Jakarta, Jurnalpublik.com – Dini hari tadi (24/2/2019) kita disuguhi sebuah final Piala Liga (Carabao Cup) yang setiap musim digelar di sepakbola Inggris. Laga yang digelar di Stadion Wembley tersebut adalah Chelsea Vs Manchester City.

Laga ini berlangsung sangat seru. Tidak seperti prediksi banyak orang di mana Chelsea bakal kalah telak lagi seperti pertemuan sebelumnya yang berakhir dengan skor 6-0. Laga ini sangat ketat, masing-masing tim sangat berhati-hati dalam menerapkan taktik masing-masing sang manajer. Alhasil, laga ini dipaksa dengan babak tambahan waktu dan diakhiri dengan adu tos-tosan atau pinalti.

Ada yang menarik sebelum drama adu pinalti. Di mana, kiper Chelsea Kepa Arizabalaga menolak untuk diganti sebelum berakhirnya babak tambahan. Kepa memang terlihat dua kali jatuh mengeluh kesakitan, dan diperiksa oleh tim medis. Lalu sang manajer Maurizio Sarri melalui staff pelatihnya, Gianfranco Zola meminta Kepa untuk diganti oleh Willy Cabalero. Tak disangka, Kepa menolak diganti. Terlihat di layar kaca TV, sang pelatih Maurizio Sarri sangat marah pada anak buahnya tersebut.

Polemik tersebut berakhir tidak menyenangkan bagi Chelsea, karena akhirnya City memenangkan adu tos-tosan dengan skor 4-3. Kepa melakukan satu penyelamatan. Meski kegagalan adu pinalti sepenuhnya menurut saya bukan salah Kepa. Karena dua eksekutor Chelsea, David Luiz dan Jorginho gagal mengkonversi menjadi gol.

Mengenai polemik penolakan tersebut, Kepa akhirnya bersuara tentang insiden itu melalui media sosial miliknya.

“Kecewa dan sedih karena gagal menjadi juara. Kami bertarung sampai akhir melawan tim hebat. Kami akan terus bekerja bersama untuk menjadi lebih kuat,” kata Kepa.

“Saya juga ingin mengklarifikasi sejumlah fakta dalam pertandingan hari ini. Yang pertama, saya menyesal bagaimana kesan yang muncul pada akhir pertandingan. Tidak ada niat saya untuk mengingkari pelatih atau segala keputusannya,” Kepa melanjutkan.

“Saya pikir semuanya ini terjadi karena kesalahpahaman dalam suasana panas pertandingan final perebutan sebuah gelar. Pelatih berpikir saya tidak dalam posisi bisa bermain dan saya berkeinginan menunjukkan sikap bahwa saya dalam kondisi baik untuk terus menolong tim,” Kepa menegaskan.

“Ketika dokter merawat saya di bangku cadangan dan memberi pesan, saya merasa bahwa kesan yang terjadi tidak sesuai dengan maksud saya. Saya menghormati penuh pelatih dan wewenangnya,” kata Kepa.

Kesalahan Komunikasi

Seolah-olah kita melihat insiden ini sebagai bentuk pembangkangan sang pemain terhadap pelatih, namun saya melihatnya ini hanya miss komunikasi saja antara pemain dan pelatih.

Dugaan saya, ada keinginan kuat Maurizio Sarri mengganti Kepa karena Willy Cabalero punya riwayat yang bagus dalam adu pinalti, selain memang Kepa terlihat dua kali mengalami kesakitan.

Namun, oleh Kepa ditangkap ia akan diganti karena ia cidera. Ekspresi penolakan tersebut sebenarnya ia hanya ingin meyakinkan sang manajer, bahwa ia baik-baik saja dan siap melanjutkan pertandingan.

Inilah miss komunikasi tersebut. Antara keinginan dan pemahaman manajer dan pemain tidak sama. Hal ini juga sering terjadi dalam organisasi/tim. Ada pergantian ketua organisasi/perusahaan, dipahami oleh yang akan diganti karena kinerja buruk atau karena pelanggaran, padahal belum tentu. Ia diganti karena atasan atau manajer melihat ia lebih prospek di tempat dan posisi yang berbeda.

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung hal-hal yang kebetulan berkaitan, sama sekali tidak. Tulisan ini hanya mengurai kesalapahaman (miss komunikasi) yang sering terjadi dalam tim atau organisasi.

Jika hal ini dibicarakan dengan tenang dan cermat, tentu hal ini tidak akan terjadi. Misal Kepa melalui kaptennya mengatakan ke manajer, ia baik-baik saja dan siap melanjutkan permainan. Namun, jika karena taktik, sang manajer melalui kaptennya juga harus mengatakan ke Kepa bahwa ia sengaja menggantinya untuk keperluan taktik.

Hal yang mudah bukan jika semua dibicarakan dengan kepala dingin dan tanpa marah-marah atau curiga.[]

Tinggalkan Komentar