Iskandar Waworuntu, Pegiat Bumi Langi Institut

Yogyakarta, Jurnalpublik.com -Dalam sebuah kesempatan sangat langka (2/8/2018), penulis bertemu langsung dengan Iskandar Waworuntu. Pak Is, panggilan akrab Iskandar Waworuntu adalah pegiat Bumi Langit Institut, sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan dari Yayasan Wakaf Bumi Langit yang didirikan tahun 2014.

Setelah petualangannya, Pak Is akhirnya berlabuh di daerah Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Sebelumnya ia sempat tinggal di Bali. “Di Bali kita menanam apa pun tanah sangat subur, tapi atmosfer lingkungan di sana kurang mendukung bagi saya yang sedang mendalami Islam”, kata Pak Is dalam kesempatan tersebut.

Pak Is menekuni dunia pertanian dengan konsep permakultur. Misi permakultur yang ia gagas dalam bertani adalah membangun relasi yang harmonis dengan lingkungan secara seimbang serta berkelanjutan.

Prinsip untuk menghargai dan memperlakukan alam dengan baik akan melanggengkan relasi manusia dengan alam. Ini yang disebut dengan praktik permakultur, yakni teknik yang berlandaskan kepedulian kepada bumi, masyarakat, dan masa depan (kesinambungan). Sikap inilah yang sekarang sudah mulai luntur dalam kehidupan masyarakat apalagi dalam lingkup industri pangan yang menitikberatkan pada pencapaian keuntungan (kapitalis).

“Ini adalah konsep thoyib. Kita jangan memikirkan kita bisa beli apa, melakukan apa, tanam apa. Tapi kita juga perlu memikirkan, apakah dengan membeli, menanam, dan melakukan sesuatu, kita meninggalkan residu gak? Residu itu sampah (limbah). Residu itu jahat, bisa merusak mahluk yang lain. Itu harus kita pikirkan. Jangan-jangan kita sakit karena kita mendzalimi mereka (mahluk)”, cerita Pak Is kepada penulis.

Tak hanya bertani, Pak Is, yang juga pernah bergabung dengan Bengkel Teater besutan almarhum W.S Rendra, juga setia menanamkan nilai-nilai Islami dalam proses panjang dunia pangan dan kehidupan. Olahan pangan yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada pemenuhan gizi dan kesehatan tetapi juga menjadi kekayaan spritual.

Bumi Langit dan Konsep Tidak Boleh Berlebih-lebihan

Pasca gempa yang menguncang Yogyakarta di tahun 2006, kawasan rumah dengan prinsip natural living yang terpadu mulai dibangun oleh Pak Is di Mangunan, desa yang berdekatan dengan kawasan makam para Raja di Imogiri, Yogyakarta.

Kawasan Bumi Langit Institut seluas tiga hektar terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama, warung Bumi Langit yang berupa joglo. Bagian ini tempat untuk menikmati hasil dan olahan pertanian. Bagian kedua, rumah tinggal yang berupa bangunan limasan bergaya cere gencet ala Bantul. Bagian ketiga, lahan pertanian organik terpadu yang terdiri dari sistem pengolahan air, biogas, solar panel, kandang ternak serta ada juga rumah bambu bagi para tamu yang ingin bermalam di sana.

Pak Is memiliki tradisi unik untuk menyambut para tamu. Beliau langsung mengajak para tamu menuju belakang rumah, yakni dapur. Kemudian, menuju ruang-ruang lainnya hingga ruang tamu sebagai bagian akhir. Ternyata kebiasaan unik tersebut merupakan prolog tentang cara hidup yang dipilih Pak Is. Menurutnya, dapur adalah jantung kehidupan dari sebuah rumah dan sumber berkah yang diperoleh dari rangkaian proses panjang pangan yang membekali penghuninya untuk menjalani hidup.

Pangan memiliki manfaat yang tampak nyata seperti kandungan nutrisi dan manfaat intangible. Prinsip halalan thoyyiban terinternalisasi ke dalam konsep bertaninya. Pangan tidak sekadar memenuhi kebutuhan rasa yang hanya dinikmati lewat mulut dan perut. Lebih dari itu, pangan bisa menjadi sumber berkah. Pemikiran inilah yang mendorongnya untuk mengembalikan kedaulatan pangan sebagai sesuatu yang membawa berkah; seperti kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan.

“Segala yang masuk ke badan harus baik bagi badan dan bermanfaat. Boleh mengambil apa pun dari alam, asal sesuai haknya. Jangan berlebihan. Ada hak Allah yang harus dipenuhi di sana, yakni keseimbangan. Namun jika berlebihan, maka namanya mencuri, mendzalimi hak Allah, mengambil lebih dari haknya,” imbuh pria yang memulai bercocok tanam secara organik sejak 1987 di Bali.

