Padang, Jurnalpublik.com – Tiba-tiba pembebasan Abu Bakar Ba’asyir menyeruak ke ruang publik. Yusril Ihza Mahendra meliuk dan dia seperti mendapat poin. Tak sia-sia dia merapat ke Jokowi-Ma’ruf. Begitulah. Atas lobinya, Ba’asyir bebas. Aturan menteri dilampaui dan memang presiden bisa. Kuasanya di atas.

Ba’asyir sendiri sudah melewati masa 2/3 hukumannya. Artinya, pembebasan bersyarat adalah masalah waktu. Tak ada jasa Yusril di situ. Dia hanya utak-atik peraturan, sehingga bisa mulus. Belakangan, itu digugat. Presiden tak bisa semudah itu. Presiden akhirnya mengkaji ulang.

Yang menggugat tak hanya kubu sebelah, juga kubu sendiri, bahkan dunia internasional. Pihak kuasa hukum Ba’asyir juga turut bersuara. Beda partai mungkin. Kubu sebelah awalnya fokus pada elektabilitas. Pemilih umat sedang dibidik. Menggandeng KH. Ma’ruf Amin tak cukup. Mesti ada usaha ekstra.

Keseriusan Presiden Jokowi mendekati pemilih umat memang luar biasa. Entah mengapa selalu menerpa ruang hampa? Reuni aksi 212 malah bertambah ramai. Artinya menggandeng KH. Ma’ruf, tak bisa meredam. Bahkan, tes baca Qur’an pun ingin ditanggapi serius, walau itu tak ada.

Sepertinya pembebasan Ba’asyir juga akan mengalami nasib yang sama. Bisa-bisa bahkan antiklimaks dan berakhir suram. Berputar-putar, lalu balik seperti bumerang, menyerang tuannya.

Kubu sendiri juga melihat, sudah hampir tak ada elektabilitas di situ. Selain itu, ini soal terorisme. Memang ada soal kemanusiaan Ba’asyir yang sudah tua, sakit-sakitan, tapi bagaimana kemanusiaan dari keluarga korban? Setia kepada Pancasila, NKRI, tak bisa dilampaui begitu saja.

Setia kepada Islam berarti setia kepada Pancasila. Itu benar. Tapi setia kepada Pancasila itu harus ditandatangani. Tak cukup hanya mengatakan setia kepada Islam saja, lalu semua bisa selesai. Polemiknya di situ dan rumit. Akhirnya, Yusril tak bisa meliuk sendirian. Bahkan elektabilitasnya juga terancam.

Kita tunggu saja bagaimana akhirnya. Makin banyak orang terlibat makin hati-hati Presiden memutuskan, dan makin besar pula dampak elektabilitasnya apakah naik atau malah terhempas. Aneh juga, kalau ada partai Islam yang akhirnya senang Ba’asyir tak jadi bebas karena partai Islam lainnya tak jadi mendapat poin.[]

Erizal Sastra/Aktifis GARBI

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Jurnalpublik.com

Tinggalkan Komentar