Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Teman patik seorang ustad yang piawai soal parenting dan dikenal selektif dalam bicara ilmu agama. Ia, sejatinya, tak masuk dalam pusara dukung-mendukung di kontes presiden nanti. Bila ia bicara, ia sekadar ungkapkan bahasan keilmuan. Sebentuk tanggung jawab. Bagi yang kenal dekat, mesti mafhum. Tapi beda di mereka yang beronak di benak.

Suatu hari ia bahas soal kepatutan seseorang yang dipersilakan sebagai imam shalat. Dia tak ada tendensi untuk menyentil aktor politik yang acap oleh tim pencitraannya dilukiskan religius dan saleh.

Saat yang sama, kawan lama saya, bekas pegiat dakwah kampus yang kini mencari rupiah di lingkaran istana, menegur teman patik tadi. Ia diminta menasihati calon pesaing junjungannya yang acak adut dalam urusan shalat. Bahasa agama pun mengalir keluar. Sama halnya dengan klaim-klaim keislaman junjungannya yang acap dia bagikan di grup Whatsapp.

Aktor politik pemegang kekuasaan itu sesungguhnya manusia lugu dan apa adanya. Tapi ia dipoles para bekas aktivis yang paham soal agama dan komodifikasinya. Maka, politisasi lewat jualan citra keislaman begitu mudah dan lancar dijalankan. Sebab, tim yang bekerja sudah hayati soal ini kendati bukan dalam kerangka kesalehan atau pertebal keimanan. Ironisnya, lawan politik yang dituding mempolitisasi Islam.

Orang-orang (pernah di lingkungan) saleh, lalu pendam kecewa dan beralih ke barisan eksodus ke kekuasaan, amatlah dekat dengan syubhat dan fitnah. Kalau tak ada motif luar biasa menyusup, selalu yang tampil adalah lakon para brutus tapi merasa diri berhati mulia bahkan dibanding para akh yang dulu sebarisan dengannya.

Lakon dalam agama seperti di atas berlangsung pula dalam arena lain. Seperti dalam pentas altruisme penguasa. Pentas di saban bencana hadir karena ada bekas orang yang paham soal itu. Sayangnya, mereka berada di barisan pemoles citra. Setidaknya di pengais rupiah di juru suara. Mereka atur agar si fulan begini dan begitu. Bukan ke jantung persoalan atau substansi masalah. Ukuran yang dipakai selalu popularitas. Kepedulian dan empati, pertama-tama dipatok apakah relevan dengannya atau tidak.

Begitu kekuasaan yang jahat hadir. Ia dilahirkan dari adab orang berilmu yang rusak. Begitulah patik rekam tulisan Syed Naquib Alatas di pelbagai karya beliau.[]

Yusuf Maulana/Pensyarah Samben Library

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Jurnalpublik.com

Tinggalkan Komentar