Anak susah makan (ilustrasi)

Jakarta, Jurnalpublik.com – Paling pusing kalau dapat pertanyaan seperti ini. Karena pertanyaan yang terdiri dari 7 kata itu, jawabannya bisa satu buku textbook sendiri. Dan waktu konsultasi yang cuma 10 – 15 menit kadang kurang dan belum tentu bisa memenuhi keingintahuan orangtua kenapa anaknya susah makan. Ekspektasi orangtua biasanya cuma satu, ”Dok, kasih vitamin yang paling bagus ya, supaya nafsu makannya ada.” Duh, dokternya tambah puyeng kalau begini. Diberikan kok sepertinya juga tidak sepenuhnya benar, tidak diberi orangtuanya kecewa. Kesimpulannya, ya tetap harus ada penjelasan kepada orangtua. Anak susah makan bukan vitamin jawabannya, Bunda. Banyaaaaak sekali penyebab mengapa anak susah makan dan berat badannya tidak naik, sehingga yang perlu kita cari tahu adalah akar permasalahannya.

Kadang keluhan orangtua ini tidak cocok dengan kondisi status gizi anaknya. Bundanya mengeluh anaknya sulit makan, tetapi status gizi anaknya baik. Usut diusut ternyata si anak bukan susah makan, tapi dia terlalu banyak ngemil dan minum susu sehingga saat makan tiba, dia sudah kenyang.

Berikut saya coba membahas secara sekilas mengapa anak “susah makan”

Perkembangan ketrampilan makan anak itu sudah dimulai sejak lahir. Insting bayi baru lahir untuk “makan” sudah ada terbukti dengan kemampuannya mencari puting susu ibunya saat inisiasi menyusu dini. Ketrampilan makan ini akan berkembang pesat pada usia 6 – 9 bulan dan berlangsung terus sampai usia 3 tahun. Dengan demikian usia tersebut merupakan fase kritis untuk melatih anak makan dengan baik. Kesalahan yang terjadi pada usia ini dapat menetap bertahun-tahun lamanya dan berdampak pada status gizi anak. ASI eksklusif (ASIX) merupakan awal yang baik untuk dasar pemberian makan. Anak yang mendapat ASIX cenderung lebih mudah mentolerir pemberian makanan padat dibanding bayi yang mendapat susu formula. Memberi makan pada bayi yang baru mengenal makanan padat tentu berbeda. Judulnya saja belajar, jadi tidak harus selalu berhasil pada setiap pemberian makan. Prinsipnya hanya mengenalkan makanan padat, tidak ada target sang bayi harus menghabiskan kuantitas makanannya. Makanan utama bayi kurang dari satu tahun kan cuma susu.

Syarat mengenalkan makanan adalah satu bahan setiap kali mengenalkan jenis makanan baru selama beberapa hari (biasanya 4-5 hari). Budaya orangtua sebaliknya, mencampur seluruh isi lemari es dan memblendernya jadi satu. Alasannya supaya si anak tidak kurang gizi. Jangan takut anak kekurangan gizi, tidak akan, karena memang makanan utamanya masih susu kok. Justru karena itulah, Bunda bisa lebih leluasa mencoba-coba makanan pada si kecil di usia sampai 1 tahun ini tanpa takut kekurangan gizi. Kelebihan mencoba makanan dengan cara ini selain untuk melihat respon alergi anak, juga melatih anak mengenal semua rasa. Mulai dari sayur yang getir sampai ikan yang amis, sehingga anak tidak menjadi anak yang pilih-pilih makanan setelah lebih besar nanti.

 

Secara umum, ada tiga hal utama penyebab kesulitan makan pada anak:

  1. Faktor organik

Yaitu apabila kesulitan makan memang disebabkan karena ada kelainan baik secara anatomis maupun fisiologis dari tubuh si anak. Seperti ada infeksi akut (radang tenggorokan, flu, diare, radang lambung), infeksi kronis (umumnya tuberkulosis atau infeksi saluran kemih asimptomatis). Kelainan bawaan juga bisa menyebabkan hal ini, seperti misalnya sumbing bibir dan langit-langit mulut. Gangguan persyarafan juga sangat mempengaruhi kemampuan makan anak, seperti bila si anak memiliki kondisi lumpuh otak (cerebral palsy) atau sindrom-sindrom terkait bawaan genetik. Kelainan bawaan dari lahir seperti penyakit jantung bawaan atau laringomalasia (tulang rawan daerah saluran nafas atas belum sempurna) juga sangat berperan dalam kesulitan makan, terkait besarnya usaha yang dikeluarkan anak untuk mengisap, mengunyah atau menelan makanan. Kelainan fungsi seperti refluks lambung juga sering menyebabkan kesulitan makan. Gangguan di rongga mulut, seperti sedang tumbuh gigi, sariawan atau banyaknya gigi yang bolong juga harus dievaluasi. Biasanya bila seorang anak mengalami kesulitan makan akibat gangguan organik, maka akan terlihat pada berat badannya yang tidak ideal.

