Massa PKS

Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari ini ngobrol panjang lebar dengan Kepala BAIS TNI (2011-2013, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto, di acara ultah firma hukum miliknya (SBP Law Firm), kebetulan penulis  diundang dalam acara tersebut. Seseorang mengenalkan penulis ke Pak Ponto sebagai junior dari Fahri Hamzah.

Selama ini penulis mengenal Pak Ponto hanya sebatas cerita dari kawan lawyer yang  juga managing partner di firma hukum tersebut. Info tentang Pak Ponto memang bersumber dari cerita-cerita kawan dan sedikit riset kecil-kecilan dengan sumber lain, khususnya tentang karirnya di kemiliteran dan juga kaitan dirinya dengan partai pilihan penulis selama bertahun-tahun, PKS.

Pak Ponto ternyata ada interaksi yang cukup intens dengan PKS, dari beberapa sumber bahkan menerangkan bahwa dirinya pernah menjadi Dewan Pakar PKS. Dari riset inilah kemudian penulis mengembangkan profilnya, dua kata kunci yang mempengaruhi profil tersebut, militer dan intelijen. sifat yang sering diasosiasikan kemiliteran dan dunia intelijen langsung melekat pada profil Pak Ponto, terlebih dirinya adalah Kepala BAIS di tahun 2011-2013, bukan posisi sembarangan di dunia intelijen.

Profil tersebut seakan jadi tidak sesuai ketika penulis berdialog langsung dengannya, karena penulis tahu ia punya interaksi dengan PKS dan dirinya pun tahu bahwa penulis juniornya Fahri, maka langsung saja penulis menanyakan pandangan beliau terkait situasi PKS saat ini.

Tentang situasi PKS, dia berpendapat bahwa semata ini karena memaksakan sistem militer dalam sebuah institusi sipil. Bahwa ini tidak hanya terjadi di PKS, hampir semua partai melakukan yang sama, terkecuali Golkar yang sudah berkembang dan beradaptasi, mungkin karena usianya juga sudah terbilang tua.

Perbedaan dianggap musuh, instruksi berpusat pada satu sosok tunggal dan arus informasi terkontrol dengan sedemikian rupa. Padahal dalam budaya sipil, perbedaan adalah teman berpikir, tak ada instruksi terpusat karena nilai yang dianut adalah egaliterisme dan informasi begitu terbuka dan bebas. Namun yang menjadi kekecewaan lantaran PKS lahir dari kalangan sipil, namun belakangan malah mengaplikasikan sistem militer. Berbeda dengan mayoritas partai lainnya yang memang lahir dari unsur militer atau memang sejak lahir kuat warna serta pengaruh militer dalam budaya partainya.

Namun ini juga yang membuat Pak Ponto melihat PKS sebagai sebuah harapan baru di perpolitikan Indonesia, beliau juga merasakan sendiri bahwa sebenarnya masih ada budaya sipil yang baik di PKS, khususnya di dewan pakar di mana saat ini dia berada. Namun kemudian budaya sipil ini, tidak berkembang di tataran manajerial dan teknis. inilah awal mulai konflik besar di PKS.

Pak Ponto menjelaskan, budaya militer sangat tidak sesuai diterapkan di insititusi sipil seperti partai politik. Ini akan mengebiri kreatifitas dan mematikan proses berkembangnya individu-individu dalam sebuah organisasi, yang pada akhirnya membuat organisasi tersebut tidak berkembang. Tapi Pak Ponto kembali menegaskan bahwa PKS ini punya harapan besar, jika mereka segera belajar dari apa yang terjadi hari ini, maka bukan tidak mungkin PKS akan menjadi model baru partai politik di Indonesia dan menjadi kiblat utama politik Indonesia.

Penulis sependapat dengan apa yang Pak Ponto sampaikan, bahwa memang PKS ini sangat jauh irisannya dengan dunia militer, apalagi PKS itu sendiri lahir sebagai bentuk perlawanan sipil terhadap nilai-nilai militer, namun jadi aneh ketika PKS sendiri yang kemudian malah menerapkan sistem nilai militer dalam partainya dikemudian hari, tentu dengan embel-embel dan simbol-simbol islam sebagai sampulnya. Jawaban Pak Ponto ini diluar ekspektasi penulis, ekspektasi awal penulis, beliau akan membenarkan penerapan nilai-nilai yang terkesan militeristik di PKS.

Dalam banyak hal penulis setuju, namun untuk satu hal penulis tidak setuju, Pak Ponto menganggap pimpinan PKS tidak sadar akan kekacauan ini, tidak sadar akan adanya misi implementasi nilai militer tersebut, penulis sedikit karena merasa ini bukan sesuatu yang diluar kesadaran, bisa jadi memang kekacauan dan konflik ini memang disengaja, baik kesengajaan dari unsur internal ataupun infiltrator dari luar, karena terlalu banyak hal yang jelas dan benderang dalam banyak aspek sehingga konflik ini menjadi begitu besar, tidak pernah sebelumnya di PKS ada kekacauan semacam ini. Atau bisa jadi memang ini tidak disadari, ketidak sadaran yang muncul dari ketidak mampuan untuk memimpin, ya, karena ini sudah terlalu lama, terlalu bodoh untuk bisa tidak sadar dalam waktu yang selama ini.

Obrolan dengan Pak Ponto tidak berhenti disitu, topik tentang ini berkembang, bukan hanya pada PKS dan partai politik namun juga tentang demokrasi Indonesia, mungkin akan penulis  sambung di tulisan berikutnya, yang judul tulisannya nanti “Indonesia, Pilpres dan Masa Depan Demokrasi kita”.[]

Hadiyan Fariz Azhar

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Jurnalpublik.com

Tinggalkan Komentar