Jakarta, Jurnalpublik.com – Ya, mengapa perselisihan antar para pihak bersaudara seakidah, sefikrah dan sejamaah bisa sedemikian ekstrem sampai level yang nggak masuk akal sama sekali? Dan seakut apa sih kontroversi yang terjadi, kok dalam menyikapi dan upaya menyelesaikannya, sebagian pihak bahkan sampai meyakini tidak ada jalan lain lagi kecuali dengan tindakan “potong, pangkas dan amputasi generasi”? Mengapa? Berikut ini kira-kira antara lain “bocoran” faktor-faktor penyebabnya:

Diantara yang paling dahsyat adalah dominannya pola pikir dan pola sikap faksional. Dimana hampir semua faktor negatif lain dalam konteks ini sangat boleh jadi bermuara disini.

Sementara dari aspek syar’i, seluruh penyebab mungkin bisa dikembalikan kepada dua faktor utama. Pertama, tak tertunaikannya kewajiban tabayyun, tatsabbut, konfirmasi dan klarifikasi secara benar. Kalaupun ada biasanya baru sebatas klaim, dan belum benar-benar dilakukan sesuai manhaj, kaidah dan tujuannya.

Misalnya saja yang ditugasi untuk melakukannya, saat menyampaikan laporan hasil klarifikasi dan juga investigasinya, justru bukan kondisi dan fakta riil apa adanya yang dilaporkan (mungkin saja karena memang tidak didapat), melainkan justru hanya persepsi dan kesimpulannya sendiri.

Apalagi jika klarifikasi dan investigasi yang andaipun dilakukan, hanya dengan target dan tujuan untuk mencari pembenaran saja atas dzann, sudut pandang, persepsi, penilaian dan kesimpulan yang telah dimiliki atau dibangun sebelumnya.

Padahal dalam upaya tabayyun dan klarifikasi, yang inti dan merupakan tujuan serta target prioritas utama itu, seharusnya justru dalam rangka mencari titik temu, setelah poin-poin masalah yang diperselisihkan menjadi benar-benar klir dan jelas tanpa tersisakannya sedikitpun syubhat.

Dan yang kedua (diantara dua induk penyebab dari aspek syar’i), adalah tak terindahkannya prinsip dasar husnudzan yang memang merupakan kewajiban syar’i terberat bagi siapapun wabilkhusus dalam konteks perbedaan dan perselisihan. Karena justru tergantikan oleh sikap kebalikannya sama sekali, yakni sikap suudzan yang seringkali sampai mengakumulasi.

Katidaktahuan juga tak ayal memainkan peran yang sangat penting sebagai salah satu faktor penyebab semakin melebar dan mendalamnya jurang perselisihan yang terjadi. Ya banyak sekali pihak yang terlibat dan masuk ke dalam pusaran perselisihan ekstrem justru tidak tahu apa-apa tentang banyak hal mendasar yang terkait sangat erat dengan fenomena perselisihan yang berlangsung. Akan tetapi, sayangnya, mereka malah merasa, mengklaim, tampil dan bersikap seolah-olah tahu segalanya.

Itu masih ditambah lagi dengan adanya fenomena gap pemikiran dan wawasan (فجوة فكرية ثقافية) tak sederhana antar para pihak yang juga merupakan salah satu faktor penyebab penting yang tidak mungkin diabaikan ataupun diingkari.

Lalu faktor penyebab lain yang pasti turut terlibat langsung disini, tak lain adalah tabiat/sifat/karakter ghulu (berlebih-lebihan) dan tatharruf (ekstrem) pada masing-masing atau sebagian pihak yang berselisih, baik secara umum maupun khusus dalam sikapnya terhadap pihak lain.

Selanjutnya yang tak kalah negatif dan destruktifnya, adalah dominannya orientasi tafsir dalam menyikapi pihak lain. Yakni apapun yang dilakukan oleh pihak lain tersebut selalu ditafsiri dengan tafsir khusus biasanya selalu diambil yang ternegatif, tentu menurut persepsi subyektif yang telah ada atau terbangun sebelumnya pada pihak penafsir.

Berikutnya juga ada persepsi tentang pihak lain yang nggak nyambung, nggak ketemu dan nggak sesuai sama sekali dengan fakta riil yang ada pada pihak lain dimaksud. Dan tentu sudah sangat jelas biang penyebab kondisi ini, apalagi kalau bukan karena terenyahkannya prinsip tabayyun dan kaidah husnudzan serta dominannya pola sikap “tafsir” seperti tersebut diatas.

Ini sangat umum terjadi dalam dunia perbedaan dan perselisihan ekstrem antar siapa saja. Bahkan tak jarang terjadi pula dalam konteks perselisihan antar para ulama sekalipun. Dimana sebagian atau salah satu pihak mempersepsikan sesuatu tentang pihak lain, yang atas dasar itulah penilaian, kesimpulan dan penyikapan dibangun. Padahal kondisi sebenarnya dan fakta riil yang ada pada pihak lain tersebut, sama sekali berbeda serta sangat tidak sesuai dengan persepsi dimaksud.

Nah salah satu faktor penyebab utama terjadinya kondisi super buruk seperti itu, adalah dominannya ketertutupan hubungan, ketersumbatan komunikasi, ketidak siapan musharahah, kelemahan tradisi hiwar, dan juga pola sikap ewuh pakewuh yang tidak pada tempatnya, serta disempurnakan oleh tidak diterapkannya manhaj muhasabah, baik yang bersifat juz’iyah maupun lebih-lebih yang berskala syamilah. Apalagi ketika semua itu telah mengakumulasi, wallahu a’lam sampai lipat berapa kali tumpang tindihnya.

Terakhir, masih ada lagi faktor penyebab yang tak kalah dahsyat. Yakni masalah sudut pandang, pola pikir dan pola sikap seputar teori konspirasi. Plus diberlakukannya sistem dan pola kerja intelijen antar sesama kader dakwah. Padahal saat orientasi konspiratif dan gaya intelijen itu ditujukan ke pihak eksternal saja banyak yang salah alamat dan menimbulkan banyak masalah. Apalagi bila hal itu justru diterapkan di internal jamaah dan dibidikkan kepada sesama ikhwah. Maka musibahpun jadi semakin sempurna dan paripurna!!!

Wallahul Musta’an.

Oleh : Mudzhoffar Jufri (Mantan DSW PKS Jawa Timur)

Tinggalkan Komentar