  1. Faktor psikologis

Terkadang faktor ini terabaikan oleh ibu, pengasuh atau bahkan dokternya. Kemampuan anak beradaptasi terhadap lingkungan dan sekitarnya di usia 6 bulan mulai berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada usia prasekolah. Anak mulai belajar tentang konsep diri sebagai pribadi dan terkadang sangat ingin menunjukkan pada orang lain tentang kemandiriannya dan menentang dominasi orangtua. Bentuknya dapat sebagai penolakan (negativistic) bila diberi makan. Solusi yang cukup mudah, biarkan si anak makan sendiri. Berantakan? Ah, bisa dibersihkan kok.

Gangguan cemas perpisahan pun dapat memicu kesulitan makan, karena secara psikis anak tidak merasakan kenyamanan yang biasa ia rasakan. Bunda, bayi pun bisa stres lho, manifestasinya terkadang menolak makan. Anak pun sedang gemar melakukan eksplorasi lingkungan dan akan menganggap bahwa makan sebagai ‘perusak’ kegiatan yang mengasyikan (apalagi kalau mamanya memberi makan dengan mata melotot dan tangan di pinggang ;D). Nah ini juga pentingnya membuat lingkungan dan suasana makan si anak menyenangkan. Mencari perhatian pun sering dilakukan si anak dengan menolak makan. Apalagi kalau bundanya bekerja dan setiap hari biasa makan dengan pengasuh.

  1. Faktor makanan

Poin terakhir ini juga tidak boleh dilupakan, justru kadang menjadi penyebab utama. Sekarang Bunda, coba tanya diri sendiri, apakah kalau makanan tidak enak rasanya, kita nafsu memakannya? Hhhm, pasti jawabnya tidakkan? Lha, anak juga begitu! Jadi coba lihat lagi menu makanan yang kita berikan pada si anak. Jangan-jangan anak bosan makan dengan menu yang itu-itu saja. Mengetes anak kita tidak suka makan atau memang sulit makan gampang kok, Bun. Lihat saja, kalau di ajak makan di resto fast food, tiba-tiba dia jadi doyan makan, berarti ya memang dia bosan atau kurang suka masakan bundanya. Solusinya memang Bunda harus memperkaya wacana resep masakan supaya makanan si kecil bervariasi.

Terkadang Bunda mengeluh, anaknya tidak mau makan nasi, maunya makan mie. Lho, mie-kan sumber karbohidrat juga. Kita terbiasa makan nasi karena budaya kita seperti ini. Orang Italia makanan utamanya pasta, orang Papua makanan utamanya sagu, beberapa suku di Afrika makan jagung dan umbi, sebagian besar orang Eropa dan Amerika makan roti sebagai sumber karbohidrat. Jadi tidak apa anak makan mie, selama pola makannya seimbang.

Minum susu terlalu banyak juga sering jadi biang kerok anak tidak mau makan. Minum susu berlebihan memang membuat berat badan si anak meningkat, tapi apakah gizinya seimbang? Jelas tidak! Mana seratnya? Hhmm, bisa-bisa malah si kecil datang lagi karena sembelit. Lagipula setelah satu tahun, anak cuma perlu susu sekitar 400ml per hari kok. Jadi ngga usah mendewakan susu ya, Bun? Usus orang Asia pun sebenarnya tidak didesain menjadi peminum susu seperti orang bule.

Mengemil terlalu banyak pun membuat anak tidak mau makan. Memang camilan bentuknya kecil-kecil dan imut-imut, tapi coba lihat isinya deh. Hhm, tepung, coklat, susu, kacang, keju, hitung sudah berapa kalori tuh? Banyak lho, Bun, jelas saja anaknya kenyang. Jadi upayakan memberi snack kurang lebih dua jam sebelum waktu makan ya? Mau snack yang lebih sehat lagi? Silahkan beri buah-buahan, Bunda.

 

Kira-kira seperti itu yang akan dievaluasi oleh seorang dokter pada anak dengan keluhan susah makan. Terkadang dokter pun membutuhkan beberapa pemeriksaan tambahan untuk menyingkirkan kelainan yang mungkin mendasari. Jadi vitamin bukan jawaban untuk anak yang tidak mau makan. Pemberian vitamin boleh diberikan selama ada indikasi seorang anak memang mengalami kekurangan vitamin tertentu. Semoga tulisan saya dapat memberi sedikit pencerahan terhadap Bunda yang anaknya susah makan.

 

Oleh: Rini Purwanti – PPDS IKA FKUI/RSCM

 

(Sumber: diambil dari Facebook https://web.facebook.com/notes/room-for-children/dokter-kenapa-ya-anak-saya-susah-makan/203715256325477/)

Tinggalkan Komentar