Sumber foto: detik.com

Jurnalpublik.com – Ini sedikit resume hasil ngoprol Gerakan Arah baru Indonesia (Garbi) Kota Bogor pekan ini. Mungkin judulnya sedikit provokatif, tapi ini autokritik terhadap berbagai elemen, khususnya umat islam.

Di acara ngopi – ngopinya Garbi Kota Bogor yang biasa, biasa dadakan, biasa seru dan biasa di tutup dengan main bersama anak – anak muda yang seperti tidak punya beban hidup.

Topik kali ini sedikit menyentuh beberapa peristiwa yang berkaitan dg kata “penistaan”, awalnya dimulai dengan perbincangan tentang sebuah video yang dibuat dua komika indonesia, muslim dan coki, berjudul “Babi Saus Kurma”, video yang berujung mundurnya kedua komika tersebut dari kelompok Majelis Lucu Indonesia dan bahkan mundur dari dunia hiburan.

Usut punya usut video tersebut ternyata dikecam, kedua aktornya pun dapat ancaman pembunuhan dan dicap penista. Padahal buat saya pribadi video tersebut jauh dari unsur penistaan simbol – simbol agama, ingatan saya langsung kembali pada peristiwa Ahok, jauh sebenernya kalau ini mau disamakan dengan apa yang dilakukan Ahok.

Bahkan kami sepakat, bahwa sebenarnya video tersebut, jika kita melihatnya dengan perspektif lain dan sedikit memanjangkan sumbu kita, ada unsur edukasi yang disampaikan, namun dengan cara kultur pop milenial, yang mungkin bagi sebagain orang tidak bisa mudah dipahami.

Terlebih si muslim sebagai seorang muslim bahkan sama sekali tidak menyentuh si babi, artinya dia paham batasan sampai mana.

Disini saya dan kawan – kawan setuju bahwa sepakat reaksi umat islam terlalu berlebihan, sama seperti berlebihannya terhadap go-jek, sari roti serta lainnya, dan terlalu itu – itu saja cara reaksi yang dipilih, kalau sesuai judul, tidak kreatif.

Pendekatan yang digunakan selalu monoton, hitam putih, jahat baik, musuh agama dan pembela agama, diksi – diksi dan narasi yang dipakai juga sama, seperti mau perang, padahal ini situasi jauh berbeda, ada banyak pilihan dan opsi lain, mungkin lebih damai, sejuk dan konstruktif, bukan hanya untuk umat Islam, tapi untuk Indonesia.

Terus begitu, sudah hampir tiga tahun, pada akhirnya konflik di masyarakat makin kesini makin menjadi, polarisasi dua kutub semakin menajam.

oke, sari roti sahamnya sempat anjlok, go-jek sempat gonjang ganjing, Muslim dan Coki pun hilang dari peredara. Dulu sempat ada Uus dan masih banyak lagi.

Tapi apakah kita mau ulangi terus siklus seperti ini? Sampai kapan? Ga cape? Habis resource umat ini untuk menyelesaikan perkara – perkara demikian, ini aja masalahnya, ga berkembang, umat ga kemana – mana, jalan di tempat, tahun demi tahun masalahnya sama.

Mungkin orang jadi takut, tapi apakah orang jadi lebih paham tentang islam itu sendiri? orang jadi paham apa keresahaan umat? orang jadi hormat dan simpati terhadap umat? dan pada akhirnya karena orang – orang diluar umat ini memang tak paham, kejadian yang sama terulang, dan umat pun kembali turun kejalan lakukan aksi bela jilid sekian dan sekian.

Kenapa kita tidak coba pakai pendekatan lain? misalnya pada kasus Coki dan Muslim, ada pendekatan lain selain menuding mereka penista, seperti yang saya sampaikan diatas, ini kan masalah jarak pemahaman yang berbeda, maka yang perlu dilakukan adalah memotong jarak itu, dekati dan ajak dialog untuk lebih paham, umat paham tentang budaya pop yang mereka sajikan, mereka paham apa yang menjadi keresahan umat dari video mereka.

Saya kenal keduanya, keduanya bukan orang yang membenci islam, bahkan si Muslim ini dari kalangan santri. Di video pamitnya mereka juga tergambar jelas hal – hal tersebut.

Tapi sekarang setelah mereka dicap penista, saya rasa perasaan yang tumbuh pada mereka adalah perasaan semakin antipati terhadap umat dan mereka semakin berjarak dengan umat. Sama seperti kejadian uus, seharusnya orang – orang ini bisa didekati agar bisa semakin paham, bahkan bisa jadi ikut bantu memahamkan yg lainnya, ini malah sebaliknya.

Kemudian kasus go-jek dan sari roti, lagi – lagi kenapa yang terpikir oleh umat ini sebatas reaksi anti, boikot produk lah, uninstall aplikasi lah, yang ujung – ujungnya kalau uninstall go-jek, mau ga mau pakai grab, yang jelas – jelas malah pada ga tau siapa ownernya.

Dua perusahaan ini kan perusahaan besar, yang sebagian besar pegawai dan mitra usahanya adalah umat islam, besar kecilnya dampak dari gerakan umat terhadap kedua perusahaan ini tentu akan berimbas pada ribuan karyawan muslim mereka.

Saya yakin jika pendekatan yang dipakai adalah dialog saya pastikan kedua perusahaan juga mau kok membuka ruang tersebut selebar – lebarnya, secara bisnis mereka butuh itu, wong pasar mereka ya umat islam, mereka ga berani macam – macam sebenarnya.

Kenapa malah umat Baginda Nabi Muhammad SAW yang dulu Beliau ajarkan dialog dan kompromi dengan muamalah malah lupa cara berdialog dan berkompromi?.

Alhasil, mungkin kita puas, umat merasa menang, semua terkapar, musuh – musuh itu ketakutan, tapi sampai kapan? Berapa banyak lagi yang mau dihantam? Sekali lagi ini kan masalah pemahaman yang belum sama, kenapa tidak dibangun jembatan pemahaman, kenapa malah jarak yang dibuat semakin tajam. Saya selalu yakin umat Nabi Muhammad SAW diajarkan muamalah yang beradab, bahkan kepada mereka yang tak seiman.

Teringat seorang Yahudi tua yang selalu mencaci Rasulullah SAW, namun apa balas dia dapat? suap demi suap penuh kasih sayang dari Rasulullah SAW, karena baginda tahu, sang yahudi tak paham. Suap demi suapnya menghilangkan jarak, sang yahudi berikrar setia dengan rela.

Tak lupa juga, penduduk Thaif yang melempari Rasulullah SAW dengan batu, malaikat murka, tawarkan kehancuran, tapi apa kata rasulullah SAW? Mereka tidak paham. Doa baginda pun menghapus jarak, Thaif mememeluk islam tanpa paksa.

Baik seorang Yahudi tua maupun Bangsa thaif, kelakuannya lebih “menista” daripada seorang Muslim dan Coki. Mereka menyakiti dan mencaci langsung simbol utama umat. Tapi, inilah perbedaan kedewasaan.

Pada akhirnya saya memahami, kenapa Rasulullah SAW mengatakan, bahwa orang yang paling kuat adalah orang yang paling bisa mengendalikan dirinya saat marah. Dan tentu saja sebaliknya, yang lemah tentu yang tak bisa. Pengendalian diri mampu membuat kita lebih melihat banyaknya pilihan respon dari setiap peristiwa, yang pada akhirnya menjadikan kita lebih kreatif dalam merespon peristiwa.

Fariz
Di penghujung fajar
Antara Bogor dan Tangerang Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.