Jakarta, Jurnalpublik.com – Tidak sekadar dipecat, Fahri Hamzah diisolasi, bahkan sampai sekarang. Entah kebijakan macam apa itu? Sesiapa yang berhubungan dengannya, membelanya, ditandai, kemudian dipecat. Saya salah satu korbannya. (Ada warga Jurnalpublik yang ingin tahu cerita penonaktifan saya, nanti saja kalau ada waktu hehe). Ini sama saja membuat perang yang tak perlu. Yang tak ikut jadi ikut.

Wajar saja kalau Fahri Hamzah melaporkan para pihak secara pidana. Kalau perdata telah dikabulkan 30 miliar dari 500 miliar yang dituntut. Tapi sampai sekarang belum dibayar sukarela. Malah, kebijakan pemecatan itu didahului serangkaian tindak pidana berupa pemalsuan surat dari lembaga tinggi negara. Seolah-olah Fahri Hamzah pernah dihukum, padahal tidak. Apa tak ngeri?

Cara membuat kebijakan seperti ini, sungguh tak pantas ditiru. Menghalalkan segala cara. Kebijakan salah bukannya diluruskan, diperbaiki, tapi minta dibela, didukung, tak boleh dibantah, bahkan dijadikan sebagai syarat kenaikan jenjang kader. Bahkan, lembaga pengadilan pun, mulai dari PN hingga MA, cenderung dipersekusi sebagai lembaga syarat permainan. Jangan dipercaya!

Sekjen Taufik Ridlo, mengundurkan diri karena tak bersedia menandatangani pemecatan Fahri Hamzah dibilang mengurus bisnis dengan santai. Ini seperti kerikil-kerikil tajam dibungkus pakai daun keladi. Lebih lanjut, baca pengakuan Hudzaifah Muhibullah dilaman Facebooknya, anak (alm) Taufik Ridlo.

Anis Matta juga begitu. Dikesankan mendukung, tapi pengakuannya malah melarang, tak perlu menempuh kebijakan itu. Tapi memang, Anis Matta sudah tak memegang posisi. Usahanya menempuh jalan islah terbilang besar. Tapi selalu membentur dinding. Sarannya tinggallah saran. Terakhir pencabutan laporan pidana MSI. Dikira itulah akhir, nyatanya awal musibah lebih besar.

Anis Matta seperti tahu apa yang akan terjadi. Ia mengubah kebijakannya. Dari turun lalu mempersilakan rezim baru bermanuver, mengambil jarak, sampai akhirnya kembali aktif, karena ditarik-tarik. Awalnya tak mau mengambil posisi, tapi karena khawatir dianggap berlepas tangan, ia mau menerima posisi yang hendak disediakan. Tapi posisi itu akhirnya hanya gula-gula belaka.

Ia punya saksi terpercaya, tapi itu sudah tak penting. Yang penting ia punya jawaban kuat. Beda dengan saat ia turun podium, pihak-pihak tertentu di PKS memang mau menyingkirkannya, sejak lama. Bagaimana ia menceritakan itu kepada orang lain? Saksi kuncinya Taufik Ridlo lebih dulu dipanggil-Nya. Ini bukan masalah pribadi. Sejak awal ia tak mau mempersonifikasi masalah.

Anis Matta mulai turun ke Semarang menjelang datang Ramadan 2017, hampir dua tahun setelah ia tak lagi memegang jabatan. Saat itu kecamuk soal Fahri Hamzah sudah hampir merata di kalangan kader. Kecamuk soal pilkada DKI, gelombang aksi umat, juga sudah heboh. Itu yang pertama, tapi kegelisahan belum menemukan jawaban. Ia berbicara lagi di hadapan orang banyak.

Satu satu memang sudah bertemu Anis Matta, berdialog, menemukan akar masalah. Tapi, sama-sama belum tahu apa yang sebetulnya terjadi? Ada masalah, tapi belum tahu apa sebetulnya masalah ini? Anis Matta sungguh-sungguh, bergulat mencarikan solusi. Kadang, ia bilang begini, kadang begitu. Bukan berubah-ubah, tapi memang ini masalah baru. Eskalasinya akan seperti apa?

Dari situ dapat dikatakan bahwa sebetulnya Anis Matta adalah seorang pemimpin pencari solusi, bukan pencari masalah. Semua masalah internal dipurukkan kepadanya. Bahkan, yang tak jelas pun, ujung-ujungnya nanti bertemu nama Anis Matta. Digali-gali lagi, bertemu nama Anis Matta. Itu tidaklah benar! Turunnya solusi, baliknya solusi. Tapi memang ia sudah tamat di PKS dan ia tahu itu.

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar