Aceh, Jurnalpublik.com – “Cis! haram tanganku disentuh oleh para Kaphee Belanda! Haram Auratku dilihat oleh Kaphee Belanda!” ujar Cut nyak keras.

Mata yang rabun dan tulang yang lemah tidak dijadikan rukshah bagi sang panglima Cut Nyak Dhien untuk berhenti melawan dan sudi dijatuhkan marwahnya di depan para penjajah.

Demi menenangkan sang Cut Nyak, sang syahidah diizinkan dilayani oleh para pengikutnya dan untuk membuktikan kemenangan mereka atas perlawanan sang Cut Nyak, mereka mengabadikan momen kekalahan dengan mengambil foto panglima bersama pengikutnya.

Sungguh Foto tersebut mengekspresikan semuanya. kemarahan, kebencian, kekecewaan, rasa malu dan perlawanan seumur hidup. sekiranya sang Cut Nyak dalam kondisi sehat wal afiat, jangankan mengambil foto tertampak aurat, dekat saja para Belanda tidak akan sekarat!.

Kelak, ketika diasingkan di Sumedang, sang Cut Nyak dalam keadaan rabun tetap mengajarkan Al-Quran dan ilmu agama kepada para puan Sumedang. Beliau akrab disebut dengan panggilan kemuliaan ibu Perabu atau wanita suci. Bahkan dalam keterasingan dan keterbatasan matanya, jiwa mulia masih berusaha memberikan kebaikan untuk sesamanya.

110 Tahun kemudian, Seorang Cut Nyak lainnya lahir di bumi Syuhada. Dalam keterbatasan pandangan sang Cut Nyak muda berhasil melibas ketidakmampuannya, melawan kekurangan dengan prestasi yang di atas rata-rata.

Kemudian, ujian yang sama pun datang. Kali ini auratnya hendak disingkap demi sebuah gelar memperebutkan medali emas. Kehormatannya hendak diganti dengan teriakan kemenangan.

Tapi jangan kalian pandang sebelah mata, kedua Cut Nyak yang diuji dengan keterbatasan pandangannya. Bahkan dalam keadaan tak dapat melihat pun keimanan bersinar terang benderang.

Baginya Cut Nyak “sang kunci surga” ini medali termulia dan tak ternilai harganya adalah taat kepada perintah Rabb-Nya.

Maka, bergeminglah ia laksana gunung yang tegak menjulang melawan badai. Saat dia berjalan meninggalkan lapangan dan dinyatakan kalah, sejatinya dia telah memenangkan medali kehormatan langit tanpa harus mengalahkan lawan.

Cut Nyak Miftahul Jannah, dalam kekurangan pandanganmu engkau telah mengajari kami cara memandang dengan benar, yakni memandang dengan pandangan iman, syariat dan Islam.

Seandainya kami berada di lapangan saat engkau berjalan keluar, kami akan serentak berdiri dan memberikan tepuk kemenangan untukmu dan seluruh muslimah yang melindungi auratnya dengan sempurna.

Salam kemenangan wahai Cut Nyak, kami bangga denganmu. Selalu!

Rahmat Idris/ Penulis asal Aceh

Opini yang terkandung di dalam artikel ini adalah milik penulis pribadi, dan tidak merefleksikan kebijakan editorial Jurnalpublik.com

Tinggalkan Komentar