NTB, Jurnalpublik.com – A leader is a dealer in hope, begitu kata Napoleon Bonaparte. Cukup lama saya sudah tahu kutipan itu, tapi baru kemarin saya memahaminya langsung dari sosok Bang Zulkieflimansyah.

Beliau menunjukkan langsung bagaimana seorang pemimpin mendistribusikan harapan kepada setiap rakyat yang ia temui. Peran ini adalah peran paling luar dari seorang pemimpin sebelum ia mampu menjadi problem solver dalam persoalan hajat hidup orang banyak.

Setiap Jum’at, Bang Zul bersama Umi Rohmi menggelar forum bersama masyarakat. Saya melihatnya tidak bertujuan utama langsung menyelesaikan setiap apa yang dikeluhkan rakyat, tapi selain untuk menampung aspirasi untuk tindak lanjut, juga untuk memastikan kepada rakyat, bahwa pemimpin hadir untuk mereka. Seperti bisa kita lihat bagaimana dengan mudahnya ia merangkul yang lebih muda, dan menghormati yang lebih tua meski mereka bukan siapa-siapa.

Pengalaman Bang Zul sebagai seorang akademisi, membuatnya menjadi pemimpin yang mampu mengeksekusi kebijakan melalui penerjemahan abstraksi nilai-nilai yang dianggap tidak riil oleh pemimpin kebanyakan.

Contohnya ketika saya tanya mengapa ia memilih gebrakan di awal kepemimpinan dengan menyekolahkan putra terbaik Nusa Tenggara Barat (NTB) keluar negeri, ia jawab dengan motivasi nilai yang abstrak yakni primordialisme dan nasionalisme akan menjadi baik jika disintesiskan dengan internasionalisme. Di luar negeri rasa kebanggaan terhadap daerah dan bangsa akan makin menguat, apalagi ditambah wawasan global. Dari langkah itu ia tidak berharap manfaat jangka pendek, tapi manfaat jangka panjang untuk kebaikan NTB ke depan.

Sebab di NTB pertambangan tak lagi menguntungkan, pariwisata belum pulih pasca bencana, maka investasi yang paling memungkinkan adalah berinvestasi pada Sumber Daya Manusia (SDM).

“Putra daerah NTB punya bakat alam menjadi pemimpin, kalau kita serius berinvestasi untuk SDM, akan melahirkan kebaikan tidak hanya untuk NTB tapi untuk Indonesia,” kata Bang Zul.[]

Ahmad Jilul Qur’ani Farid/Jurnalis

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Jurnalpublik.com

Tinggalkan Komentar