Jakarta, Jurnalpublik.com – Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2018 tidak saja menghadirkan para tokoh bangsa dan pejabat negara, tetapi juga menghadirkan tokoh bangsa yang masa mudanya sempat aktif dan berkecimpung di dalam gerakan Hidayatullah, seperti Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Dalam akun twitternya, Fadil Zon mencuit, “Area Balikpapan, silakan merapat. Nanti malam sy ngopi bareng bro @Fahrihamzah di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Kami sama-sama pernah jd jurnalis di Majalah Hidayatullah.”

Sementara itu, Fahri Hamzah mencuit, “Man teman di #Balikpapan, Ini ada acara mantul (mantap betul) ini saya dan Om @fadlizon akan memeriahkan kota anda..”

Keduanya, baik Fahri maupun Fadli pernah menjadi jurnalis di Majalah Suara Hidayatullah. Dan, dalam arena Silatnas Hidayatullah 2018, acara yang dipandu oleh wartawan senior Hidayatullah, Wisnu Pramudya, acara yang digelar di area terbuka tepat di halaman masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Induk Balikpapan, suasana kekeluargaan, keakraban begitu hangat terasa (24/11).

Rangkaian acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang menghadirkan dua Wakil Ketua DPR RI itu, yakni Fadli Zon dan Fahri Hamzah, berupa bincang santai tapi serius ditemani seduhan kopi, pisang rebus, singkong rebus dan jagung rebus.

Sebelum berbagi, Fahri melantunkan ayat-ayat suci Alquran, sedangkan Fadli Zon membacakan puisi. Mantan Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah, Hamim Thohari, yang memulai obrolan, membeberkan secara singkat perjalanan karir Fahri yang pernah menjadi wartawannya.

Fahri pun mengamini, dan menyebut, pertama kali mengenal media ormas Hidayatullah itu saat sempat mengenyam pendidikan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebelum hijrah ke Jakarta.

“Itulah kenapa saya cerewat di Twitter karena pernah diajari menulis oleh Pak Hamim,” tutur Fahri.

Demikian juga Fadli Zon. Keterlibatannya di Majalah Suara Hidayatullah dan Tabloid IQRA dikarenakan ajakan dari Dzikrullah, yang merupakan sohibnya sejak di bangku sekolah menengah atas di Jakarta.

“Wawancara pertama saya dengan Lukman Harun (seorang tokoh Muhammadiyah saat itu) untuk Tabloid IQRA,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Fahri dan Fadli bercerita banyak hal, di antaranya tentang kegiatan politik, masa perjodohan, hingga ide-ide mereka untuk bangsa ini. Obrolan itu diselingi dengan pembagian buku karya Fadil dan Fahri serta foto bersama.

Di pengujung acara, Hamim Thohari memberikan hadiah kepada Fahri, Fadli dan Wisnu Pramudya, berupa kain kafan. “Ini akan mengingkatkan kalian bahwa di akhir dari tujuan hidup ini dalah kematian,” kata Hamin, yang disusul dengan pelukan hangat dari ketiganya.[]

Sumber: https://republika.co.id/share/pire7p313

Tinggalkan Komentar