Anwar Ibrahim

Jurnalpublik.com – Menyoal kebebasan bersuara. Yang ini saya minta saudara-saudara paham. Kita kena pilih, kalau kita pilih kebebasan orang cakaplah, dan orang bercakap itu tidak semuanya kita setuju. Saya sendiri umpamanya dikritik keras karena saya tidak setuju dengan LGBT dan perkawinan sejenis. Maka, mereka ingin serang saya pergi ke Port Dickson, kempen melawan saya.

Saya tidak boleh halang, hak dia, tapi saya guna kesempatan turun kebawah di mesjid dan surau menjelaskan bagaimana sikap kita sebagai orang beragama, bukan sahaja saya orang Islam tapi Hindu, Bunda, Kristian di negara kita. Tapi dalam hal itupun saya nak jelaskan, kita jangan pula zalim nak pukul orang, orang itu LGBT, kita serang dia, tak boleh. Negara ini Negara hukum, dia bercakap kita tak setuju, kita patut gunakan hujah mematahkan hujahnya.

Kalau dia langgar undang-undang dan peraturan kita boleh ambil tindakan. Tetapi kita nak demokrasi, kita nak kebebasan, tapi orang bercakap lain sikit daripada kita, kita tahan. Kita balik kepada cara UMNO dulu hah. Jadi kita kena faham karena bila kita berikan ruang kebebasan ada pengucapan yang paling kita tidak senang. Saya sendiri tidak setuju.

Banyak perkara dibangkitkan. Umpamanya soal kuil di Siefield. Kita hormati hak orang Hindu mempunyai kuil dan dipindahkan secara teratur, tapi saya tidak setuju mana-mana jabatan di kerajaan negeri diugut karena ada proses yang patut dipatuhi. Kita nak bina mesjid mesti ada permit, mesjid tak boleh dibina sesuka hati. Maka agama lain pun patut ikut begitu, sama ada Kristian, atau Hindu atau kuil Bundha, dan bagi saya kita harus tegas dalam bidang ini.

Begitu juga soal penafsiran tentang liberal Islam. Saya bimbang bukan soal label, karena label itu kadang-kadang dikenalkan kepada orang yang tak berkaitan. Kalau kita tak setuju politik dengan dia, liberal. Saya pun kadang-kadang kalau kempen Anwar pun jadi liberal. Liberal kamu, apa? Liberal ini kalau umpamanya menyatakan kita dialog dengan muslim, hindu, budha, kita liberallah. Tapi bukan liberal tak payah shalat. Bukannya liberal rupanya menolak aqidah, bukannya liberal menolak syariat. Tidak. Itu bukan liberal namanya. Kalau liberal itu menolak prinsip agama, itu kita tentu ada pendirian. Jadi saya nak jelaskan disini, jangan kita mudah ditipu, dipermainkan dengan istilah.

Ada orang panggil dia negara demokratik, tapi paling zalim dan kejam, ada pemimpin yang bicara mau banteres rasuah, tetapi memang kepala pelahap harta rakyat. Jadi sebab itu kita tidak harus terpukau semata-mata dengan pakaian atau jubah ataupun pengucapan, tetapi mestilah dengan isi, sebab itu saya katakan, mesti ada wacana segar dalam masyarakat kita.

Saya nak ingatkan sekali lagi, dalam bila kita berikan ruang demokratik ada pandangan yang paling tidak cocok dengan pandangan kita. Saya minta saudara-saudara bersuara hari itu bila kadang-kadang ada orang yang ekstrim liberal menolak langsung asas agama, asas akhlak dan Negara kita, saya kata kita tak payah diam. Masyarakat yang nak mempertahankan agama dan akhlak harus juga berani bersuara. Jangan biarkan dua tiga kerat orang bersuara kita rasa takut.

Apa kita bodoh begitu rupa tak boleh jawab? Kita boleh jawab. Saya rasa kita harus ada tradisi ini karena sekarang ini sementara ada kebebasan kelompok lain, ada juga kebebasan dakwah, ada kebebasan kegiatan mahasiswa. Manfaatkan itu untuk kebaikan. Manfaatkan itu bukan untuk menanam kebencian dan permusuhan kaum tapi membawa risalah rahmatan lil’alamin.

Anwar Ibrahim
Tokoh Nasional Malaysia

Berikut video ceramah Anwar Ibrahim:

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.