Bersatu Dengan Alam

Bumi Langit membangun ekosistem baru yang berdaulat. Semua unsur dirangkai untuk kelangsungan rantai makanan yang berujung pada keseimbangan lingkungan. Air yang diperoleh dari sumur sedalam 163 meter digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan dikembalikan lagi ke lingkungan. Pria penggagas Wisnu Foundation di Bali ini memperlihatkan proses pengolahan air limbah dari rumah tangga dan peternakannya yang diolah melalui beberapa tahap sebelum dikembalikan lagi ke lingkungan. Output-nya menghasilkan banyak manfaat, seperti air untuk menyirami tanaman dan sirkulasi air kolam serta pupuk.

Sistem solar cell dikembangkan untuk memenuhi pasokan kebutuhan listrik yang digunakan dengan bijaksana. Begitu pula pengolahan sampah. Terdapat kebiasaan untuk memilah sampah. Semua sampah organik dikumpulkan dan diolah menjadi kompos yang nantinya dipakai untuk menyuburkan tanah. Limbah ternak mulai dari sapi hingga kelinci juga tak luput diolah untuk dijadikan sesuatu yang berharga. Ada yang diolah sebagai biogas atau pun sebagai pupuk.

Kemajemukan tanaman juga diterapkan dalam sistem tanam. Seperti layaknya manusia, tanaman (tumbuhan) pun saling membutuhkan dan saling memanfaatkan satu sama lain. Misalnya, tidak hanya menanam tumbuhan yang menghasilkan panenan untuk kebutuhan konsumsi, tetapi juga tanaman yang berguna untuk memelihara kelangsungan hidup tanaman lain, seperti dalam hal untuk terhindar dari serangan hama. Tak heran, ada beberapa tanaman bunga warna warni, ditanam bersebelahan dengan tanaman pokok. Beliau meyakini bahwa dalam tataran lebih tinggi, tanaman atau segala sesuatu yang hidup memiliki roh dan energi atau disebut sebagai biophoton. Pancaran energi tersebut sebenarnya bisa dirasakan manusia.

Hasil yang diperoleh dari pertanian dan peternakannya kemudian diolah secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri dan juga dijual. Kefir, butter, keju, selai, roti, tempe dan aneka olahan lainnya adalah wujud rejeki yang membawa berkah karena diproses dan diproduksi secara bersahabat dengan alam. Pak Is menghadirkan Warung Bumi Langit sebagai titik temu perjalanan pangan yang bisa menjadi pengalaman berharga bagi para tamu, tidak hanya sebagai pengenyang perut.

Selain itu, hasil bumi dari pertanian ini dijual lewat Pasar Organik yang diadakan setiap Minggu pagi. Acara ini juga menggandeng para petani lokal di lokasi sekitar untuk memasarkan hasil panen mereka. Selain itu, program penerapan praktik permakultur juga turut dihadirkan untuk publik. Para peserta diajak untuk memulai bersikap berdasarkan adab saat mengikuti program.

Islam Sebagai Pegangan Hidup

Kisah hidup Pak Is sangat berliku. Pendidikan formalnya berhenti setelah tamat SMP, saat ia berusia 14 tahun. Setelah itu, ia merantau hingga ke Australia. Kembali ke Indonesia, ia hijrah ke Yogyakarta untuk bergabung dengan Bengkel Teater di tahun 1972. Pada saat yang sama, Pak Is mulai membuat kerajinan kulit di Kasongan berupa tas, dompet, ikat pinggang dan aksesoris lainnya.

Petulangan hidupnya berlanjut. Tahun 1982, Pak Is memutuskan untuk mengikuti program transmigrasi spontan dan membuka lahan pertanian di Bengkulu. Demi kelangsungan lahan pertanian yang diimpikannya, ia bahkan menjual rumah di Menteng, Jakarta. Sayangnya, usaha pertaniannya merugi. Bahkan tidak ada yang tersisa. Meski mengalami keterpurukan, ia mendapatkan berkah bertemu dengan tambatan hatinya, Darmila, yang kini menjadi istrinya. Kehidupan berkeluarga menuntun Pak Is menjadi semakin mendalami dan mencintai Islam.

“Bagi saya, Islam sesuatu yang luar biasa indah karena saya diberi tuntunan untuk bisa lebih dekat dengan Allah,” ungkap Pak Is tentang pengalaman hidupnya yang menjadi mualaf di tahun 2000. Islam menjiwai tiap sisi kehidupannya, seperti praktik permakultur yang berlandaskan etika, yang dalam Islam disebut sebagai adab.

Pak Is dan Bumi Langit Institutnya telah memulai dan menginspirasi terciptanya kemandirian pangan bahkan memiliki nutrisi spiritual. Cinta terhadap alam, menuntun hubungan yang baik pada sesama dan Sang Khalik. Bagi yang akan berlibur ke Yogyakarta, rugi rasanya jika tidak berkunjung ke Bumi Langit. Kita bisa belajar dengan Pak Is, mengenai konsep thoyib, tidak berlebih-lebihan, menyatu dengan alam dan masih banyak lagi.[]

Nb. Beberapa informasi tambahan saya dapatkan dari internet tentang profil Iskandar Waworuntu, pegiat Bumi Langit Institut.

Tinggalkan Komentar