. Diperkirakan pada tahun 2019 ini ada 42.000 kasus TBC di DKI Jakarta, 8436 kasus berada di Jakarta Selatan. Oleh karena itu perlu kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan penemuan kasus TBC,” ujar Muhammad Helmi dalam keterangan rilis yang diterima redaksi.

Muhammad Helmi juga mengatakan, Sudinkes Jaksel melaksanakan melakukan serangkaian kegiatan bersama dengan puskesmas dan RS untuk mendukung peringatan HTBS. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain:

1. Edukasi TBC dengan mengikutsertakan kader kesehatan terlatih diseluruh wilayah dengan mengintegrasikan dengan kegiatan posyandu, posbindu, UKS, UKGS dan lain sebagainya.
2. Gerebek TB di RW-RW yang rawan TBC di seluruh Jakarta selatan
3. Skrining TBC pada panti asuhan dan sekolah
4. Investigasi kontak dengan melibatkan petugas puskesmas dan kader yang terlatih.
5. Skrining kesehatan pada pegawai puskesmas, kelurahan dan perusahaan.
6. Gerebek TB di lokasi yang menjadi prioritas antara lain pesantren dan markas TNI.
7. Promosi etika batuk ditempat-tempat strategis seperti busway, kampus, sekolah, dan stasiun.
8. Peningkatan komitmen RS dan Klinik swasta dengan melakukan pembinaan dan workshop.

Dari kegiatan tersebut, Sudinkes Jaksel mendapatkan hasil berupa pendataan jumlah orang yang diskreening TBC : 11.291 jiwa, jumlah suspek TBC : 906 jiwa, jumlah yang diperiksa dahak : 341 jiwa, jumlah TB yang didiagnosis : 15 jiwa.

kegiatan-kegiatan yang dilakukan ini memberikan efek positif yakni meningkatkan komitmen para pemberi layanan terhadap program TBC dan meningkatkan kemitraan dengan pihak-pihak lain. Selain itu, meningkatkan cakupan masyarakat yang teredukasi tentang TBC Sehingga upaya preventif bisa dilakukan. Harapan kedepan, kegiatan ini tidak hanya berlansung saat Hari TB sedunia tetapi erjalan secara periodic dan berkesinambungan, Sehingga tujuan untuk eliminasi TBC di tahun 2030 bisa dicapai,” tutup Muhammad Helmi. 

Tinggalkan Komentar