Yusuf Qardhawi

Jurnalpublik.com – Secara global, Dr Yusuf Al Qardlawi menyebut enam trend atau arus gerakan yang dikhawatirkannya akan muncul sebagai penghalang shahwah (kebangkitan).

Pertama, trend puritan (tazammut) dan jumud, yang diwakili oleh kalangan mazhabisme dan kaum skripturalisme (nushushiyah). Trend ini bercirikan antipati terhadap segala bentuk pembaharuan (tajdid) dan ijtihad, serta menutup diri dari perkembangan zaman.

Kedua, trend ekstrimisme yang sangat condong kepada kekerasan, dan lebih kental pendekatan ta’siir dan tanfir-nya daripada taysiir dan tabsyir.

Ketiga, trend ‘militerisme’, yang bercirikan sikap gegabah dan tergesa dalam melakukan konfrontasi melawan kekuasaan tanpa memperhatikan situasi yang tepat.

Keempat, trend takfir wal hijrah, yang sangat eksklusif dan jauh dari masyarakat banyak, serta mengabaikan usaha perbaikan dan perubahan gradual.

Kelima, trend eksklusivisme dan fanatisme sempit terhadap satu golongan, serta selalu berprasangka negatif terhadap kelompok lain.

Keenam, trend atau arus kepentingan politik lokal dan temporal dengan mengesampingkan bidang-bidang garapan lainnya.

Enam trend kelompok diatas kesemuanya dianggap tidak berkesesuaian dengan karakteristik moderasi dalam Islam dan tidak memiliki kelayakan untuk bisa terus berada dalam barisan penyokong shahwah. Adapun trend moderasi (at tayyar al wasathy) sebagai satu-satunya tumpuan harapan shahwah, seperti berkali-kali ditegaskan Al Qardlawi, memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1. Memadukan antara salafiyah dan pembaharuan (tajdid). Salafiyah berarti kembali kepada generasi pertama dalam memahami agama dan mengembalikan segala persoalan keagamaan kepada Al Quran dan Sunnah Rasul. Sedangkan tajdid adalah proses penyesuaian terhadap perkembangan zaman dan pembebasan dari belenggu kejumudan dan taklid.

2. Menyeimbangkan antara ajaran-ajaran agama yang konstan (tsawabit) dan yang bisa berubah (mutaghayyirat), sehingga tidak terjebak dalam kebekuan dalam persoalan-persoalan yang lentur dan menghendaki dinamisasi. Juga tidak terjebak kepada perubahan hal- hal yang semestinya tetap dan tidak berubah.

3. Mewaspadai dan menghindari cara pemahaman keliru terhadap Islam, yang terpresentasikan dalam tiga model:

(1). Pemahaman yang stagnan dan jumud terhadap Islam (tajmid).
(2). Pemahaman distortif , penyimpangan dan pengaburan hakekat ajaran-ajaran Islam (tamyii’), seperti dilakukan kaum sinkretis.
(3). Pemahaman parsial dan pemisahan satu aspek ajaran dari lainnya (tajziah)

4. Memahami Islam secara universal dan komprehensif, meliputi segala dimensi dan aspeknya, yaitu: aspek spritual (imany, ruhani); aspek sosial (ijtima’i); aspek politis (siyasi): aspek jurisprudensial (tasyri’i) ; serta aspek peradaban dan kultural (hadlari)

Tinggalkan Komentar