Jurnalpublik.com – Tulisan ini bukanlah tafsir Quran. Hanya perspektif penulis saja atas kondisi politik dengan sudut pandang surat Al Kahfi.

Dalam surat Al Kahfi ada 3 tokoh yang Allah kisahkan kepada kita. Pertama adalah pemuda-pemuda yang mendiami gua (Ashabul Kahfi). Kedua adalah Nabi Khidr (AS) yg diminta Nabi Musa (AS) utk menjadi guru/ trainernya. Ketiga adalah Zulqarnayn yang diminta suatu kaum untuk membangun tembok besi untuk mengurung ya’juj dan ma’juj.

Dari ketiga tokoh yg Allah kisahkan ada hikmah politik yg mungkin bisa dipetik.

Ashabul Kahfi pergi menghindari tekanan penguasa, tinggal di gua dan ditidurkan Allah beberapa waktu lamanya sebagai bentuk perlindungan. Maka apabila ada tekanan penguasa kita bisa mengambil strategi untuk mencari suaka politik ke tempat yang lebih aman.

Hal ini jg dilakukan Nabi Musa (AS) saat ditekan Firaun, hingga harus menyebrangi lautan. Nabi Ibrahim (AS) saat ditekan Namrud dan Nabi Muhammad (SAW) saat ditekan penguasa Makkah hingga harus hijrah ke Yastrib.

Menyingkir mencari suaka perlindungan ini juga dilakukan Syekh Yusuf Qaradawi dkk. Dalam hal ini Habib Rizieq demikian dirasa sudah sesuai menyingkir ke Mekkah sementara waktu. Dibanding memaksakan konfrontrasi dengan penguasa yg berujung pada kekalahan dan kerugian umat.

Nabi Khidr (AS) bertugas memberikan training khusus untuk mendidik Nabi Musa (AS). DIdikan berupa analisis  informasi, kesabaran negosiasi, keamanan dan engineering (kriminologi, perkapalan, bangunan & analisis informasi). Nabi Musa (AS) menjalani training khusus dari super trainer Nabi Khidr (AS) dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi penguasa (Firaun) secara face to face untuk berdakwah.

Artinya untuk menghadapi penguasa politik tertinggi baik untuk menjadi pimpinan pemerintahan maupun parlemen seseorang harus diberi training yg sangat baik yang dibawakan oleh seorang trainer yg berkompetensi tinggi.

Zulqarnayn mengenai pemerintahan dan engineering (keputusan-keputusan publik dan pembangunan tembok skala besar dengan teknologi logam).

Menghadapi musuh yg banyak dan kejam tidak harus bertempur. Pemerintahan dapat menggunakan teknologi untuk membendung serangan musuh yg berat. Diantaranya dengan teknologi tembok besi. Kebijakan ini bahkan mampu membendung musuh hingga jangka waktu lama tentunya dengan pertolongan Allah juga.

Artinya pemerintahan wajib memiliki pakar teknologi (baik engineering maupun digital). Dengan bantuan teknologi pemerintahan dapat melakukan hal yg lebih berdampak dibanding konfrontasi langsung.

Hal ini juga kita dapati dalam perang Ahzab. Gempuran berbagai hizb dengan pasukan tangguh harus dibendung dengan cara yg tidak biasa yaitu teknologi. Maka munculah usul untuk membuat parit dengan kedalaman dan lebar yg terukur hingga bisa menghambat loncatan manusia,  membendung lompatan kuda perang terbaik dan memperlambat jarak memanah.

Itulah hikmah politik dari surat Al Kahfi dari kacamata penulis. Hal ini sedikit banyak bisa dianalogikan dengan kondisi maupun upaya strategi perpolitikan di Indonesia. Karena menurut penulis menganalogikan perang di masa Rasulullah Muhammad (SAW) tidak semuanya relevan untuk dianalogikan dengan event pemilu kita. Meskipun ghozwah-ghozwah tersebut ada juga yg relevan dan bisa diambil hikmahnya.

Kita sering menganalogikan beberapa ghozwah yang terjadi di masa Rasulullah dengan strategi atau kondisi pemilu yang kita jalani. Namun musuh kita atau tepatnya kompetitor kita bukanlah murni kaum musyrikin. Kompetitor kita masih sesama muslim bahkan sesama alim ulama dan kyai. Jadi perlu dipilah manakah hikmah yang relevan sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang kurang tepat dan mengarah kepada kebencian atau kekerasan.

Penulis berusaha menyuguhkan analogi diluar sejarah peperangan. Untuk kemudian mengganti analoginya dengan beberapa kisah para Salihin dan para Anbiya dalam sisi kebijakan politik atau roda pemerintahan.

Tinggalkan Komentar