Jakarta, Jurnalpublik.com – Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (MPO) berharap kepada kepolisian republik Indonesia untuk tidak berlebihan dalam menangani persoalan yang menimpa salah satu aktifis, Robertus Robert.

Seperti diketahui, belakangan media banyak memberitakan tentang Robertus Robert, seorang akademisi yang juga aktifis prodemokrasi yang dituduh melakukan penghinaan terhadap institusi TNI karena orasinya dalam aksi kamisan di depan istana negara tanggal 28 Februari 2019 yang lalu.

“Jika kita perhatikan orasinya robertus robert secara lebih utuh, melalui rekaman video yang tersebar luas di dunia maya, sesungguhnya lagu itu bukanlah isi utama materi orasi. lagu itu hanyalah bagian dari penjelasan atas kekhawatiran dan ketidaksetujuan terhadap kembalinya militerisme melalui konsep dwifungsi TNI,”
kata Zuhad Aji di Jakarta, Sabtu (9/3/2019).

Menurut lulusan magister hukum UII ini, kekhawatiran dan ketidaksetujuan tersebut adalah pesan utama yang disampaikan dalam orasi tersebut yang kebetulan dalam hal ini juga sejalan dengan pemikiran HMI untuk menolak kehadiran militerisme dalam kehidupan sipil dan politik dalam negara kesatuan republik Indonesia.

“Oleh sebab itu PB HMI mengharap supaya polisi berlaku secara profesional dan adil untuk menegakan hukum dalam kasus ini dengan salah satu caranya tidak berlebihan dalam melakukan tindakan hukum,” harap Aji.

PB HMI menilai, kasus ini tidak semata-mata kasus pidana penghinaan melainkan menyangkut hak kebebasan berekspresi dan berpendapat. Lagu yang dinyanyikan oleh Robertus robert merupakan lagu yang sangat populer untuk mengkritik ABRI zaman itu dan tentu sudah tidak lagi relevan untuk digunakan saat ini.

“mengingat proses reformasi di internal tubuh ABRI (sekarang TNI) yang menurut banyak orang berjalan dgn baik,” tutup Aji

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.