Anis Matta dalam Agenda Orasi Arah Baru Indonesia, 3 Februari 2018 / Jurnalpublik

Jakarta, Jurnalpublik.com

“Kita akan melakukan lompatan besar” begitu Anis Matta menyampaikan dalam orasinya. Paling tidak ada 4 hal yang menjadi fokus perhatian Kita dengan kalimat diatas :

“Kita” = jama’, kolektif, kumpulan
“Melakukan” = amal, kerja konkrit
“Lompatan” = move on, naik kelas, atau ke tempat yang lebih tinggi
“Besar” = sesuatu yang menarik, lebih baik dan punya daya tampung yang besar.

Ditulisan pertama Saya sudah melakukan interpretasi sederhana tentang “Santai”, “Kita” dan “Lompatan Besar”. Dalam tulisan kedua ini Saya mencoba sedikit mengulang tetapi men-zoom lebih jauh.

“Kita” bisa kumpulan baru atau entitas baru yang didasari afiliasi atas ide, gagasan dan narasi baru. Bisa jadi “murni” baru, atau sebuah hasil evaluasi perjalanan yang kemudian di kompilasi dan di “adjustment” menjadi sesuatu yang baru. Modifikasi, kreasi dan brand yang baru. Tetapi prinsipnya ada pada afiliasi “value” yang tercermin dalam ide, gagasan dan narasi.

Kemerdekaan ide yang berbasis value menjadi dasar ikatan berkumpul dalam membentuk entitas baru, apapun itu namanya.

“Melakukan” adalah sebuah kerja. Bukan sekedar kerja, tetapi kerja dengan dasar pengetahuan yang kuat, arah yang jelas, serta manajemen yang profesional dan terbuka. Kerja dengan perencanaan, melibatkan banyak orang, dengan indikator yang terukur, pembagian kerja yang jelas, dan target pencapaian yang idealis sekaligus realistis.

“Melakukan” adalah kata kerja, bukan kerja serabutan, tetapi kerja yang berkesinambungan. Jadi ketika “melakukan” lompatan besar maka ini nantinya adalah lompatan dengan pengetahuan yang kuat, arah yang jelas, manajemen profesional, terukur dan berkesinambungan.

“Lompatan” adalah naik kelas, menuju tempat yang lebih tinggi. Move on dari masa lalu yang suram, atau bisa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kesalahan-kesalahan masa lalu.

“Lompatan” adalah sesuatu yang lebih tinggi, lebih baik, uji potensi dan kekuatan, tes kemampuan dan pengetahuan. “Lompatan” adalah keniscayaan untuk prestasi yang lebih baik, keniscayaan untuk menjadi lebih mencapai puncak. Tanpa melompat cita-cita tinggi tak akan tercapai.

“Lompatan” adalah semangat kompetisi, semangat fastabiqul khoirot, semangat untuk berlomba mencari kebaikan-kebaikan. Tanpa lompatan posisi akan menjadi stagnan, rata-rata air, bahkan tanpa lompatan situasi menjadi diam, beku dan mengarah pada titik bosan.

“Lompatan” bisa juga bermakna mengeksplorasi tenaga, mengelaborasi semua pengetahuan dan sekaligus mengukur ketinggian. Takut melompat berarti juga sikap jiwa tidak percaya diri akan potensi dan kemampuan.

“Lompatan” bisa juga bermakna eksistensi, menunjukkan kemampuan dan tampil di tengah publik dan pada titik lain juga siap di evaluasi publik. Takut melompat adalah juga ketakutan tampil di publik atau di evaluasi publik.

“Lompatan” bisa juga bermakna keterbukaan, karena melompat akan ada hentakkan dan juga gerakan, bisa juga mengagetkan, karena mungkin saja ada suara-suara sebagai efek dari lompatan.

Lompatan “Besar” ; sesuatu yang besar adalah sesuatu yang punya daya tampung banyak. Bisa mengakomodir banyak muatan, jadi bukan sekedar lompatan, tetapi lompatan yang punya skala besar.

“Besar” bisa juga bermakna banyak berkontribusi, banyak menghasilkan manfaat sekaligus produktif baik dalam kualitas maupun kuantitas.

“Besar” juga bermakna penyesuaian, menyesuaikan keadaan dengan target dan capaian maksimal. Dari kecil ke besar maka baju juga harus disesuaikan ukurannya, tidak ngotot berkutat pada ukuran lama.

“Kita akan melakukan lompatan besar” adalah ajakan untuk bekerja maksimal dari biasanya. Mengajak orang untuk berani berbuat dan menghentakkan kemampuan. Memang tidak semua orang siap ikut melakukan lompatan besar. Karena lompatan besar akan mengganggu zona nyaman, akan mengusik stabilitas dan status quo. Bahkan bagi orang-orang yang sudah PW (posisi wuenak) mungkin takut untuk ikut karena ada resiko terjatuh.

Tetapi situasi saat ini adalah situasi yang sudah tidak memungkinkan lagi untuk Kita tidak melompat. Dunia sudah begitu berubah dan sangat kompetitif, tidak mungkin bertahan tanpa melakukan lompatan besar. Banyak orang tidak mau ikut bukan karena tidak mau, tetapi karena mereka punya batas imajinasi dalam mempersepsi masa depan, sehingga tidak ada lagi kekuatan imajinasi yang memotivasi untuk melakukan lompatan.

Pada akhirnya ada yang melakukan lompatan besar dan ada yang tetap pada posisi stagnan, itu adalah pilihan. Semua pilihan harus merupakan pada posisi pilihan sadar, dan selalu bisa dipertanggung-jawabkan di dunia dan akhirat. Saya akan ikut dalam gerbong lompatan besar, bagaimana dengan Antum?

Pisangan Lama
13 Juli 2018

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar