Jakarta, Jurnalpublik.com – Hampir-hampir, aku kehilangan selera politik pada pilpres kali ini. Dua pasang yang telah mendaftar, Jokowi-Ma’ruf Amin versus Prabowo-Sandi, itu sama baiknya. Fifty-fifty, kata orang. Bak pinang dibelah dua. Sama bentuknya, sama besarnya. Memilih satu, tak merugikan yang lain.

Mengajak memilih yang satu, tak enak hati dengan yang lain. Apa ingin mengajak golput? Tidak juga. Aku sadar, itu bukanlah ajakan yang baik. Bisa kena nanti. Tapi, memilih adalah hak, bukan kewajiban. Sah-sah saja. Kita bisa tidur siang siapa pun yang terpilih. Indonesia masih ada.

Jokowi-Prabowo telah sama-sama diketahui. Aku menganggapnya seimbang saja. Jokowi telah memimpin, ada plus-minusnya. Itu biasa saja. Prabowo belum pernah memimpin. Elok juga diberi kesempatan, siapa tahu lebih baik? Tapi lebih buruk mungkin juga bisa? Itu juga biasa saja.

Aku sih, inginnya dibagi sama banyak saja. Faktanya dua orang ini sama-sama elok. Suka tak suka, keduanyalah yang pada akhirnya terdaftar lagi di KPU. Tak perlu ada cebong-cebongan, tak usah ada kampret-kampretan. Bagi sama rata. Baru pikirkan rakyat, naikkan derajat hidupnya.

Sandi-Ma’ruf Amin bak timur dan barat, sama baiknya juga. Tak ada timur mana pula ada barat. Timur tempat matahari terbit, barat tempat matahari terbenam. Satu masa depan, satu masa lalu. Satu milenial, satu kolonial, tak perlu begitu juga. Sisi plus-minusnya pasti sama banyaknya.

Sandi tak usah disantri-santrikan, Ma’ruf Amin tak perlu juga dipengusaha-pengusahakan, diekonom-ekonomkan. Biarkan saja begitu. Telah sama-sama hebat di bidangnya masing-masing. Tantangan Indonesia terletak pada kedua belah pihak. Ya soal ekonomi, ya soal moralitas bangsa.

Sandi masuk dengan mahar yang besar, Ma’ruf Amin melesat dengan intrik politik di luar perkiraan. Sudahlah, tutuplah itu. Tak usah dibesar-besarkan. Semua orang ingin masuk kok. Tak usah munafik dalam urusan kuasa. Mahathir usianya 92 tahun, tapi tetap mau dan rakyat memilih.

Ada masanya orang ngotot dukung Prabowo, Prabowo segala-galanya, semua bisa selesai. Tapi pada akhirnya, dia ngotot pula dukung Jokowi, Jokowi tak ada duanya, dia lupa dengan kata-katanya sendiri. Aku tak mau begitu, melihatnya saja muak. Pilpres kali ini, tak perlu lagi begitu.

Ini merusak, mengganggu takaran. Yang pas jadi berlebih, ada kalanya kurang, dipangkas semau-maunya. Tim sukses tak ubahnya minyak, bukannya mendinginkan, melainkan membakar. Jubir-jubir itu membuat bala. Menyerang yang tak perlu diserang, membela yang tak perlu dibela.

Yang wajar-wajar saja. Seperlunya saja. Dukung pakai rasio, akal, hindari emosi, tak mau kalah, ingin menang sendiri. Dukungan kita saja yang hebat, yang lain tidak. Pada dukungan kita ada titik lemahnya, begitu sebaliknya? Tapi, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi, seimbang saja. Memilih satu tak merasa untung, tak memilih yang lain, juga tak merugi. Pejamkanlah mata.

Aku ingin mengajak damai, bukan golput. Jujur, kubu-kubuan itu tak menyehatkan. Bikin ribut saja. Tenaga habis, hasil tak ada. Sepanjang periode ini, ribut soal kubu saja. Ada yang mau melibatkan Ahok lagi. Tak usahlah, tak perlu. Luka lama jangan dibuka lagi. Pilihan ini telah pas.

Pada keduanya, jejak politik umat sangat kentara. Sama besarnya, sama kuatnya termasuk pengaruhnya. Diskriminasi, kriminalisasi, mayoritas menindas minoritas dan minoritas menindas mayoritas, tak perlu dikhawatirkan lagi. Masih mungkin? Ya, mungkin saja. Tapi, tak ekstremlah.

Jejak-jejak itu bisa saja dihapus, dinihilkan. Dalam politik, apa yang tak bisa? Semua bisa. Awalnya bisa tidur siang, akhirnya terganggu, bahkan tidur malam pun tak bisa. Awalnya, sama-sama baik, akhirnya sumbing, rusak oleh banyak tangan yang tak dicuci, bau, kotor, dan bervirus.

Lalu, mau apa lagi? Matikan televisi, matikan lampu, pakai headset, hidupkan lagu Nissa Sabyan. Resapi, mengangguk-angguklah sendiri, kalau suara bagus ikuti pelan-pelan, suara jelek juga tak apa, tapi tahu dirilah. “Soal copras-capres biarkanlah, telah aman, siapa pun yang menang,” kata temanku yang aku amini saja.

Oleh: Erizal

Tinggalkan Komentar