Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Gampangnya, kamu membawa satu bak penuh berisi air. Nah, coba goyangkan bak itu. Maka terjadilah gelombang air didalam bak. Makin keras goyangannya, makin besar pula gelombang yang dihasilkan. Bahkan kadang bisa nyiprat ke raimu.

Ini disebut tsunami karena faktor gempa. Seismik. Nah, gempa ini penyebabnya karena tubrukan antar lempeng. Yang membuat bumi bergoyang. Kalau contoh di atas kan karena tanganmu yang menggoyang.

Atau bisa juga, kamu jatuhkan batu besar ke dalam bak. Cemplung! Bisa dipastikan, airnya muncrat. Makin besar batunya makin besar muncratnya.

Ini tsunami disebabkan benda yang jatuh ke lautan. Bisa disebabkan karena batu-batu yang diletuskan gunung api. Bisa juga karena ada meteor yang jatuh.

Hah??!! Meteor? Yang bener aja.

Atau bisa juga, kamu tiup airnya. Terjadi juga gelombang. Makin besar tiupanmu, makin besar pula gelombang yang dihasilkan.

Ini tsunami karena angin kencang. Badai. Angin terjadi karena perbedaan tekanan udara, bukan karena pemakan buah logia tipe angin.

Tsunami sebenarnya adalah gelombang biasa. Seperti ombak di pantai yang berkejaran dan dengan melihatnya saja, lantas bisa menjadikanmu dalam sekejap menjadi pujangga picisan.

Cuma, si tsunami ini ukurannya sangat besar dan disebut tsunami bila menerjang daratan. Kalau terjadinya di tengah lautan, bisa jadi tidak disebut sebagai tsunami. Sebut saja ombak ganas yang tingginya puluhan meter.

Kejadian tsunami di Banten dan Lampung memang tidak terprediksi. Tidak ada yang tahu. Tiba-tiba. Bahkan orang-orang banyak berkumpul di satu tempat saja tidak ada yang sadar kalau sebentar lagi bakalan diterjang gelombang.

Mengapa orang-orang tidak sadar?

Pertama, tidak ada gempa yang sebelumnya dirasakan. Pengalaman Indonesia dalam menghadapi tsunami setelah sebelumnya ada gempa besar.

Kedua, waktunya malam hari. Orang-orang di pantai tidak melihat adanya ombak tinggi yang datang.

Menurut beberapa rilis media, tsunami ini masih diperkirakan disebabkan faktor gelombang tinggi karena cuaca. Perkiraan sebab kedua adalah erupsi gunung anak Krakatau.

Jadi bukan karena gempa bumi. Makanya orang tidak waspada akan terjadi tsunami.

Setidaknya ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di selat Sunda ada anak Krakatau, yang dulu simboknya waktu meletus dahsyat. Letusannya dilaporkan terdengar hingga Kepulauan Mauritius yang berjarak 4.800 km dari lokasi, ngutip media.

“Anak Krakatau bagi kebanyakan orang hanyalah tontonan, dan batu pijar yang kerap dilontarkannya seolah kembang api tahun baru yang sama sekali tidak berbahaya. Sejarah kehancuran itu sudah terkubur di dalam ingatan masyarakat. Ingatan pendek dan kurangnya pengetahuan adalah musuh abadi kesiapsiagaan, “ hasil ngutip media juga.

Dan mari sudahi ribut-ribut soal azab ataukah musibah. Mari kita berdoa untuk para korban. Semoga segala dosa-dosa diampuni, dan amal ibadahnya diterima. Diberikan ketabahan dan kesabaran.

Triyanto P. Nugroho/Buzzer, Alumni Sarjana Geografi UNY

Tinggalkan Komentar