Jurnalpublik.com – Hanya 5 menit Tuan Berkuda bicara di depan, syahdan, 8 juta massa di bilangan Monas dan sekitarnya. Momen yang menabalkan dukungan massa padanya dan sekaligus menguatkan kecurigaan kubu lawannya tentang aksi reuni 212 sebagai ajang politik belaka. Momen yang mengunci seiring tiadanya lawan sang Tuan Berkuda.

Panitia kiranya telah belajar bagaimana 2 tahun lalu momen umat diciprati kehadiran Tuan Presiden dengan payung birunya. Momen yang disebut-sebut sebagian orang menonjok dalang di balik aksi jutaan massa 2 Desember 2016. Ada bau Cikeas di balik massa berjibun yang dituduhkan dibayar. Tuan Presiden ingin menggoda benak fans beratnya agar memuji kehadirannya di lautan massa. Pun dengan hujan, itu tak jadi masalah bahkan kuatkan ia cinta umat dan rakyat.

Tapi kali 212 pada 2018, ia kadung terseret politik ketakutan para pembisik dan militan bayarannya. Agak bingung masuk berikan kejutan sebagaimana 2016. Menariknya, lawannya, Tuan Berkuda, tak memanfaatkan momen yang disodorkan padanya oleh panitia reuni 212. Ia hanya cukup bicara terima kasih. Bukan karena tak punya kosakata buat gempitakan massa. Ini soal fatsoen bahwa acara adalah tentang persatuan, dan ia hanya tamu.

Di seberang istana, tampak ada kebingungan bagaimana menghadirkan penguasa. Strategi kejutan sepertinya buntu dan ini hanya lahirkan keculasan para pendukung fanatiknya memainkan serangan opini. Bukan saja ada resistensi di mana-mana di tubuh umat Islam minus sebuah ormas besar. Tak peduli ada ulama rekrutmen baru yang awalnya di kubu massa 212.

Tapi saya selalu percaya, penguasa sejatinya menaruh hati pada umat. Hanya saja, kapasitas jiwa dan pikirannya masih jauh untuk hadirkan sikap berani menegakkan kepala terhadap para pembisik dan kelompok kunci di sekelilingnya yang fobia islamisme.

Padahal, andaikata ia jadi dirinya, ia bisa mendapatkan simpati umat. Merangkul dengan cara hadirkan kebijakan yang manusiawi dan adil. Bukan hanya berbasis asumsi dan bisikan para konsultan dan tim sukses yang kemaruk lagi beringasan dalam soal menjaga supremasi hukum.

Penulis: Yusuf Maulana (Penulis Buku Seteru Jamaah)

Tinggalkan Komentar