Jakarta, Jurnalpublik.com – Salah satu misi PSI jika terpilih nanti di Pileg 2019 adalah mencegah ketidakadilan dan tindakan diskriminasi di masyarakat. Hal itu diwujudkan dalam bentuk penolakan perda-perda agama baik injil atau pun syariah.

Ketua Umum PSI Grace Natalie menjelaskan hal tersebut merupakan komitmen awal mereka. Baginya, ada beberapa perda yang membatasi kebebasan seperti cara berbusana siswa di sekolah tertentu.

“Indonesia beragam. Kalau kita enggak jadi payung dan menjaga keberagamannya ini maka nantinya kita bisa menjadi Suriah, Irak dan semuanya enggak untung,” tambahnya.

Menurut Grace Natalie, konflik yang ditimbulkan akibat persoalan tersebut memiliki kepentingan politik sehingga benar-benar harus diatasi.
Terkait kekhawatiran Indonesia menjadi seperti Suriah, seorang netizen Herriy Cahyadi dalam facebook pribadinya mengatakan:

Kasus Suriah itu diawali bukan karena agama. Dan tidak pernah dipicu oleh agama. Itu dipicu oleh:

1. Diktatorisme yang mengekang demokrasi berdekade, melihat tetangganya menggelombangkan kebebasan, rakyat Suriah pun mengambil momentum-momentum kecil dari grafiti anak-anak kecil. Tak ada pers bebas, tak ada obrolan politik, tak ada pemilu yang adil.

2. Kondisi perekonomian yang membuat sarjana-sarjana frustasi. Ekonomi tidak kunjung membaik, tapi represi terus-menerus. Orang kelaparan ditambah dikekang, siapa yg mau terus bertahan?

3. Trah Assad yang menggurita. Bani Assad adalah kelompok minoritas tiran yg menyebabkan dua kondisi di atas. Ini tahun milenial di mana demokrasi adalah pilihan paling normal. Gejolak demokratisasi di dunia Arab menginginkan agar Suriah lebih demokratis. Assad tak peduli, malah menembaki.

Inilah pentingnya literasi. Agar tidak malu-maluin seperti caleg-caleg dari partai ini (red. PSI) yg menjual ketakutan dalam berkontestasi.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.