Jakarta, Jurnalpublik.com – Kita bersyukur dalam pilpres 2019 ada dua pasang calon yang semoga bisa membuat suasana politik menjadi adem. #jokowi-ma’ruf dan #prabowo-sandi.

Dua pasang tersebut setidaknya akan mengerem dan menurunkan ketegangan politik sejak pilpres 2014, pilkada DKI 2017, dan pilkada serentak 2018. Semua mengakomodasi ulama. Meskipun masih ada juga yang bilang, yang satu ulama pilihan presiden, yang satu presiden pilihan ulama.

Setidaknya yang milih Jokowi tidak akan membully dengan isu politik sektarian, primordial yang selama ini diarahkan kepada prabowo dan ummat Islam, karena Jokowi yang sekarang justru memasukkan unsur politik identitas dalam kelompoknya. Dan pemilih Prabowo memastikan akan tetap memuliakan Kyai Ma’ruf. #pilpresadem

Seharusnya memang politik Islam dan anti Islam segera diakhiri, dan salut kepada Jokowi yang sudah memulai, karena selama ini Jokowi yang tertuduh sering membenturkan ulama dan negara, Islam dan Pancasila.

Bahkan sebelumnya sering memprovokasi dengan kalimat: “jangan campur adukkan agama dan negara”, “jangan percaya akhirat, karena belum pernah melihatnya”, dan lain-lain.

Jadi, nampaknya dalam pilpres 2019 ini Jokowi mulai berubah. Jokowi merangsek ke kanan yang “primordial”.

Saya sendiri berharap semoga perubahannya tulus. Lahir dan bathin. Tapi ada juga yang bilang, bahwa orang-orang di sekitar Jokowi masih banyak yang Islamopobhia.

Sedangkan Prabowo, menurut saya juga berubah, meski direkomendasikan ulama, tapi lebih memilih isu tengah, kerakyatan dan kesejahteraan. Memilih Sandi (yang pengusaha) dan bukan Habib Salim yang ulama dan hasil ijtima ulama.

Isu yang diambil Prabowo dengan memilih Sandi lebih terasa PAS dengan problem kebangsaan kita.. (i) hutang yang besar, (ii) rupiah anjlok, (iii) tenaga kerja asing dan pengangguran, (iv) pertumbuhan ekonomi yang lemah, (v) ancaman kebangkrutan beberapa BUMN, dan lain-lain yang kesemuanya berbasis pada ekonomi.

Pilpres 2019 ini, agama bukan lagi menjadi sentral perdebatan. Keduanya dari kalangan ummat Islam. Bahkan ada kabar “pengikut Ahok” banyak yang akan golput. Salah satunya karena kecewa dengan pilihan cawapres Jokowi.

Semoga Pilpres 2019 bukan menjadi ajang saling sikat, saling mencaci maki. Tapi menjadi ajang untuk mencari pemimpin yang tepat untuk membawa Indonesia Jaya.

Oleh : Slamet (Advokat dan Aktivis KA KAMMI)

Tinggalkan Komentar