Baliho Anis Matta di Pontianak, Kalimantan Barat (Jurnal Publik)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Kadang saya juga ragu, apakah Anis Matta ini benar-benar visioner atau sebenarnya biasa saja? Pintar atau sebenarnya lugu? Sebab, ia tahu persis tak bakal dicalonkan sebagai capres, tapi ia tetap keluar uang pasang baliho di mana-mana. Ia tahu persis siapa yang paling berselera sejak awal, bahkan berkuasa. Di depan umum, dikatakan telah keluar dari tradisi PKS. Apa tak kontras?

Katanya, itulah ongkos yang harus dibayar! Kalau tak begitu, mana pula kader-kader tahu bahwa ia memang tak diinginkan. Kader-kader yang mendatangkan, tapi diboikot. Pasang baliho, tapi malah uangnya dicurigai dari mana? Kadang orang baru paham kalau ia sendiri yang melihat, menyaksikan. Bila tak begitu, tak paham. Mana yang lebih baik; tak diinginkan, dicurigai, karena berbuat sesuatu ketimbang diam saja, hasilnya sama? Tentu lebih baik berbuat walau ada ongkos.

Ia juga sadar, ajakan islah itu omong kosong, tapi tetap meminta Fahri Hamzah mencabut laporan pidana terhadap MSI. Akibatnya, Fahri Hamzah diserang kawan-kawan dekatnya, konon juga keluarganya yang terlanjur “sakit hati” dibilang; anaknya, kemenakannya, karib keluarganya, pamannya, suaminya, ayahnya; sebagai pembohong dan pembangkang di depan publik (Televisi). Dan itu tidak sekali, berkali-kali. Kesepakatan tinggal kesepakatan, janji tinggal janji. Tak kapok.

Agaknya Anis Matta tak mau kelewat batas, jumawa. Mentang-mentang di atas angin lalu belagu. Ia tetap memberi kesempatan bagi orang yang “angkat tangan”. Etikanya, memang begitu. Apalagi ini urusan internal. Bila eksternal, jangan ditanya. Posisi Waka MPR harusnya buat PPP, ia tak sedikitpun bergeming. Selalu ada kesempatan buat memperbaiki, kecuali ketidakmauan itu datang dari pihak lain. Katanya, apa pun juga, secara moral kita harus ada di atas bukan di bawah.

Hebat benar. Siapa elu? Kira-kira begitu. Berkuasa tidak, tapi tak memanfaatkan. Saatnya memukul, malah tak memukul, terpaku, mungkin bengong serta menyerahkan senjata bulat-bulat pada orang lain. Mengerjakan sesuatu yang jelas-jelas hasilnya merugi, merugi besar, bahkan. Itu yang saya tanyakan di atas; visioner atau biasa saja, malah aneh? Pintar atau lugu? Ada yang bilang, ia orang baik. Cukup itu saja. Mungkin, ia sering tertawa-tawa sendiri melihat laku hamba Allah itu.

Ia pernah juga mentaati perintah larangan untuk tak turun ke daerah-daerah. Khawatir ada matahari kembar. Itu waktu turun pertama setelah tak lagi menjabat apa-apa. Dari Semarang finis di Palembang. Baru beberapa daerah saja. Histeria kader terhadap dirinya di daerah-daerah harus dihentikan. Ia tak lagi mematuhi perintah itu, saat sudah keluar nama bacapres internal. Itu sudah tak logis. Masak bacapres dilarang turun? Duduk manis saja. Akhirnya memang, semua gigit jari.

Tapi anehnya, daerah-daerah yang dituruni Anis Matta itu, semuanya bernasib naas. Bila tak diganti, dipecat. Dan itu dua hal yang sama saja. Sebutlah Semarang, Sumsel, Sulsel, Jatim, Kalimantan, dan lain-lain. Dan orang-orang yang mengeluhkan kondisi internal kepada pimpinan, semua juga bernasib buruk. Ketua DSW Lampung, Riau bahkan DPTW Sumut, semuanya bersih licin tak bersisa. Makanya saya bilang, kebijakan PKS saat ini jauh dibanding dengan PKS dulu.

Anis Matta memaafkan kesalahan apa saja yang belum diperbuat kader, kini tak ada maaf bagi kesalahan yang tak pernah diperbuat kader. Orang yang menyampaikan permasalahan justru dianggap orang yang bermasalah itu sendiri, karena itu harus diamputasi. Orang yang diam-diam saja, dianggap orang yang mengerti dan taat. Wajar saja keterbelahan, keterpecahan internal PKS saat ini terjadi. Maunya memang begitu, cara pandangnya juga begitu, akhirnya kebijakan-kebijakannya begitu.

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar