Jakarta, Jurnalpublik.com – Tiap anak sebenarnya punya mimpinya sendiri. Entah menjadi apa, mungkin orangtua tak tahu, atau mungkin orangtua malah tak mau mengerti. Tapi bukankah seharusnya itulah yang orangtua lakukan untuk anaknya, mengantarkan anak-anak pada mimpi mereka.

Kita mungkin sudah pernah mendengar, anak-anak adalah anak zamannya. Apakah zaman mereka zaman yang penuh teknologi, seperti sekarang ini, atau zaman yang penuh perjuangan, seperti zamannya Bung Karno dan Bung Hatta, orangtua tak sepenuhnya tahu.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang ibu yang sedang menghadapi anak perempuannya yang tidak mau mendengarkan saran ibunya agar anaknya kuliah jurusan bahasa Inggris, karena menurut ibunya, anaknya tersebut pintar bahasa Inggris.

Mungkin saran ibu tersebut terlihat benar, begitupun dimata kita semua, juga terlihat benar. Tapi begitu kita bertanya pada sang anak, sang anak berkata ingin kuliah jurusan politik.

Sang anak berkata, dia ingin membangun bangsa, mengabdi pada negaranya, Indonesia.

Dan jawaban ibunya atas mimpi sang anak tersebut terdengar realistis bagi semua orang, “negaramu nggak akan ngasih kamu makan nak! Kamu mau makan apa dari bangsamu ini. Kamu perlu cari makan sendiri!.”

Sang anakpun tidak bisa mendebat ibunya, meskipun dia sudah cukup besar untuk menjawab perkataan ibunya.

Ya, kita cukup tahu nasib para pejuang bangsa, mati miskin, mati dipenjara, atau mati di pengasingan. Sengsara, sangat sengsara.

Lantas, tak perlu lagi kini kita bertanya, siapa yang akan memimpin bangsa ini karena kita sibuk memikirkan diri kita sendiri.

Karena masing-masing kita sibuk mengisi perut kita sendiri, toh kalau kita tua, anak-anak kita harus memberi kita makan dengan kemapaman mereka.

Atau mungkin masing-masing orangtua sibuk memikirkan agar di akhirat kelak dipakaikan mahkota oleh anak-anak mereka, tak perlu pikirkan bangsa dan dunia ini.

Kita mungkin perlu sadar, bangsa ini tidak akan besar jika kita hanya menyumbangkan kuota untuk menghujat lawan pilihan politik kita di medsos.

Bangsa tidak bisa dibangun hanya dengan sekedar memilih pada pemilu. Beberapa contoh negara yang hanya mengandalkan pemilu, terpuruk hari ini, jangankan berangan pemimpin beragama, berangan esok bisa selamat saja sudah beruntung.

Terpikirkah oleh sang ibu tersebut dan oleh kita semua, jika orangtua para pejuang bangsa kita dulu, berkata sama seperti ibu tersebut pada anak-anak mereka, agar tak perlu menjadi pejuang yang sangat menyiksa itu, tak perlu menjadi pejuang yang menghilangkan hargadiri bahkan nyawanya itu, mungkin hari ini kita belum merdeka?!

Andai, ibu itu mendengarkan anaknya tersebut. Mungkin beberapa tahun lagi, kita sudah memiliki patriot bangsa yang memperjuangkan bangsa ini.

Mungkin beberapa tahun kemudian, bangsa ini sudah menjadi lebih besar, karena anak-anak yang lain yang juga berjuang meraih mimpinya didukung oleh keluarga dan orang-orang sekitar mereka.

Mungkin bangsa ini sudah melesat maju dengan patriot-patriot bangsa yang berjuang dengan kesungguhan jiwa raga mereka.

Oleh sebab itu tak perlu kita orangtua masih memaksakan kehendak kita akan menjadi apa anak kita, akan sekolah dimana anak-anak kita.

Mungkin kita sudah terlalu lama bermain hunger games, sehingga racun “ketakutan” tak juga hilang dari pikiran kita.

Mungkin kita perlu bertanya pada anak-anak kita mau menjadi apa mereka dan ingin sekolah dimana mereka.

Untuk orangtua, anak muda, dan siapapun putra putri bangsa ini, mari kita sama-sama berjuang untuk bangsa kita, kemajuan negara ini.

Mari kita siapkan pemimpin-pemimpin bangsa sejak dini, mari kita pikirkan bangsa ini dengan berfikir apa yang bisa kita berikan untuk negara ini, bukan apa yang bisa kita dapat dari negara ini.

Sekarang ini adalah masa-masa untuk persiapan sekolah baru, mulai pendidikan usia dini hingga perguruan tinggi. Selamat mencari sekolah baru untuk para orangtua dan selamat mengejar mimpi untuk anak-anak Indonesia.[]

Tinggalkan Komentar