Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari ini (13/1), alumni Universitas Indonesia yang asli mulai marah-marah dengan klaim acara ‘Alumni UI Dukung Jokowi’ kemarin. Dua orang dari organisasi alumni UI melayangkan protes. Ketua Umum ILUNI UI Arief Budhy Hardono memberikan somasi terbuka secara resmi. Sementara Matnoer, salah seorang Aktivis UI, juga menulis catatan protesnya dan disebar lewat jejaring media.

Arief, melalui suratnya menyatakan bahwa ILUNI UI menyayangkan pihak yang menyeret ILUNI ke dalam politik praktis. Dia juga menyesalkan karena ada opini bahwa ILUNI UI dikesankan seolah-olah menjadi penyelenggara acara Deklarasi Dukung Jokowi. Arief mensomasi semua pihak yang “menjual” ILUNI dan minta mereka menghentikan aksinya lalu minta maaf kepada ILUNI UI dan Universitas Indonesia.

Di media lain, Matnoer, aktivis yang mantan Ketua BEM UI, menyatakan rasa marah karena video dan gambar di Plaza Tenggara GBK kemarin menunjukkan dengan terang bahwa yang datang bukanlah alumni Universitas Indonesia. Tapi sekelompok massa yang jumlahnya ratusan yang mengenakan baju kaos ILUNI UI dan dibriefing untuk meneriakkan yel-yel “ILUNI UI dukung Jokowi”.

Keduanya pantas marah. Dan bukan hanya keduanya, tapi seluruh Alumni Universitas Indonesia yang asli lulusan UI pantas marah atas peristiwa kemarin. Betapa tidak, pertama, Budi Arie (Muni) yang Ketua Projo dan alumni Fisip UI angkatan 90 telah menggunakan massa (entah bayaran atau tidak) yang bukan alumni UI untuk mengenakan baju ILUNI UI Dukung Jokowi. Ini adalah tindakan manipulatif yang memalukan.

Kedua, selain massa yang palsu itu, poster-poster yang ditenteng oleh massa di sepanjang acara, tidak mencerminkan nilai intelektual Universitas Indonesia. Bahkan jadi nampak seperti merendahkan UI sendiri. Sentimen pada sisi personal, hal-hal yang kekanak-kanakan dijadikan bahan poster. Tentu saja UI jadi nampak murahan.

Ketiga, acara deklarasi yang menghadirkan massa intelektual dengan latar belakang pernah menikmati dunia kampus dan pergulatan pemikiran bertahun-tahun, menjadi hambar dengan format acara yang hanya menampilkan gimmick “kesantuan dan kerendahatian Jokowi”. Padahal intelektual negeri harusnya punya seribu alasan ilmiah kenapa mereka dukung Jokowi.

Dan karena alasan ilmiah itu, harusnya Jokowi dichallenge dengan diskusi dan debat oleh alumni perguruan tinggi. Mengapa harus dua periode, apa prestasinya selama lima tahun menjabat, apa sumbangsihnya untuk masa depan pendidikan dan masa depan negeri ini, dan seterusnya. Dengan format santai, diskusi itu bisa diselenggarakan.

Tapi ini tidak. Sama sekali tidak ada kesan bahwa presiden yang didukung pada deklarasi kemarin bisa menunjukkan kapasitasnya didepan kaum cerdik pandai dari seluruh Indonesia. Acara kemarin, seolah-olah hanya acara ketawa-ketawa dan hanya ingi mengesankan ke publik bahwa Jokowi didukung massa yang banyak. Tidak lebih dari itu.

Alumni UI yang asli yang berada di depan panggung dan yang tidak hadir harusnya marah. Rakyat juga pantas marah. Marah dengan pihak-pihak yang menyeret lulusan kampus pada drama dukung-mendukung yang tidak menampilkan mutu kampus. Bahkan merendahkan dan menjual nama kampus, kalau terbukti ada massa bayaran yang memakai kaos dan mengaku alumni kampus mereka.

Kalau tidak marah, sudah keterlaluan namanya. Kita yang alumni kampus dari seluruh Indonesia, janganlah berbuat hal yang sama. Tunjukkanlah sisi moral dan intelektual kita, pun ketika harus melibatkan diri dalam kontestasi politik.[]

Bambang Prayitno

 

Tinggalkan Komentar