Jakarta, Jurnalpublik.com – Melihat Natsir, membuat kita berkaca, inilah Indonesia, inilah pertarungan ideologi yang terjadi diawal pembentukan negara ini, Indonesia.

Natsir memiliki keakraban dengan demokrasi barat yang selalu ditutupi kalangan Islam garis keras, namun juga memiliki sikap yang tegas dalam berislam yang juga berusaha dilupakan para Islam moderat.

Pluralisme adalah hal yang biasa di Indonesia. Itu salah satu hal utama yang tidak boleh kita lupakan di Indonesia, dulu, kini dan nanti.

Seperti halnya Natsir, yang sebelumnya memiliki semangat yang menggebu-gebu terhadap nasionalisme. Namun akhirnya berbalik arah dan menjadi keras dalam ber-Islam, tidak lain karena kekecewaannya terhadap sebagian para tokoh nasionalis yang ternyata suka mencaci Islam.

Walaupun pada dasarnya Natsir memahami bahwa politik idenditas tidak di atas segalanya, sehingga menjadi biasa baginya duduk minum kopi bersama D.N. Aidit digedung parlemen.

Ini patut menjadi pelajaran untuk kita dimasa sekarang. Bahwa politik identitas tak bisa diartikan hanya dengan melihat seseorang. Tak bisa seseorang diartikan penuh sebagai identitas atau ideologi yang ia anut.

Nasionalisme bahkan tercantum dalam Quran. Dan banyak kisah yang menerangkan bahwa Rosul pun mencintai tanah airnya, Makah, dan beliau pun memiliki nasionalisme yang tinggi terhadap bangsanya.

Nasionalisme harusnya tidak menjadi musuh yang dikambinghitamkan masyarakat Islam Indonesia. Karena nasionalisme di Indonesia pun tidak berdiri sendiri. Ia juga tegak dengan Islam-nya. Karena Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam.

Dan menjadi PR kita semua, muslim yang baik, untuk menginterpretasikan nasionalisme yang juga tegak dengan Islam-nya.

Kita harusnya berbaik sangka dengan mereka yang bahkan terlahir sebagai muslim, namun ternyata belum mengetahui Islam dengan sempurna.

Bahkan, kita pun patut disempurnakan kembali dalam berislam, karena kita tidak menginterpretasikan Islam dengan baik.

Nabi Muhammad bahkan berbaik sangka terhadap orang yang sama sekali tidak mengetahui tentang Islam, yang Yahudi sekalipun. Kita patut belajar dari Rosul yang penuh sabar menginterpretasikan dirinya sebagai seorang muslim. Seorang muslim yang baik. Tidak membawa kekerasan, kasar, dendam, dan terlebih kebencian yang sangat hebat terhadap seseorang.

Dan hari ini pertarungan itu terus terulang, bahkan semakin sengit.

Lantas bagaimana cara kita mempersatukan bangsa ini jika masing-masing kita terus bersikukuh dengan paham kita masing-masing?

Bukankah masa pencarian ideologi sudah berlalu!

Hari ini harusnya kita tidak mundur kebelakang.

Hari ini harusnya kita terus melangkah maju mengesampingkan pertarungan ideologi yang bahkan hanya sebatas simbol-simbol yang tak ada nilainya.

Apalah arti simbol, jika nilai yang harusnya kita perjuangkan tertinggal jauh.

Apalah arti simbol jika diri kita pun tak bernilai Islam. Jauh dari Islam. Sadarkan kita?

Selamat Hari Pahlawan, Pahlawan Indonesia yang membawa Indonesia melangkah maju hingga kini dengan nilai Islam dan pluralismenya yang indah.

Sumber:

Seri Buku tempo Natsir
Resistensia.org

Tinggalkan Komentar